BANYUWANGI lintasjatimnews.com – Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Banyuwangi, Suryono Bintang Samudra, S.P., M.Si., menghadiri acara Pengukuhan Pengurus Cabang Serikat Nelayan Nahdlatul Ulama (SNNU) Kabupaten Banyuwangi. Acara khidmat tersebut digelar di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga, Sumberkencono, Kecamatan Wongsorejo.02/11/26
Mewakili Sekretaris Daerah Kabupaten Banyuwangi, Suryono Bintang Samudra hadir membacakan sambutan pemerintah daerah di hadapan jajaran pengurus SNNU Banyuwangi yang baru dikukuhkan, jajaran PCNU Banyuwangi, PW SNNU Jawa Timur, para kiai, alim ulama, serta ratusan nelayan dan keluarga besar nelayan yang hadir.
Dalam sambutannya, Suryono Bintang menyampaikan apresiasi serta ucapan selamat kepada seluruh pengurus PC SNNU Banyuwangi yang dipimpin oleh Ir. Hadi Pitoyo. Ia berharap organisasi ini tidak sekadar menjadi wadah formal, melainkan menjelma sebagai rumah besar bagi nelayan untuk menyatukan aspirasi, memperkuat solidaritas, serta menjadi jembatan komunikasi yang efektif antara nelayan dan pemerintah.
”Nelayan bukan hanya pelaku ekonomi. Nelayan adalah penjaga kedaulatan pangan, penjaga laut, sekaligus bagian penting dari denyut ekonomi Banyuwangi,” ujar Suryono membacakan sambutan.
Lebih lanjut, ditekankan bahwa potensi perikanan di Banyuwangi sangat strategis mengingat letak geografisnya yang memiliki garis pantai panjang serta dua wilayah perairan utama, yakni Samudera Hindia dan Selat Bali. Potensi ini mencakup sektor perikanan tangkap, budidaya, pengolahan, hingga pemasaran.
Secara makro, sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan terbukti menjadi penyumbang terbesar Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Banyuwangi, yakni mencapai sekitar 26,28 persen pada tahun 2025. PDRB Banyuwangi sendiri kini telah berada di angka Rp118,37 triliun dengan pertumbuhan ekonomi yang solid di angka 5,65 persen.
Kendati potensi perikanan sangat besar, pemerintah menyadari bahwa tantangan di lapangan masih nyata. Persoalan seperti akses permodalan, fluktuasi harga ikan, ketersediaan sarana prasarana, teknologi, perlindungan sosial, hingga ancaman cuaca ekstrem dan perubahan iklim masih dihadapi oleh para nelayan.
Oleh karena itu, fokus ke depan bukan sekadar meningkatkan volume produksi ikan, melainkan mendongkrak pendapatan nelayan agar semakin tinggi.
”Nelayan harus naik kelas. Dari nelayan tradisional menjadi profesional, dari menjual hasil tangkapan secara konvensional menjadi bagian dari rantai nilai yang lebih panjang, dari produsen menjadi pelaku usaha, dan dari penerima program menjadi subjek utama pembangunan,” tegasnya.
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mencatat tren positif dalam indikator pembangunan, di mana angka kemiskinan turun menjadi sekitar 5,6 persen pada tahun 2026 (dari 6,13 persen pada tahun 2025). Namun, pemerintah menegaskan bahwa angka tersebut harus dimaknai sebagai upaya nyata untuk memastikan setiap keluarga nelayan hidup lebih baik.
Dengan mengusung budaya inovasi yang telah mengantarkan Banyuwangi meraih predikat Kabupaten Terinovatif se-Indonesia delapan kali berturut-turut melalui IGA Kemendagri, pemerintah mengajak SNNU untuk bergerak bersama.
”Pemerintah tidak mungkin bekerja sendirian. Kami berharap SNNU dapat menjadi mitra strategis dalam mencari solusi, baik dalam pengembangan potensi maupun pengentasan persoalan kemiskinan di kalangan nelayan,” pungkas Suryono menutup rangkaian sambutan sebelum secara resmi menyatakan pengukuhan pengurus SNNU Banyuwangi dimulai.
Reporter : Rio









