Umuronah, S.ST, M.Kes : Madrasah Pertama Anak, Perempuan Harus Memiliki Kecerdasan dan Pengetahuan

Listen to this article

LAMONGAN lintasjatimnews – Gagasan emansipasi perempuan yang diperjuangkan Raden Ajeng Kartini melalui buku Habis Gelap Terbitlah Terang masih relevan hingga hari ini. Kartini mendorong perempuan untuk memperoleh pendidikan agar mampu berpikir kritis, bersuara, serta menentukan masa depan mereka sendiri. Hal itu disampaikan Umuronah, S.ST, M.Kes, Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Lamongan, Senin [20/4/2026]

Menurut Umuronah, semangat tersebut belum sepenuhnya terwujud. Berbagai persoalan yang melibatkan perempuan dan anak justru semakin kompleks. Kasus perundungan di sekolah, kekerasan antar remaja, hingga kecanduan gawai pada anak usia dini menunjukkan tren yang mengkhawatirkan.

“Banyak masalah ini berkaitan erat dengan lemahnya fondasi pendidikan dalam keluarga. Di sinilah pemikiran Kartini menjadi sangat relevan, bahwa perempuan bukan hanya sekadar setara, tetapi juga madrasah pertama bagi anak,” ujarnya

Ia menjelaskan, seorang ibu memiliki peran penting dalam membentuk karakter anak sejak dini. Nilai, etika, dan cara berinteraksi pertama kali dipelajari anak dari lingkungan keluarga. Oleh karena itu, kualitas perempuan akan sangat menentukan kualitas generasi yang dilahirkannya.

Namun demikian, Umuronah mempertanyakan kesiapan perempuan dalam menjalankan peran strategis tersebut. Ia menyoroti fenomena penggunaan gawai yang tidak terkontrol pada anak-anak.

“Saat ini kita melihat anak tumbuh dengan gawai sebagai pengasuh instan. Interaksi emosional antara ibu dan anak semakin berkurang, padahal di situlah ruang belajar utama bagi anak seharusnya terjadi,” tegas perempuan penghobi melukis ini

Selain itu, perundungan yang marak terjadi juga dipengaruhi kurangnya penanaman nilai empati sejak dini. Anak yang tidak dibekali pemahaman tentang batasan perilaku cenderung sulit mengontrol diri dalam pergaulan. Menurutnya, pendidikan karakter sejatinya tidak dimulai di sekolah, melainkan dari rumah, terutama melalui peran ibu.

Umuronah juga menekankan bahwa perempuan perlu memiliki kecerdasan dan pengetahuan yang memadai. Hal ini bukan semata untuk mengejar karier atau status sosial, tetapi lebih jauh untuk menjalankan peran sebagai pendidik utama dalam keluarga.

“Perempuan yang berpendidikan mampu memahami perkembangan anak, menyaring informasi, dan mengambil keputusan yang tepat dalam pengasuhan. Ia tidak hanya mengasuh, tetapi juga mendidik dengan kualitas yang lebih baik,” ungkap mantan Kepala DP3A Kabupaten Lamongan ini

Ia juga menambahkan bahwa mencerdaskan perempuan merupakan investasi jangka panjang bagi bangsa. Keluarga, masyarakat, dan negara memiliki tanggung jawab untuk memberikan akses pendidikan yang adil bagi perempuan.

“Masyarakat harus menghapus stigma yang membatasi perempuan. Negara juga wajib memastikan pendidikan dapat diakses oleh semua. Dari perempuan yang cerdas dan berpendidikan, akan lahir generasi yang tidak hanya pintar, tetapi juga berkarakter,” jelas Umuronah ini

Pada akhirnya, Umuronah menegaskan bahwa solusi berbagai persoalan anak saat ini kembali pada peran keluarga. Di dalamnya, perempuan memegang posisi kunci sebagai madrasah pertama.

“Ketika perempuan cerdas, ia tidak hanya membangun dirinya sendiri, tetapi juga membangun peradaban bangsa,” pungkasnya.

Reporter: Fathurrahim Syuhadi