SURABAYA lintasjatimnews – Ada masa ketika seseorang berharap bisa menikmati hari tua dengan tenang, dikelilingi keluarga, mendapatkan perhatian, dan tidak lagi harus memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan hidup esok hari. Namun, harapan sederhana itu belum sepenuhnya bisa dirasakan Hadi Sunarto, seorang pria berusia 72 tahun yang kini harus menjalani masa senjanya dalam keterbatasan.
Di usianya yang semakin renta, Hadi harus berjuang menghadapi kondisi sakit stroke yang telah dialaminya selama kurang lebih delapan tahun. Tubuhnya tidak lagi memungkinkan untuk bekerja seperti orang pada umumnya. Sementara itu, istri dan anaknya telah lama meninggal dunia, membuatnya kehilangan orang-orang terdekat yang dahulu menjadi tempat berbagi kehidupan.
Kini, Hadi hidup tanpa keluarga inti yang mendampinginya. Ia tidak memiliki rumah sendiri dan harus menumpang tinggal di rumah adik iparnya di kawasan Tanah Merah IV Sawi Nomor 12, Surabaya.
Adapun alamat yang tercantum dalam KTP berada di Tanah Merah IV Sawi Nomor 15 Surabaya, yang merupakan alamat keluarga adik iparnya. Ketiadaan tempat tinggal sendiri membuat Hadi harus bergantung pada tempat tinggal keluarga untuk menjalani hari-harinya.
Selama ini, salah satu sosok yang biasa membantu memenuhi kebutuhan makan sehari-harinya adalah adik kandungnya. Namun, takdir berkata lain. Sang adik telah meninggal dunia. Sejak kepergiannya, kehidupan Hadi terasa semakin berat, terutama dalam memenuhi kebutuhan paling mendasar, yakni makanan sehari-hari.
Dalam kondisi sakit, tidak bekerja, dan tanpa penghasilan tetap, Hadi kini hanya mengandalkan bantuan lansia sebesar Rp200 ribu setiap bulan.
Bantuan tersebut tentu sangat berarti. Namun, jika dihitung untuk memenuhi kebutuhan selama satu bulan, jumlah itu masih jauh dari cukup. Sementara kebutuhan makan tidak bisa menunggu, dan kondisi kesehatannya juga membutuhkan perhatian.
Bayangkan, bagaimana seorang pria berusia 72 tahun dengan kondisi stroke harus menjalani hari-harinya ketika orang yang biasa membantunya sudah tiada? Bagaimana ia memenuhi kebutuhan makan ketika dirinya sendiri sudah tidak memiliki kemampuan untuk bekerja?
Hadi bukan sedang meminta kehidupan mewah. Ia hanya membutuhkan perhatian, makanan yang cukup, tempat tinggal yang layak, serta kepedulian agar masa tuanya tidak dijalani dalam keterbatasan yang semakin berat.
Harapan agar Pemerintah Hadir
Kisah Hadi menjadi potret nyata bahwa masih ada warga lanjut usia yang membutuhkan perhatian lebih dari lingkungan dan pemerintah. Bantuan sosial yang telah diterimanya merupakan bentuk kepedulian negara, tetapi kondisi di lapangan menunjukkan perlunya peninjauan kembali terhadap kebutuhan hidup dan kondisi sosial yang sedang dihadapinya.
Melalui pemberitaan ini, perhatian Dinas Sosial Kota Surabaya, Pemerintah Kecamatan Kenjeran, Kelurahan setempat, serta pendamping sosial diharapkan dapat tertuju pada kondisi Hadi Sunarto.
Diperlukan asesmen dan peninjauan langsung untuk mengetahui kondisi kesehariannya, termasuk pemenuhan kebutuhan pangan, kondisi kesehatan, tempat tinggal, serta kemungkinan memperoleh bantuan sosial tambahan atau layanan perawatan bagi lanjut usia yang hidup dalam keterbatasan.
Pemerintah juga diharapkan dapat memastikan apakah Hadi masuk dalam kategori lansia terlantar atau kelompok masyarakat yang membutuhkan perlindungan dan pelayanan sosial secara lebih intensif.
Jangan sampai kondisi seorang warga baru diketahui ketika keadaannya sudah semakin memprihatinkan. Pendataan dan kehadiran petugas sosial secara langsung menjadi penting agar masyarakat yang benar-benar membutuhkan tidak terlewatkan.
Jangan Biarkan Masa Tuanya Berjalan dalam Kesendirian
Di balik angka 72 tahun, ada perjalanan hidup, kenangan, kehilangan, dan perjuangan yang mungkin tidak banyak diketahui orang. Hadi pernah memiliki keluarga, pernah memiliki tempat untuk berharap, dan pernah mendapatkan bantuan dari orang terdekatnya. Kini, ketika usia semakin bertambah dan tubuh semakin lemah, ia justru harus menghadapi kehidupan dengan segala keterbatasan.
Mungkin bagi sebagian orang, Rp200 ribu bukanlah jumlah yang besar. Namun, bagi Hadi, bantuan itu menjadi salah satu penopang untuk bertahan hidup. Sayangnya, kebutuhan sehari-hari jauh lebih besar daripada kemampuan yang dimilikinya.
Kisah ini menjadi panggilan kemanusiaan bagi siapa pun yang masih memiliki kepedulian. Terutama bagi pemerintah yang memiliki tanggung jawab memastikan warga lanjut usia mendapatkan perlindungan dan kehidupan yang lebih layak.
Sebab, Hadi bukan sekadar angka dalam data penerima bantuan sosial. Ia adalah seorang manusia yang juga berhak mendapatkan perhatian, rasa aman, makanan yang cukup, dan kehidupan yang bermartabat.
Di penghujung usianya, Hadi tidak membutuhkan janji yang muluk-muluk. Ia hanya berharap masih ada tangan-tangan kepedulian yang bersedia hadir, melihat kondisinya, dan membantunya menjalani hari esok dengan lebih baik.
Semoga kisah Hadi Sunarto tidak hanya dibaca, tetapi juga didengar oleh mereka yang memiliki kewenangan untuk membantu. Karena kepedulian sejati bukan sekadar mengetahui ada warga yang membutuhkan, melainkan hadir dan memastikan tidak ada warga lanjut usia yang harus berjuang sendirian untuk sekadar mendapatkan makanan.
Reporter: ahmadh









