Yuli Widdiyati dan Ikhtiar Menghidupkan Matematika di Era Digital

Listen to this article

LAMONGAN lintasjatimnews – Matematika kerap dianggap sebagai pelajaran yang kaku, penuh angka, dan jauh dari kehidupan sehari-hari. Namun di tangan pendidik yang tepat, matematika justru dapat menjadi ruang berpikir yang hidup, kontekstual, dan bermakna.

Inilah yang selama ini diikhtiarkan oleh Yuli Widdiyati, S.Pd., M.Pd., seorang guru dan penulis yang konsisten memperjuangkan pembelajaran matematika yang relevan dengan tuntutan zaman.

Yuli Widdiyati lahir di Lamongan, 23 Juli 1976. Latar belakang akademiknya dibangun dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Negeri di Jember, jurusan Pendidikan Matematika. Pendidikan formal tersebut menjadi fondasi kuat dalam perjalanan panjangnya sebagai pendidik matematika di jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sejak awal, ia meyakini bahwa matematika bukan sekadar hafalan rumus, melainkan sarana melatih nalar, logika, dan karakter berpikir peserta didik.

Perjalanan profesional Yuli tidak berhenti pada tugas mengajar di kelas. Ia aktif mengembangkan kapasitas diri dan berkontribusi lebih luas dalam dunia pendidikan. Perannya sebagai Guru Penggerak, Pengajar Praktik, Fasilitator Guru Penggerak, serta Fasilitator Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) menempatkannya sebagai pendamping dan penguat bagi guru-guru lain dalam menerapkan pembelajaran bermakna. Dalam berbagai peran tersebut, Yuli dikenal sebagai sosok yang mendorong guru untuk berani berefleksi, berinovasi, dan memusatkan pembelajaran pada kebutuhan peserta didik.

Saat ini, Yuli Widdiyati mengemban amanah sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum di SMP Negeri 1 Lamongan. Tugas ini dijalaninya dengan fokus pada pengembangan kurikulum yang adaptif, perencanaan pembelajaran yang berpihak pada murid, serta penguatan budaya refleksi dan inovasi di lingkungan sekolah. Baginya, kurikulum bukan dokumen mati, tetapi peta hidup yang harus terus disesuaikan dengan dinamika peserta didik dan perkembangan zaman.

Komitmen Yuli terhadap pengembangan profesional guru juga tampak melalui keterlibatannya sebagai pengurus MGMP Matematika SMP Kabupaten Lamongan. Di ruang kolaborasi ini, ia berperan aktif dalam mendorong berbagi praktik baik, peningkatan kompetensi, dan penguatan jejaring guru matematika. Ia percaya bahwa kualitas pendidikan hanya dapat ditingkatkan melalui kerja bersama dan pembelajaran yang berkelanjutan.

Di luar sekolah, Yuli Widdiyati juga aktif dalam organisasi kemasyarakatan. Ia terlibat di Muhammadiyah sebagai anggota Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) PDM Lamongan, serta di Aisyiyah sebagai Wakil Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah Lamongan. Keterlibatan ini memperluas kontribusinya dalam pengembangan pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat, khususnya pada pendidikan dasar dan menengah yang berakar pada nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan.

Beragam pengalaman sebagai pendidik, pemimpin sekolah, fasilitator pengembangan guru, dan aktivis pendidikan inilah yang kemudian dituangkan Yuli dalam karya tulisnya. Melalui buku Math Goes Digital: Membangun Pembelajaran dengan Pendekatan Deep Learning di Kelas Matematika SMP, ia menawarkan perspektif dan praktik pembelajaran matematika yang adaptif terhadap era digital. Buku ini menegaskan bahwa pendekatan Deep Learning bukan sekadar istilah, tetapi sebuah upaya menghadirkan pembelajaran yang bermakna, kontekstual, dan relevan dengan kehidupan peserta didik.

Bagi Yuli Widdiyati, menulis adalah bagian dari tanggung jawab moral seorang guru: berbagi praktik baik, menyalakan inspirasi, dan ikut menyiapkan generasi yang mampu berpikir kritis di tengah perubahan zaman. Melalui Math Goes Digital, ia mengajak guru matematika untuk tidak takut berinovasi, memanfaatkan teknologi secara bijak, dan tetap menempatkan peserta didik sebagai pusat pembelajaran.

“Matematika akan bermakna ketika peserta didik diajak berpikir, bukan sekadar menghitung. Melalui pendekatan deep learning dan pemanfaatan teknologi, guru dapat menghadirkan pembelajaran matematika yang hidup, kontekstual, dan relevan dengan tantangan zaman,” pungkas Yuli Widdiyati, S.Pd., M.Pd.

Reporter Fathurrahim Syuhadi