LAMONGAN lintasjatimnews – Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Muhammadiyah (STITM) Paciran melalui kegiatan Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) menyapa siswa Madrasah Aliyah Muhammadiyah (MAM) 4 Sedayulawas, Brondong, Selasa (4/2/2026)
Kegiatan “menjemput mahasiswa” ini dipimpin oleh dosen STITM Paciran, Maftuhah, M.Pd, didampingi tiga mahasiswa aktif, Yunita, Milka, dan Neni. Bukan sekadar agenda sosialisasi, kegiatan ini menjadi ruang dialog inspiratif antara kampus dan generasi muda desa yang tengah berdiri di persimpangan pilihan hidup.
“Kuliah itu bukan hanya soal gelar akademik, tetapi proses memanusiakan manusia—melatih cara berpikir, membangun etika, dan menumbuhkan kepedulian sosial,” ujar Maftuhah, M.Pd di hadapan para siswa.
Ia menegaskan bahwa pendidikan tinggi seharusnya menjadi sarana pembebasan, bukan beban yang menakutkan.
Suasana kelas berlangsung cair dan akrab. Tidak ada jarak yang mengintimidasi antara pemateri dan siswa. Cerita-cerita perjuangan menjadi bahasa utama.
Yunita, Milka, dan Neni hadir membawa kesaksian personal tentang perjalanan mereka sebagai mahasiswa dari latar belakang keluarga sederhana.
“Kami juga pernah berada di posisi adik-adik semua, ragu antara bekerja atau kuliah, bingung soal biaya, dan takut tidak mampu bertahan,” ungkap Yunita.
Menurutnya, keberanian mengambil langkah pertama adalah kunci untuk membuka jalan masa depan.
Hal senada disampaikan Milka yang menekankan pentingnya dukungan lingkungan. “Ketika kampus mau hadir langsung seperti ini, kami merasa tidak sendirian. Ada yang mendampingi dan percaya bahwa kami bisa,” katanya.
Bagi STITM Paciran, kegiatan ini merupakan wujud komitmen sebagai kampus yang tumbuh bersama masyarakat. Pendidikan tinggi diposisikan bukan semata alat mobilitas sosial, melainkan jalan pengabdian yang berakar pada nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.
Di tengah persepsi bahwa kuliah itu mahal dan jauh dari jangkauan desa, langkah “menjemput” mahasiswa menjadi simbol perlawanan terhadap ketimpangan akses pendidikan. Kampus tidak menunggu, tetapi mendatangi, menyapa, dan memahami realitas sosial calon mahasiswanya.
Sedayulawas hari itu menjadi saksi bahwa masa depan dapat dimulai dari keberanian kecil : mendengarkan, bertanya, dan percaya pada diri sendiri.
“Melalui langkah-langkah sederhana namun bermakna, STITM Paciran menegaskan bahwa setiap anak berhak bermimpi dan dibantu untuk mewujudkam impiannya,” pungkas Maftuhah MPd
Reporter Fathurrahim Syuhadi








