LAMONGAN lintasjatimnews – Hari Kartini adalah momentum refleksi peran perempuan dalam masa depan bangsa. Perempuan merupakan Kunci Peradaban dari Keluarga hingga Kampus
Setiap 21 April diperingati sebagai Hari Kartini dan tidak sekadar menjadi agenda seremonial tahunan, tetapi momentum refleksi mendalam tentang peran strategis perempuan dalam membangun peradaban. Hal ini disampaikan Vira Rahayu, S.Si, M.Si Dekan Fakultas Tehnik Universitas Billfath Lamongan
Menurutnya, semangat emansipasi yang diwariskan Raden Ajeng Kartini kini menemukan relevansi kuat dalam kiprah perempuan masa kini sebagai intelektual, pendidik, dan agen perubahan di berbagai lini kehidupan.
“Hari Kartini harus dimaknai sebagai pengingat bahwa perempuan memiliki peran penting dalam menentukan arah masa depan bangsa,” ujar Kandidat Doktor di Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya
Vira menegaskan bahwa perempuan masa kini adalah “Kartini zaman sekarang” yang memiliki kontribusi besar dalam mencetak generasi emas Indonesia. Peran tersebut, menurutnya, harus dimulai dari lingkungan paling mendasar, yaitu keluarga.
Di dalam keluarga, perempuan memegang peran sentral dalam menanamkan nilai-nilai kebaikan, kedisiplinan, tanggung jawab, serta kecintaan terhadap ilmu pengetahuan.
Sebagai istri, perempuan menjadi pendamping yang menguatkan dan mitra berpikir dalam pengambilan keputusan. Sementara sebagai ibu, perempuan berperan sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya.
“Ibu adalah madrasah pertama. Dari rumah, karakter dan semangat belajar anak dibentuk sejak dini,” tegas perempuan yang tinggal di Kecamatan Babat ini
Ia menambahkan bahwa perubahan besar tidak lahir secara instan, melainkan berawal dari langkah-langkah kecil di lingkungan keluarga. Keluarga yang kuat akan melahirkan individu yang tangguh, yang kemudian berkontribusi positif bagi masyarakat.
Lebih jauh, Vira menilai bahwa perempuan memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan yang mampu menularkan nilai-nilai positif di lingkungan sekitarnya. Dari peran tersebut, akan terbentuk budaya kebaikan yang meluas dan berkelanjutan.
Dalam konteks akademik, ia menyoroti peran dosen perempuan sebagai implementasi nyata nilai-nilai perjuangan Kartini. Melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi—pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat—perempuan akademisi tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga membentuk generasi yang kritis, beretika, dan berdaya saing.
“Dosen perempuan memiliki peran penting dalam membangun generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter yang kuat,” jelas dosen yang sangat akrab dengan mahasiswinya ini
Pengabdian kepada masyarakat, lanjutnya, menjadi bentuk nyata kontribusi perempuan dalam meningkatkan kualitas kehidupan sosial, khususnya di bidang pendidikan. Dengan pendekatan yang humanis dan kolaboratif, perempuan mampu menghadirkan solusi yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Vira menegaskan bahwa Kartini masa kini adalah perempuan yang mampu memulai perubahan dari dirinya sendiri, keluarganya, hingga lingkungan yang lebih luas. Dengan semangat keikhlasan dan kebersamaan, perempuan Indonesia diyakini mampu tumbuh dan berkembang secara kolektif.
“Perempuan hari ini harus berani melangkah, memberi manfaat, dan menjadi bagian dari solusi,” ungkap mantan Wakil Rektor III Universitas Billfath ini
Ia pun optimistis bahwa dengan peran aktif perempuan di berbagai sektor, cita-cita menghadirkan generasi emas Indonesia bukanlah hal yang mustahil.
“Dengan pendidikan, karakter, dan semangat kebersamaan, perempuan Indonesia dapat mewujudkan generasi yang cerdas, berkarakter, dan berdaya saing global,” pungkasnya.
Reporter Fathurrahim Syuhadi









