Guru di Era Digital : Menjaga Akhlak di Tengah Teknologi

Listen to this article

LAMONGAN lintasjatimnews – Perkembangan teknologi digital telah mengubah wajah pendidikan secara drastis. Ruang kelas tidak lagi terbatas oleh dinding sekolah : informasi mengalir cepat melalui gawai dan media sosial. Di satu sisi, teknologi menghadirkan kemudahan dan peluang besar bagi guru untuk berinovasi dalam pembelajaran.

Namun di sisi lain, era digital juga membawa tantangan serius, terutama dalam menjaga akhlak dan nilai moral peserta didik. Di sinilah peran guru menjadi semakin penting, bukan hanya sebagai pengajar ilmu, tetapi sebagai penjaga akhlak di tengah derasnya arus teknologi.

Islam menempatkan akhlak sebagai fondasi utama kehidupan. Rasulullah Saw bersabda “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad). Hadis ini menegaskan bahwa tujuan utama risalah Islam adalah pembentukan karakter.

Guru sebagai pewaris tugas kenabian memiliki tanggung jawab besar untuk melanjutkan misi ini, termasuk dalam konteks pendidikan digital yang sarat distraksi.

Allah Subhanahu wa Ta‘ala juga mengingatkan agar manusia menggunakan nikmat ilmu dan teknologi secara bertanggung jawab. “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra’: 36).

Ayat ini relevan dengan era digital, ketika informasi mudah diakses tetapi tidak selalu benar atau bermoral. Guru dituntut untuk membimbing murid agar cerdas memilah informasi sekaligus berakhlak dalam penggunaannya.

Di tengah teknologi yang canggih, guru harus menjadi teladan dalam etika digital. Cara guru berkomunikasi di media sosial, menyikapi perbedaan pendapat, dan menggunakan teknologi dalam pembelajaran akan ditiru oleh murid.

Prinsip digugu lan ditiru tetap relevan, bahkan semakin kuat maknanya di era digital. Keteladanan guru menjadi pagar moral bagi generasi yang tumbuh bersama layar dan jaringan internet.

Para ulama telah lama menegaskan bahwa ilmu tanpa akhlak akan membawa kerusakan. Imam Malik rahimahullah pernah berpesan: “Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu.”

Pesan ini sangat kontekstual di zaman digital, ketika ilmu dan informasi begitu mudah diakses, tetapi adab sering terabaikan. Guru memiliki peran strategis untuk menyeimbangkan antara penguasaan teknologi dan pembinaan karakter.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin juga mengingatkan bahwa tujuan pendidikan bukan sekadar mencerdaskan akal, tetapi mendekatkan manusia kepada Allah. Menurut beliau, ilmu yang tidak disertai akhlak justru dapat menjerumuskan.

Oleh karena itu, guru di era digital harus memastikan bahwa teknologi menjadi sarana kebaikan, bukan alat yang menjauhkan murid dari nilai-nilai ketakwaan.

Tantangan era digital tidak boleh membuat guru kehilangan arah. Sebaliknya, teknologi harus dimanfaatkan untuk menanamkan nilai kejujuran, tanggung jawab, dan kesantunan. Dengan bimbingan guru, murid diajak memahami bahwa kecanggihan teknologi adalah amanah yang harus dijaga.

Guru di era digital bukan hanya penghubung pengetahuan, tetapi penjaga akhlak peradaban. Ketika teknologi terus berkembang, keteladanan guru dalam menjaga akhlak akan menjadi cahaya penuntun agar kemajuan ilmu berjalan seiring dengan kemuliaan moral.

Penulis Fathurrahim Syuhadi