Santri Al Mizan Lamongan Raih Keceriaan dan Kedisiplinan Lewat Akhir Pekan Ceria HW

Listen to this article

LAMONGAN Lintasjatimnews – Riuh semangat dan tawa santri menggema di halaman Pondok Putra Panti Asuhan dan Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan, Sabtu (1/11/2025). Sejak pagi, mereka berseragam lengkap Hizbul Wathan (HW) mengikuti kegiatan Akhir Pekan Ceria (APC), ajang tahunan yang memadukan keceriaan, kompetisi, dan pembinaan karakter.

Kegiatan ini diikuti oleh seluruh santri Al Mizan, baik dari MA Muhammadiyah 9, MTs Muhammadiyah 15, maupun SMP Muhammadiyah 2 Al Mizan Lamongan. Hadir memberikan semangat Wakil Mudir Al Mizan, Suwito, M.Pd.I, para kepala sekolah satuan pendidikan Al Mizan, serta Ketua Qobilah Buya AR Sutan Mansyur, Ahsanul Arham.

Beragam lomba khas kepanduan turut meramaikan suasana, seperti PBB Variasi, Semaphore Dance, Pionering, P2HW, Estafet Sandi, Olimpiade HW, Daur Ulang, hingga Yel-Yel Kreatif. Setiap kelompok menampilkan kemampuan terbaik mereka—dari kekompakan barisan hingga kreativitas sandi dan pionering.

Dalam amanatnya, Suwito, M.Pd.I menyampaikan pesan penuh makna. Dengan gaya hangat dan motivatif, ia mengingatkan para santri agar selalu bersyukur dan menjaga semangat bahagia dalam setiap langkah kehidupan.

“Kita hidup ini tidak boleh susah terus. Harus senang, harus bahagia. Kalau belum punya rezeki, sabar itu kuncinya. Dengan sabar dan syukur, hidup akan terasa nikmat,” ujarnya disambut tawa riang para santri.

Lebih jauh, Suwito mengaitkan semangat Hizbul Wathan dengan perjuangan dakwah Rasulullah SAW dan cita-cita pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan.

“Gerakan Hizbul Wathan ini istimewa. Didirikan langsung oleh KH Ahmad Dahlan, keturunan Rasulullah SAW, pada 20 Desember 1918. Tujuannya agar para remaja Muhammadiyah memiliki iman yang kuat, mental tangguh, keterampilan, dan disiplin tinggi,” jelasnya.

Menurutnya, seluruh kegiatan HW merupakan bentuk tarbiyah imaniyah — pembinaan keimanan yang menumbuhkan akhlak, karakter, dan jati diri kader Muhammadiyah sejati.

Meneladani Panglima Besar Jenderal Sudirman

Dalam kisah yang menggugah, Suwito juga menyinggung sosok Panglima Besar Jenderal Sudirman, tokoh nasional sekaligus kader Hizbul Wathan. Ia menceritakan bagaimana Sang Jenderal mampu bertahan dari kepungan musuh karena keimanan dan kedisiplinannya.

“Banyak yang bertanya, kenapa Belanda dan Jepang tak pernah berhasil menangkap Jenderal Sudirman. Rahasianya, beliau punya tiga ‘jimat’: selalu menjaga wudhu, tepat waktu salat, dan teguh pada kebenaran,” kisahnya.

Ia menegaskan, semangat kepanduan HW bukan sekadar kegiatan baris-berbaris, tetapi latihan spiritual yang menumbuhkan spirit perjuangan dan keteguhan moral.

“Kalau ingin sukses, jangan tunda salat. Orang yang menunda salat, hidupnya pun akan ditunda keberhasilannya,” pesannya, disambut takbir para santri.

Latihan Kepemimpinan Sejak Dini

APC Hizbul Wathan di Al Mizan bukan sekadar ajang perlombaan, melainkan wadah pembinaan karakter dan kepemimpinan bagi para santri. Melalui permainan, kompetisi, dan kerja tim, para peserta belajar arti tanggung jawab, kerja sama, dan ketangguhan.

Ketua Qobilah Buya AR Sutan Mansyur, Ahsanul Arham, menuturkan bahwa kegiatan ini dirancang agar setiap santri mampu meneladani semangat fastabiqul khairat — berlomba-lomba dalam kebaikan.

“Dari Hizbul Wathan, kita belajar menjadi pribadi yang disiplin, beriman, dan mandiri. Inilah bekal utama untuk mengabdi kepada agama, bangsa, dan persyarikatan,” ujarnya.

Kegiatan ditutup dengan penampilan yel-yel penuh kreativitas dari para santri. Sorak gembira dan wajah bahagia mereka menjadi bukti bahwa keceriaan bisa menjadi jalan dakwah; membina iman, karakter, dan semangat juang kader muda Muhammadiyah.

Reporter: Alfain Jalaluddin Ramadlan