Berlemah Lembut dalam Mengajak Kebaikan : Jalan Akhlak Menuju Surga

Listen to this article

SURABAYA lintasjatimnews – Dalam perjalanan hidup seorang mukmin, ilmu adalah cahaya, namun akhlak adalah arah. Tidaklah cukup seseorang disebut baik hanya karena keluasan ilmunya, bila ilmu itu tidak melahirkan kelembutan, kasih sayang, dan kemuliaan sikap.

Terlebih dalam mengajak kepada kebaikan, kelembutan bukanlah pilihan, melainkan kebutuhan. Dakwah yang keras sering melukai, sedangkan dakwah yang lembut menumbuhkan.

Allah Swt. menegaskan pentingnya kelembutan dalam menyeru manusia kepada kebenaran. Bahkan kepada Nabi Musa dan Harun ketika diperintah mendakwahi Fir’aun,

Allah berfirman
“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Thaha: 44)

Ayat ini menjadi pelajaran besar bahwa kelembutan bukanlah tanda kelemahan, melainkan kekuatan yang mampu mengetuk hati paling keras sekalipun. Jika kepada Fir’aun saja Allah memerintahkan kelembutan, apalagi kepada sesama muslim dan manusia pada umumnya.

Rasulullah Saw adalah teladan puncak dalam hal akhlak. Beliau tidak hanya menyampaikan kebenaran, tetapi juga menghadirkannya dengan kasih sayang.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah Saw bersabda “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (HR. Ahmad)

Hadis ini menegaskan bahwa inti risalah Islam bukan semata-mata hukum dan ritual, melainkan pembentukan akhlak mulia. Ilmu yang tidak membuahkan akhlak sejatinya belum menyentuh ruh keimanan.

Sejarah umat Islam dipenuhi kisah-kisah indah tentang bagaimana akhlak mulia mengantarkan seseorang pada hidayah dan surga Allah.

Banyak hati yang luluh bukan karena argumen yang tajam, tetapi karena sikap yang santun, tutur kata yang menenangkan, dan keteladanan yang konsisten. Akhlak menjadi bahasa universal yang dipahami semua orang.

Buya Hamka pernah berpesan, “Akhlak itu bukan sekadar perhiasan hidup, tetapi ia adalah jiwa dari iman. Ilmu tanpa akhlak akan menjadikan manusia sombong, sedangkan akhlak tanpa ilmu masih lebih dekat kepada keselamatan.”

Nasihat ini mengingatkan kita bahwa kemuliaan seseorang di sisi Allah tidak diukur dari seberapa banyak yang ia ketahui, melainkan seberapa besar manfaat dan keteduhan yang ia tebarkan.

Rasulullah Saw juga menggambarkan mukmin sebagai pribadi yang selalu memberi manfaat. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa seorang mukmin ibarat pohon kurma; apa pun darinya bermanfaat.

Jika hatinya baik, maka baik pula perkataan dan perbuatannya. Kelembutan hati akan melahirkan belas kasih kepada sesama makhluk Allah.

Rasulullah Saw bersabda
“Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Yang Maha Penyayang. Sayangilah yang ada di bumi, niscaya kalian akan disayangi oleh yang ada di langit.”
(HR. Tirmidzi)

Di mana pun kita berada—dalam dakwah, bermuamalah, maupun menjalankan syariat—akhlak mulia adalah penopang utama. Ketika hati lembut dan penuh kasih, hidup akan senantiasa berada dalam kebaikan.

Sebab dari hati yang baik, lahir sikap yang menenangkan, dan dari akhlak yang mulia, terbuka jalan menuju cinta Allah dan surga-Nya.

Penulis Fathurrahim Syuhadi