LAMONGAN lintasjatimnews – Peringatan Hari Kartini setiap 21 April kerap diwarnai dengan berbagai seremoni, mulai dari mengenakan kebaya hingga lomba bertema perempuan. Namun di balik kemeriahan itu, muncul pertanyaan mendasar : apakah masyarakat benar-benar memahami perjuangan Raden Ajeng Kartini, atau sekadar merayakan simbolnya?
Menurut Erniawati, M.Pd Pengajar di MTs Muhammadiyah 15 Lamongan, peringatan yang berulang setiap tahun berpotensi terjebak dalam rutinitas seremonial, sementara gagasan besar Kartini perlahan memudar dari kesadaran kolektif. Padahal, Kartini tidak memperjuangkan simbol-simbol lahiriah, melainkan hak yang lebih mendasar: hak berpikir, hak belajar, dan hak menjadi manusia seutuhnya.
“Kartini menggugat batasan sosial yang menempatkan perempuan hanya di ruang domestik. Ia menolak perempuan sekadar menjadi pelengkap,” ujar penulis antologi cerita anak
Gagasan tersebut, lanjutnya, masih sangat relevan hingga saat ini. Dalam realitas sosial modern, perempuan sering kali masih diposisikan sebagai pelengkap—hadir untuk mendukung, tetapi belum sepenuhnya diberi ruang untuk menentukan arah. Padahal, jika ditarik dari pemikiran Kartini, perempuan justru memiliki peran strategis sebagai penggerak peradaban.
Pemikiran ini tidak berhenti pada tataran konsep. Ia hidup dalam praktik nyata, salah satunya tercermin pada sosok Alimah, M.Pd, Kepala MTs 15 Muhammadiyah Lamongan. Dalam kepemimpinannya, pendidikan dimaknai lebih dari sekadar proses transfer ilmu, tetapi sebagai upaya membentuk karakter dan kesadaran sosial peserta didik.
“Perempuan seperti Bu Alimah menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan soal posisi, tetapi tentang kemampuan menggerakkan perubahan,” ungkap wanita kelahiran 1991 ini
Di lingkungan Madrasah, Alimah berperan sebagai penggerak yang membuka ruang belajar inklusif, mendorong potensi siswa, serta menanamkan nilai-nilai kemanusiaan dan keberagaman. Dari ruang yang sering dianggap sederhana, seperti kelas dan lingkungan Madrasah, lahir generasi yang lebih terbuka dan berdaya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa perempuan tidak hanya mampu memimpin, tetapi juga menjadi aktor utama dalam menentukan arah peradaban. Peran tersebut menjadi semakin penting dalam konteks masyarakat multikultural saat ini.
Perempuan, menurut Erniawati, memiliki kemampuan sebagai jembatan nilai—menghubungkan tradisi dengan modernitas, serta lokalitas dengan globalitas. Ketika perempuan diberdayakan, maka yang dibangun bukan hanya kesetaraan, tetapi juga harmoni dalam keberagaman.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa perjuangan tersebut belum sepenuhnya selesai. Ketimpangan akses pendidikan dan bias sosial terhadap peran perempuan masih menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama.
Karena itu, peringatan Hari Kartini seharusnya tidak berhenti pada simbol atau seremoni tahunan. Lebih dari itu, momentum ini harus menjadi refleksi bersama untuk memastikan bahwa nilai-nilai perjuangan Kartini benar-benar hidup dalam kehidupan sehari-hari.
“Dari Kartini kita belajar bahwa perubahan besar selalu berawal dari keberanian berpikir dan bertindak,” tegas penulis produktif ini
Sebagai penulis yang lahir di Lamongan dan aktif sebagai guru di MTs Muhammadiyah 15 Lamongan yang berada di lingkungan pesantren Al-Mizan, Erniawati juga terus menghidupkan semangat literasi melalui karya-karya tulisnya, baik berupa opini, artikel ilmiah, maupun antologi cerita anak.
Menutup pernyataannya, ia menegaskan bahwa perempuan bukan sekadar pelengkap dalam perjalanan sejarah.
“Perempuan adalah penggerak peradaban. Dari tangan dan pikirannya, masa depan ditentukan,” pungkasnya
Reporter Fathurrahim Syuhadi









