Terus Melangkah di Jalan Kebaikan, Meski Diuji oleh Komentar

Listen to this article

SURABAYA lintasjatimnews – Dalam kehidupan, hampir tidak ada satu pun langkah kebaikan yang benar-benar sunyi dari komentar. Setiap niat baik yang diwujudkan dalam tindakan, setiap gerakan yang diniatkan untuk memberi manfaat, hampir selalu diiringi suara-suara di sekeliling kita.

Ada yang memberi dukungan, ada pula yang melontarkan kritik, sindiran, bahkan penilaian yang terasa melemahkan. Fenomena ini sesungguhnya adalah fitrah manusia. Selama kita hidup di tengah masyarakat, selama itu pula komentar akan selalu menyertai langkah.

Kritik pada dasarnya tidak selalu salah. Ia bisa menjadi cermin untuk memperbaiki diri, pengingat agar kita tetap rendah hati, dan penyeimbang agar tidak terjerumus pada kesombongan.

Namun yang perlu dijaga adalah bagaimana kita menyikapi kritik tersebut. Jangan sampai komentar orang lain justru menjadi alasan untuk berhenti berbuat baik. Jangan pula kritik menjadikan langkah yang telah diniatkan lurus akhirnya terhenti di tengah jalan.

Allah Swt telah mengingatkan bahwa jalan kebaikan memang menuntut kesabaran dan keteguhan. Dalam Al-Qur’an disebutkan:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. Ali Imran: 200).

Ayat ini menegaskan bahwa kesabaran bukan hanya bertahan, tetapi juga menguatkan diri, bersiap menghadapi rintangan, dan tetap berada dalam bingkai takwa. Artinya, komentar dan kritik adalah bagian dari ujian yang harus dilewati, bukan penghalang yang membuat kita berhenti.

Rasulullah Swt pun telah memberi teladan luar biasa. Beliau adalah manusia paling mulia, namun juga yang paling banyak menerima celaan dan penolakan.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu baik baginya.” (HR. Muslim).

Kritik, komentar, dan penilaian orang lain sejatinya dapat menjadi ladang pahala jika disikapi dengan sabar dan keikhlasan.

Buya Hamka, ulama dan cendekiawan besar bangsa ini, pernah mengingatkan dengan bijak “Jalan hidup yang lurus tidak pernah sepi dari batu sandungan. Tetapi orang yang berjalan karena keyakinan tidak akan berhenti hanya karena terluka.”

Mutiara hikmah ini mengajarkan bahwa ukuran kebenaran langkah bukanlah ramainya pujian, melainkan kokohnya niat dan keyakinan.
Karena itu, teruskanlah langkah kebaikan yang telah diambil.

Terimalah kritik sebagai bahan perenungan, bukan sebagai palu pemukul semangat. Lakukan semuanya dengan ikhlas, sebab kebaikan yang ditujukan karena Allah tidak pernah sia-sia.

Biarkan orang berbicara, tetapi jangan biarkan langkah berhenti. Sebab sering kali, keberhasilan sejati justru lahir dari keteguhan mereka yang tetap berjalan, meski diuji oleh banyak suara di sepanjang jalan.

Reporter Fathurrahim Syuhadi