MALANG lintasjatimnes – Menempuh studi doktoral bukanlah perjalanan yang riuh dan penuh sorak. Ia lebih sering hadir sebagai ikhtiar panjang yang sunyi, penuh kesabaran, dan menuntut keteguhan batin.
Hal itulah yang dirasakan Dr. Maftuhah, M.Pd., Dosen STIT Muhammadiyah Paciran, saat menyelesaikan studi S3 di Universitas Muhammadiyah Malang, Rabu (4/2/2026).
Baginya, perjalanan akademik hingga meraih gelar doktor bukan sekadar capaian intelektual, melainkan proses pendewasaan diri yang mendalam.
“Menjalani studi doktoral itu seperti menaiki anak-anak tangga sunyi satu per satu. Tidak selalu terlihat orang lain, tidak selalu dirayakan, tetapi setiap langkah menuntut kesungguhan dan kejujuran pada diri sendiri,” ungkap Dr. Maftuhah saat merefleksikan perjalanannya kuliyahnya
Ia mengakui, tidak ada persiapan yang benar-benar mampu menggambarkan kesunyian studi doktoral. Di balik ruang kelas, seminar, dan sidang akademik yang tampak formal, tersimpan malam-malam panjang bersama tumpukan referensi, revisi yang berulang, serta pergulatan batin yang kerap menguji rasa percaya diri. Namun justru di ruang sunyi itulah, makna pendidikan tinggi menemukan bentuknya yang paling hakiki.
“Pada titik tertentu, saya menyadari bahwa pendidikan doktoral bukan ajang pembuktian siapa yang paling pintar, tetapi proses pendewasaan intelektual. Kita belajar menerima kritik, merelakan gagasan runtuh, lalu membangunnya kembali dengan dasar yang lebih kuat,” tutur Wakil Ketua STIT Muhammadiyah Paciran ini
Menurut Dr. Maftuhah, UMM (Universitas Muhammadiyah Malang) menjadi ruang pembelajaran yang menanamkan nilai ketekunan dan kerendahan hati. Setiap diskusi akademik mengajarkan bahwa ilmu tidak lahir dari kecepatan, melainkan dari kesabaran dan konsistensi.
Peran dosen pembimbing pun sangat menentukan dalam proses tersebut. Mereka tidak sekadar memberi arahan teknis, tetapi menempa karakter akademik mahasiswa.
“Pembimbing mengajarkan bahwa membimbing bukan tentang memanjakan. Ada kalanya nasihat disampaikan dengan tegas, ada kalanya lewat diam yang mengajak kita merenung. Dari situ saya belajar bertanggung jawab penuh terhadap ilmu yang saya bangun,” ujar ibu satu putra ini
Dalam perjalanan panjang itu, kelelahan menjadi teman yang tak terpisahkan. Ada masa ketika menulis terasa amat berat, bahkan satu paragraf pun terasa seperti mendaki bukit terjal.
Namun, bagi Dr. Maftuhah, lelah justru menjadi penanda bahwa jalan yang ditempuh bukan jalan biasa. Ilmu, menurutnya, memang menuntut kejujuran, dan kejujuran sering kali terasa tidak nyaman.
Kini, setelah berhasil menyelesaikan studi doktoral, gelar doktor tidak dipandangnya sebagai puncak untuk bertepuk tangan. “Gelar doktor hanyalah penanda administratif. Yang jauh lebih penting adalah amanah ilmu itu sendiri, bagaimana ilmu kembali ke masyarakat dan memberi manfaat nyata,” tegas dosen yang mendapatkan beasiswa LPPD Pemprof Jatim ini.
UMM, baginya, telah menanamkan kesadaran bahwa pendidikan tinggi tidak berdiri di menara gading. Ilmu harus berpijak pada nilai, etika, dan keberpihakan pada kemanusiaan. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar pula tanggung jawab moral yang dipikul.
Perjalanan dari anak tangga sunyi menuju puncak ilmu ini menjadi bukti bahwa ketekunan selalu menemukan jalannya. Pendidikan adalah ikhtiar panjang untuk memahami diri, memahami dunia, dan mengambil peran dengan penuh kesadaran.
Dari UMM, Dr. Maftuhah belajar bahwa puncak ilmu bukan tempat berdiam, melainkan titik untuk kembali turun, membawa cahaya ilmu agar tetap hidup dan mengalir bagi sesama
Reporter Fathurrahim Syuhadi









