Pesantren sebagai Rumah Kedua: Nyaman, Aman, dan Penuh Kasih Sayang

Listen to this article

LAMONGAN lintasjatimnews – Pesantren idealnya tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu agama, tetapi juga rumah kedua bagi santri, yakni lingkungan pendidikan yang nyaman, aman, dan penuh kasih sayang. Pesantren harus mampu menjadi ruang bagi santri untuk belajar dengan tenang, tumbuh dengan bahagia, serta membangun karakter dan akhlak mulia.

Hal tersebut disampaikan Dr. Hj. Khotimah Suryani, M.Ag., Wakil Rektor Bidang Akademik, Kerja Sama, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Darul Ulum (Unisda) Lamongan, dalam refleksinya menyambut Hari Santri Nasional yang diperingati setiap 22 Oktober.

Menurutnya, Hari Santri Nasional bukan sekadar momentum untuk mengenang perjuangan santri dan ulama dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Peringatan ini juga menjadi kesempatan untuk memperkuat komitmen bersama dalam meningkatkan kualitas pendidikan pesantren dan menyiapkan generasi penerus bangsa.

“Pesantren bukan hanya tempat belajar Al-Qur’an, hadis, dan kitab kuning. Di dalamnya, santri juga belajar mengatur waktu, hidup sederhana, menghormati guru, menghargai sesama, menaati aturan, dan bertanggung jawab,” demikian inti pemikiran Khotimah dalam refleksinya.

Ia menjelaskan, pesantren memiliki kekuatan dalam memadukan ilmu pengetahuan, keteladanan, pembiasaan, dan pengalaman hidup. Melalui kehidupan sehari-hari, santri dididik untuk mengembangkan kemandirian, kedisiplinan, serta kepekaan sosial.

Namun, pembentukan karakter tidak cukup hanya mengandalkan aturan dan kedisiplinan. Santri juga membutuhkan lingkungan yang membuat mereka merasa diterima, dihargai, dan dilindungi.

Pesantren yang ideal, lanjutnya, bukanlah tempat yang membangun kepatuhan melalui rasa takut, melainkan lingkungan yang menumbuhkan kesadaran, kedisiplinan, dan kecintaan terhadap ilmu.

“Ketegasan pengasuh tetap diperlukan, tetapi harus disertai kebijaksanaan, keteladanan, dan kasih sayang. Aturan tidak boleh menjadi pembenaran bagi kekerasan, penghinaan, perundungan, atau tindakan yang merendahkan martabat santri. Pendidikan sejatinya membimbing dan memanusiakan, bukan melukai,” tegas Dosen Fakultas Pendidikan Agama Islam ini

Pengasuh dan Orang Tua Harus Bersinergi

Khotimah menilai, kiai, nyai, ustaz, dan ustazah mempunyai peran strategis, bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai teladan dan pendamping bagi santri.

Ketika santri menghadapi kesulitan belajar, konflik dengan teman, kerinduan kepada keluarga, atau persoalan pribadi, mereka membutuhkan ruang untuk bercerita dan mendapatkan bimbingan.

Karena itu, santri perlu merasa bahwa menyampaikan kesulitan bukanlah sebuah kesalahan, melainkan langkah untuk memperoleh pertolongan.

Komitmen melindungi santri juga harus diwujudkan melalui tindakan nyata, antara lain pengawasan yang memadai, aturan yang jelas, serta saluran pengaduan yang mudah diakses. Setiap indikasi kekerasan, perundungan, maupun pelecehan harus ditangani secara serius.

Menurutnya, menjaga nama baik pesantren bukan berarti menutupi persoalan, melainkan berani melakukan evaluasi dan perbaikan demi keselamatan santri. Keterbukaan dan kesungguhan menyelesaikan masalah justru dapat memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan pesantren.

Di sisi lain, orang tua tetap mempunyai tanggung jawab dalam mendampingi pendidikan anak. Keputusan memondokkan anak mengandung doa, harapan, pengorbanan, dan kepercayaan besar kepada pengasuh pesantren.

Kepercayaan tersebut, kata Khotimah, harus dijawab melalui pendidikan bermutu, pengasuhan yang bertanggung jawab, serta lingkungan yang nyaman dan aman.

Orang tua dapat mendukung proses pendidikan melalui motivasi, pembiasaan nilai-nilai positif, serta komunikasi yang baik dengan pengasuh.

Kepasrahan orang tua juga perlu dimaknai sebagai tawakal yang disertai ikhtiar dan tanggung jawab, bukan menyerahkan seluruh urusan pendidikan tanpa keterlibatan lebih lanjut.

Apabila anak mengalami kesulitan beradaptasi atau menyampaikan keluhan, orang tua perlu mendengarkan dengan bijaksana dan berkomunikasi dengan pengasuh untuk mencari solusi bersama.

“Pesantren dan orang tua harus menjadi mitra yang saling menguatkan, bukan pihak yang saling menyalahkan. Kepercayaan tidak berarti mengabaikan keselamatan anak,” menjadi pesan penting dalam refleksi tersebut.

Menjaga Tradisi, Menguatkan Perlindungan

Memperingati Hari Santri Nasional, Khotimah mengajak pengasuh pesantren, pendidik, orang tua, pemerintah, alumni, dan masyarakat untuk bersama-sama membangun lingkungan pendidikan yang bermutu, nyaman, dan aman.

Tradisi keilmuan serta nilai luhur warisan ulama perlu terus dirawat, seiring dengan pengembangan pola pengasuhan yang peka terhadap kebutuhan santri masa kini.

Menjaga tradisi, menurutnya, bukan berarti menolak pembaruan, melainkan memastikan nilai-nilai pesantren tetap hidup dalam praktik pendidikan yang menjunjung tinggi martabat manusia.

Keberhasilan pesantren pun tidak semata-mata diukur dari jumlah santri, kemegahan bangunan, atau prestasi akademik. Lebih dari itu, keberhasilan pesantren tercermin dalam kemampuannya melahirkan pribadi yang berilmu, berakhlak mulia, mandiri, dan bertanggung jawab, sekaligus memastikan santri tumbuh dalam lingkungan yang melindungi.

Pesantren adalah rumah kedua bagi santri: tempat ilmu ditanamkan, akhlak ditumbuhkan, dan masa depan dipersiapkan. Di dalamnya, kedisiplinan harus berjalan bersama kepedulian, ketegasan disertai kebijaksanaan, dan kepercayaan orang tua dijawab dengan tanggung jawab.

“Selamat Hari Santri Nasional. Mari menjaga pesantren, merawat kepercayaan orang tua, dan memastikan setiap santri dapat belajar dengan nyaman, tumbuh dengan aman, serta meraih masa depan dengan penuh harapan,” pungkasnya.

Reporter: Fathurrahim Syuhadi