Dari Pendidikan ke Pemberdayaan: Perempuan sebagai Agen Perubahan di Hari Hardiknas 2 Mei

Listen to this article

LAMONGAN lintasjatimnews – Peringatan Hari Pendidikan Nasional yang jatuh setiap 2 Mei bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum refleksi bagi seluruh elemen bangsa untuk meninjau kembali arah dan kualitas pendidikan di Indonesia. Pada tahun ini, tema “Dari Pendidikan ke Pemberdayaan : Perempuan sebagai Agen Perubahan” menjadi pengingat penting akan peran strategis perempuan dalam membangun masa depan bangsa melalui jalur pendidikan.

Menurut DR. Hj. Mu’ah, MM., M.Pd., pendidikan bagi perempuan tidak hanya dimaknai sebagai akses terhadap bangku sekolah, tetapi juga sebagai pintu masuk menuju pemberdayaan yang lebih luas.

“Perempuan yang terdidik akan memiliki peluang lebih besar untuk berkontribusi dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari keluarga hingga ruang publik,” ujar mantan Rektor ITB Ahmad Dahlan Lanongan

Sejarah panjang bangsa Indonesia telah menunjukkan bahwa perempuan memiliki kontribusi signifikan dalam pembangunan sosial. Pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan yang inklusif dan tanpa diskriminasi menjadi fondasi penting dalam memperjuangkan kesetaraan akses pendidikan. Gagasan tersebut hingga kini tetap relevan, terutama dalam mendorong perempuan agar mendapatkan hak yang sama dalam mengenyam pendidikan berkualitas.

Namun demikian, realitas di lapangan masih menunjukkan adanya berbagai tantangan yang dihadapi perempuan, khususnya di daerah-daerah tertentu. Faktor ekonomi yang terbatas, praktik pernikahan usia dini, hingga norma sosial yang membatasi ruang gerak perempuan menjadi hambatan nyata yang belum sepenuhnya teratasi. Kondisi ini menuntut perhatian serius dari berbagai pihak agar kesenjangan tersebut tidak terus berlanjut.

Di sisi lain, perkembangan teknologi digital justru menghadirkan peluang baru yang menjanjikan. Perempuan kini dapat mengakses berbagai sumber belajar secara daring, mulai dari kursus keterampilan hingga pendidikan formal berbasis digital. Transformasi ini memperkuat konsep “belajar tanpa batas” yang kini menjadi kebutuhan nyata di era modern.

“Teknologi harus dimanfaatkan sebagai alat pemberdayaan, bukan justru menjadi penghalang baru,” tambah Doktor lulusan Unair Surabaya ini

Lebih jauh, pemberdayaan perempuan melalui pendidikan memiliki dampak langsung terhadap pembangunan nasional.

Perempuan yang berpendidikan cenderung lebih mandiri secara ekonomi, memiliki kesadaran tinggi terhadap kesehatan keluarga, serta lebih aktif dalam pengambilan keputusan, baik di tingkat keluarga maupun masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa investasi pada pendidikan perempuan sejatinya adalah investasi jangka panjang bagi kemajuan bangsa.

Dalam konteks tersebut, peran pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat menjadi sangat krusial. Kebijakan yang inklusif dan berpihak pada kesetaraan gender perlu terus diperkuat.

Selain itu, kurikulum pendidikan juga harus sensitif terhadap isu-isu gender agar mampu menciptakan ruang belajar yang adil dan setara. Lingkungan sosial yang mendukung juga menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan diri perempuan untuk terus berkembang.
Tak kalah penting, keluarga sebagai lingkungan pertama pendidikan memiliki peran strategis dalam membentuk pola pikir anak perempuan. Dukungan orang tua untuk memberikan kesempatan belajar yang sama antara anak laki-laki dan perempuan menjadi fondasi awal dalam menciptakan generasi yang berdaya.

Momentum Hardiknas tahun ini, lanjut Mu’ah, harus dimaknai sebagai ajakan untuk melampaui batas-batas konvensional dalam pendidikan. Perempuan tidak lagi diposisikan hanya sebagai penerima manfaat, melainkan sebagai agen perubahan yang mampu membawa dampak luas bagi masyarakat.

Dengan semangat “Dari Pendidikan ke Pemberdayaan,” diharapkan semakin banyak perempuan Indonesia yang berani bermimpi, mengembangkan potensi, dan berkontribusi secara nyata.

“Ketika perempuan maju melalui pendidikan, maka bangsa ini pun akan bergerak menuju masa depan yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan,” pungkas Dosen LLDIKTI Wilayah VII Jatim ini

Reporter Fathurrahim Syuhadi