Refleksi Hari Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara dan Kyai Ahmad Dahlan Membangkitkan Kesadaran Hidup

Listen to this article

LAMONGAN lintasjatimnews – Peringatan Hari Pendidikan Nasional setiap 2 Mei selalu menghadirkan satu nama besar dalam sejarah bangsa, yakni Ki Hajar Dewantara. Sosok pelopor pendidikan nasional ini telah menanamkan fondasi kuat tentang pentingnya pendidikan sebagai jalan memerdekakan manusia.

Namun, di balik gemerlap nama tersebut, sejarah juga mencatat peran besar seorang ulama pembaharu, Ahmad Dahlan, yang bergerak dalam senyap tetapi meninggalkan jejak yang tak kalah kokoh.

“Dalam refleksi Hari Pendidikan Nasional tahun ini, penting untuk melihat bahwa kedua tokoh ini sejatinya berjalan dalam satu garis perjuangan yang sama: membangkitkan kesadaran hidup merdeka dari praktik pembodohan dan pemiskinan yang sistematis,” ungkap dosen Sastra Film Unisda Lamongan ini

Jika Ki Hajar Dewantara dikenal dengan gagasannya tentang pendidikan sebagai proses memerdekakan manusia dan membangun kebudayaan, maka Kyai Ahmad Dahlan mempraktikkan konsep itu melalui gerakan pendidikan berbasis integrasi ilmu agama dan ilmu umum.

Dari sebuah langgar kecil di Kauman, Yogyakarta, ia memulai revolusi sunyi yang dampaknya terasa hingga hari ini.
Sebelum tahun 1912, sistem pendidikan kolonial Belanda dirancang untuk mencetak kaum priyayi yang patuh, bukan manusia merdeka.

Di sisi lain, pesantren pada masa itu cenderung fokus pada kajian kitab, dengan akses terbatas terhadap ilmu pengetahuan umum. Masyarakat pribumi berada dalam posisi dilematis: memilih sekolah Belanda berarti menjauh dari identitas keislaman, sementara bertahan di pesantren seringkali berarti tertinggal dalam ilmu dunia.

Melihat kondisi tersebut, Kyai Ahmad Dahlan mengambil langkah berani dengan mendirikan Sekolah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah pada tahun 1911. Di ruang kelas sederhana, ia mempertemukan Al-Qur’an dengan ilmu berhitung, bahasa Belanda, dan ilmu bumi. Ini bukan sekadar inovasi pendidikan, melainkan bentuk perlawanan paling halus terhadap kolonialisme: membangun manusia yang merdeka secara intelektual, tetapi tetap berakar pada iman.

Bagi Kyai Dahlan, penjajahan paling berbahaya bukanlah penjajahan atas tanah, melainkan penjajahan atas pikiran. Oleh karena itu, pendidikan harus menjadi alat pembebasan, bukan alat penjinakan.
Ia bahkan melontarkan kritik tajam kepada umat sendiri, terutama kepada para guru agama yang menutup diri terhadap ilmu pengetahuan.

Baginya, kebodohan bukan hanya kelemahan, tetapi juga ancaman. Pendidikan yang tidak utuh hanya akan melahirkan generasi yang terbelah: cerdas secara intelektual tetapi kering spiritual, atau sebaliknya, saleh secara ritual tetapi lemah dalam menghadapi realitas kehidupan.

Dari gagasan tersebut lahirlah model pendidikan integratif yang hingga kini menjadi ciri khas lembaga pendidikan Muhammadiyah. Sekolah umum diperkaya dengan nilai-nilai agama, sementara sekolah agama diperkuat dengan ilmu pengetahuan modern. Tujuannya jelas, melahirkan manusia seutuhnya—yang mampu berpikir, beriman, dan bertindak.

“Kyai Ahmad Dahlan juga menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar proyek pragmatis, melainkan amal yang harus dijalankan dengan keikhlasan dan tanggung jawab sosial. Ia berkeliling kampung, mengajak orang tua menyekolahkan anak-anak mereka agar tidak terus-menerus menjadi korban pembodohan,” ujar ketua PCM Kalitengah ini

Namun demikian, ia juga memahami pentingnya profesionalisme dalam pengelolaan pendidikan. Guru dan kepala sekolah harus dimuliakan, termasuk dengan pemenuhan kesejahteraan yang layak. Sebab, sulit mengharapkan kualitas pendidikan yang baik jika para pendidiknya masih dibebani persoalan ekonomi.

Warisan pemikiran Kyai Ahmad Dahlan dan Ki Hajar Dewantara menjadi relevan untuk direfleksikan pada momentum Hari Pendidikan Nasional hari ini. Ada beberapa pelajaran penting yang dapat diambil.

Pertama, keberanian untuk melakukan pembaruan sistem pendidikan. Kedua tokoh ini tidak anti terhadap pengaruh luar. Mereka justru mengambil hal-hal baik dari Barat, seperti sistem kelas dan kurikulum, lalu mengisinya dengan nilai-nilai kepribadian bangsa. Ini menjadi pelajaran bahwa modernisasi tidak harus berarti kehilangan jati diri.

Kedua, memuliakan guru. Dalam konteks kekinian, penghormatan terhadap guru tidak cukup dengan simbolik, tetapi harus diwujudkan dalam bentuk kesejahteraan dan kebebasan dalam mengajar.

Ketiga, pendidikan harus dekat dengan realitas sosial. Sekolah dan kampus tidak boleh menjadi menara gading yang jauh dari persoalan masyarakat. Sebaliknya, pendidikan harus hadir sebagai solusi atas problem nyata seperti kemiskinan, kebodohan, dan ketimpangan sosial.

“Sebagaimana dikatakan Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan adalah tempat persemaian benih kebudayaan, maka Kyai Ahmad Dahlan telah membuktikan bahwa pendidikan juga merupakan persemaian benih keimanan dan kemerdekaan berpikir. Keduanya tidak bertentangan, melainkan saling melengkapi dalam membangun manusia Indonesia seutuhnya,” ujar anggota Lembaga Dakwah Khusus PDM Lamongan ini.

Hari ini, pertanyaan penting yang patut kita ajukan adalah: masihkah ruh pendidikan itu hidup? Apakah pendidikan kita sudah benar-benar membebaskan, atau justru masih terjebak dalam pola-pola baru pembodohan dan pemiskinan?
Peringatan Hari Pendidikan Nasional seharusnya tidak berhenti pada seremoni. Ia harus menjadi momentum untuk menghidupkan kembali semangat para pendiri bangsa dalam menjadikan pendidikan sebagai alat pembebasan.

“Karena pada akhirnya, bangsa ini dibangun di atas dua kaki: nalar yang merdeka dan adab yang berakar. Dan dua tokoh besar, Ki Hajar Dewantara serta Kyai Ahmad Dahlan, telah meletakkan fondasi itu dengan sangat kokoh,” pungkasnya

Reporter Fathurrahim Syuhadi