LAMONGAN lintasjatimnews – Sering terdengar dan terbaca di berbagai ruang percakapan, baik di dunia nyata maupun media sosial, bahwa pendidikan adalah kunci kesuksesan hidup. Namun, realitas yang kita saksikan hari ini kerap menampilkan wajah yang berbeda.
Banyak orang berpendidikan tinggi, bergelar sarjana bahkan magister, tetapi belum juga mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Ironis sekali
Di sisi lain, tak sedikit pula figur viral yang tanpa pendidikan formal tinggi justru mampu menghasilkan cuan besar dan hidup berkecukupan. Fenomena inilah yang kemudian menggiring opini publik: benarkah pendidikan tidak menjamin kesuksesan?
Pandangan semacam ini kian menguat seiring derasnya konten media sosial yang menampilkan kesuksesan instan. Akibatnya, pendidikan sering dipersempit maknanya seolah hanya sebatas “kertas sakti” bernama ijazah.
Jika ijazah tak langsung menghadirkan pekerjaan atau kekayaan, maka pendidikan dianggap gagal. Padahal, cara pandang tersebut sesungguhnya menyederhanakan hakikat pendidikan itu sendiri.
Ketua STIT Muhammadiyah Paciran, Idzi’ Layyinnati, M.Pd, menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh dipahami sebatas selembar kertas atau deretan angka nilai di rapor. “Pendidikan bukanlah jimat yang otomatis menghadirkan kesuksesan. Ia adalah proses panjang pembentukan cara berpikir, cara bersikap, dan cara memaknai kehidupan,” ungkapnya.
Lebih jauh, Idzi’ Layyinnati menjelaskan bahwa tujuan utama pendidikan adalah perubahan pola pikir. Pendidikan melatih seseorang untuk mengamati realitas secara lebih jernih, menganalisis persoalan dari berbagai sudut pandang, serta mengambil keputusan dengan pertimbangan yang matang. Proses inilah yang membentuk daya kritis dan kreativitas manusia.
“Orang terdidik bukan berarti orang yang paling banyak hafalan atau nilai tertinggi, tetapi mereka yang mampu berpikir kritis, kreatif, dan solutif ketika menghadapi persoalan hidup,” ujar Magister Pendidikan dari Unesa ini
Dalam konteks ini, pendidikan sejatinya membekali individu dengan kemampuan bertahan (survive) dalam dinamika kehidupan. Ketika menghadapi masalah ekonomi, sosial, maupun tantangan zaman, seseorang yang terdidik memiliki modal berpikir untuk mencari solusi, beradaptasi, dan bahkan menciptakan peluang baru.
“Pendidikan mendorong lahirnya inovasi, bukan sekadar menunggu kepastian,” tegas wanita kelahiran Lamongan 1990 ini
Memang benar, pendidikan tidak menjamin kesuksesan seseorang secara instan. Tidak ada rumus pasti bahwa lulusan pendidikan tinggi pasti sukses, dan sebaliknya yang tidak berpendidikan pasti gagal.
Namun demikian, pendidikan memberikan fondasi kuat agar manusia mampu mengembangkan potensinya secara maksimal. Ia menumbuhkan kesadaran bahwa hidup bukan hanya soal hasil, tetapi juga proses dan nilai.
Pada akhirnya, pendidikan bukanlah kertas sakti yang bekerja secara ajaib. Ia adalah proses pemanusiaan manusia. Dalam dunia yang terus berubah, merekalah yang mampu berpikir, belajar, dan beradaptasi yang akan tetap berdaya.
“Sebab, siapa yang mampu bertahan dan terus berkembang, di sanalah letak makna kesuksesan yang sesungguhnya,” pungkas Kandidat Doktor ini
Reporter Fathurrahim Syuhadi








