Belajar dari Spirit Kartini dan Nyai Walidah,Meneguhkan Pendidikan Muhammadiyah Unggul Berkemajuan

Listen to this article

LAMONGAN lintasjatimnews – Pendidikan Muhammadiyah dituntut untuk terus beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan akar nilai keislaman dan kemanusiaan. Hal ini mengemuka dalam refleksi Hari Kartini yang dikaitkan dengan keteladanan Nyai Walidah Ahmad Dahlan sebagai penggerak pendidikan perempuan dalam sejarah Muhammadiyah.

Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Muhammadiyah Lamongan, M. Sa’id, S.Pd., M.Pd, menegaskan bahwa spirit Kartini dan Nyai Walidah harus menjadi fondasi penguatan pendidikan Muhammadiyah yang unggul dan berkemajuan.

“Kalau kita bicara pendidikan Muhammadiyah hari ini, maka tidak cukup hanya berjalan secara administratif. Kita harus bergerak dengan kesadaran ideologis. Kartini mengajarkan keberanian berpikir, Nyai Walidah mengajarkan keberanian beramal. Dua-duanya harus hidup dalam sistem pendidikan kita,” tegas M. Sa’id.

Menurutnya, Kartini bukan sekadar simbol emansipasi perempuan, tetapi representasi kekuatan intelektual yang menyadari bahwa pendidikan adalah jalan utama pembebasan manusia dari keterbelakangan. Sementara Nyai Walidah Ahmad Dahlan hadir sebagai bukti nyata bahwa gagasan besar harus diwujudkan dalam lembaga pendidikan yang sistematis dan berkelanjutan.

“Kalau Kartini menulis untuk menggugah kesadaran, maka Nyai Walidah membangun untuk memastikan kesadaran itu menjadi gerakan. Di titik inilah Muhammadiyah harus mengambil peran : menggabungkan pikiran besar dan amal nyata,” tambahnya.

Dalam konteks pendidikan Muhammadiyah saat ini, M. Sa’id menilai ada empat agenda strategis yang harus terus diperkuat agar semangat Kartini dan Nyai Walidah tidak berhenti sebagai romantisme sejarah.

Pertama, inklusivitas pendidikan. Menurutnya, sekolah Muhammadiyah harus tetap menjadi ruang terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa diskriminasi ekonomi maupun sosial. Pendidikan harus menjadi jalan mobilitas sosial, bukan justru memperlebar kesenjangan.

“Sekolah Muhammadiyah tidak boleh berubah menjadi menara gading. Kita harus tetap menjadi rumah bagi semua anak bangsa, terutama mereka yang memiliki semangat belajar tinggi meskipun dengan keterbatasan ekonomi,” ujar mantan Kepala SMP 4 Pangkatrejo ini

Kedua, penguatan kepemimpinan perempuan dalam dunia pendidikan. Ia menegaskan bahwa semangat Nyai Walidah harus diwujudkan dalam ruang-ruang strategis pengambilan keputusan, bukan sekadar pelengkap struktural.

“Perempuan bukan hanya pelaksana teknis. Mereka harus hadir sebagai pemimpin kebijakan. Karena perspektif perempuan itu penting untuk menghadirkan pendidikan yang lebih humanis, empatik, dan berkeadilan,” jelas pria yang pernah menjadi Ketua PD Pemuda Muhammadiyah Lamongan ini

Ketiga, transformasi digital dalam pendidikan. M. Sa’id menekankan bahwa era kecerdasan buatan menuntut lembaga pendidikan Muhammadiyah untuk tidak tertinggal dalam literasi teknologi.

“Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan pola lama. Digitalisasi pembelajaran adalah keniscayaan. Tetapi yang lebih penting, teknologi harus tetap dalam kendali nilai, bukan sebaliknya,” tegas Aktifis IPM Lamongan era 1990 sn ini

Keempat, penguatan karakter Islam berkemajuan. Ia menegaskan bahwa kecerdasan tanpa akhlak hanya akan melahirkan krisis moral baru di tengah masyarakat modern.

“Pendidikan Muhammadiyah harus tetap menjaga ruh akhlakul karimah. Inilah pembeda kita. Kita tidak hanya mencetak orang pintar, tetapi manusia yang benar dan bermanfaat,” ujar alumni Ponpes Al Khoiriyah Lamongan ini

Lebih jauh, alumni IKIP Surabaya [saat ini : Unesa] mengajak seluruh insan pendidikan Muhammadiyah untuk menjadikan momentum Hari Kartini bukan sekadar peringatan seremonial, tetapi sebagai ruang refleksi dan evaluasi gerakan pendidikan.

Lanjutnya, dengan spirit tersebut, pendidikan Muhammadiyah diharapkan terus melangkah menjadi institusi yang tidak hanya unggul dalam prestasi, tetapi juga kokoh dalam nilai, serta mampu menjawab tantangan zaman tanpa tercerabut dari akar peradaban Islam berkemajuan.

“Jangan sampai kita hanya pandai memperingati, tetapi lupa memperbaiki. Spirit Kartini dan Nyai Walidah harus menjadi energi perubahan, bukan sekadar bahan pidato tahunan,” pungkas Wakil Sekretaris Dewan Pendidikan Lamongan ini

Reporter Fathurrahim Syuhadi