Pendidikan Bersih : Keberkahan Guru Lahir dari Hati yang Suci

Listen to this article

SURABAYA lintasjatimnews – Menjadi guru adalah amanah yang luhur. Kita bukan hanya pengajar ilmu, tetapi penjaga akhlak dan penanam nilai kehidupan.

Murid-murid kita—baik yang masih anak-anak, remaja, maupun yang telah dewasa—datang kepada kita membawa kepercayaan, harapan, dan masa depan. Karena itulah, pendidikan harus dijalankan dengan cara yang bersih, aman, dan penuh keberkahan.

Dalam Islam, menjaga batasan pergaulan antara laki-laki dan perempuan adalah prinsip yang jelas. Allah Swt berfirman “Katakanlah kepada orang-orang mukmin agar mereka menundukkan pandangannya dan menjaga kemaluannya.” (QS. An-Nur: 30)

Ayat ini bukan sekadar aturan personal, tetapi juga fondasi etika dalam dunia pendidikan. Guru—sebagai teladan—harus menjaga diri dari sentuhan fisik atau bentuk kedekatan yang melampaui batas, terutama kepada murid lawan jenis yang bukan mahram.

Niat boleh jadi baik, namun syariat mengajarkan bahwa kebaikan harus ditempuh dengan cara yang benar.

Rasulullah Saw bersabda “Sesungguhnya lebih baik kepala seseorang ditusuk dengan jarum dari besi daripada ia menyentuh perempuan yang tidak halal baginya.” (HR. Thabrani)

Hadis ini memberi pesan yang tegas namun penuh hikmah : Islam menutup pintu-pintu yang berpotensi merusak kehormatan, agar keberkahan tetap terjaga. Guru yang menjaga batas bukan berarti kering kasih sayang, justru itulah bentuk kasih sayang yang paling bertanggung jawab.

Lalu, bagaimana cara guru menyalurkan cinta dan keberkahan kepada murid ? Jawabannya sangat indah dan sederhana : dengan doa, ilmu, dan ketulusan.

Mendoakan murid-murid kita dalam diam, memberi mereka makan di kelas dengan niat sedekah, mengajak mengaji bersama, membaca doa dan dzikir secara berjamaah, membimbing hafalan Al-Qur’an atau doa-doa harian—semua itu adalah bentuk sentuhan ruhani yang jauh lebih kuat daripada sentuhan fisik.

Imam Al-Ghazali berkata “Ilmu tidak akan masuk ke hati yang kotor, sebagaimana cahaya tidak akan masuk ke tempat yang gelap.”

Mutiara hikmah ini mengingatkan bahwa keberkahan pendidikan lahir dari hati guru yang bersih. Guru yang hatinya suci, niatnya lurus, dan pikirannya jernih akan memancarkan wibawa dan keteladanan. Tanpa perlu mendekat secara fisik, murid akan merasa aman, dihargai, dan dicintai.

Normalisasikan pendidikan yang bersih. Jadikan ruang kelas sebagai tempat aman—bukan hanya aman dari kekerasan, tetapi juga aman dari prasangka, godaan, dan pikiran yang tidak pantas. Jadilah guru yang kehadirannya menenangkan, bukan mencemaskan.

Mari kita luruskan kembali niat kita. Menjadi guru bukan tentang seberapa dekat secara fisik dengan murid, tetapi seberapa dalam doa kita untuk mereka. Dari hati yang suci, lahirlah keberkahan. Dari pendidikan yang bersih, tumbuhlah generasi yang bermartabat.

Semoga Allah menjaga niat kita, membersihkan hati kita, dan menjadikan setiap langkah kita sebagai guru bernilai ibadah. Aamiin.

Penulis Fathurrahim Syuhadi