From Kokurikuler to Sustainability, SMP Negeri 3 Babat Dorong Ketahanan Pangan Berkelanjutan

Listen to this article

LAMONGAN lamongan – Semangat Sumpah Pemuda dapat diwujudkan melalui aksi nyata menjaga ketahanan pangan berkelanjutan. Berangkat dari lingkungan sekolah, peserta didik SMP Negeri 3 Babat, Lamongan, didorong untuk mengembangkan kepedulian terhadap pangan lokal, membudayakan konsumsi bijak, menanam sayuran, serta mengurangi sampah makanan sebagai bagian dari pendidikan karakter dan pembangunan berkelanjutan.

Gagasan tersebut disampaikan Yuli Widdiyati, S.Pd., M.M.Pd., Kepala SMP Negeri 3 Babat, dalam tulisan bertajuk “From Kokurikuler to Sustainability: Mewujudkan Ketahanan Pangan Berkelanjutan melalui Aksi Nyata Generasi Muda SMP Negeri 3 Babat.”

Menurut Yuli, peringatan Sumpah Pemuda setiap 28 Oktober bukan sekadar mengenang ikrar bersejarah tahun 1928. Momentum ini harus menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk melanjutkan semangat persatuan melalui kontribusi nyata dalam menjawab tantangan bangsa, termasuk persoalan ketahanan pangan.

“Semangat satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia tidak hanya relevan untuk mengenang perjuangan pemuda masa lalu, tetapi juga menjadi inspirasi bagi generasi muda dalam menghadapi berbagai tantangan masa kini,” tulisnya.

Ia menjelaskan, ketahanan pangan bukan sekadar persoalan ketersediaan makanan, melainkan juga menyangkut akses terhadap pangan yang cukup, aman, bergizi, dan sesuai kebutuhan. Pangan menjadi fondasi penting bagi kesehatan, pertumbuhan, kecerdasan, serta produktivitas manusia.

Namun, upaya mewujudkan ketahanan pangan menghadapi beragam tantangan, mulai dari perubahan iklim, keterbatasan lahan pertanian, perubahan pola konsumsi, hingga kebiasaan membuang makanan.

Karena itu, tanggung jawab menjaga ketahanan pangan tidak hanya berada di tangan pemerintah dan petani, tetapi juga seluruh masyarakat, termasuk peserta didik sebagai generasi penerus bangsa.

Kokurikuler Menghubungkan Pembelajaran dengan Aksi Nyata

Yuli menilai kegiatan kokurikuler menjadi sarana strategis untuk menghubungkan pengetahuan yang diperoleh di kelas dengan persoalan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui kegiatan bertema “Semangat Sumpah Pemuda untuk Meningkatkan Ketahanan Pangan” dengan topik “Pemuda Bersatu, Pangan Kuat: Berkarya dan Beraksi untuk Ketahanan Pangan”, peserta didik dapat belajar mengamati masalah, merancang solusi, bekerja sama, melaksanakan kegiatan, dan mengevaluasi hasilnya.

Pembelajaran tersebut tidak berhenti pada pemahaman teori, tetapi juga menumbuhkan karakter mandiri, tanggung jawab, kreativitas, dan gotong royong.

Dalam pelaksanaannya, setiap peserta didik dapat mengambil peran sesuai kemampuan, mulai dari merancang kegiatan, menyiapkan alat dan bahan, melakukan pengamatan, mencatat perkembangan, membuat media edukasi, hingga mempresentasikan hasil karya.

Menurut Yuli, perbedaan kemampuan dan minat antarpeserta didik justru dapat menjadi kekuatan untuk menghasilkan gagasan yang lebih beragam. Keberhasilan kegiatan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu, tetapi juga kesediaan untuk saling membantu dan bertanggung jawab terhadap tujuan bersama.

Kebun Sekolah dan Pangan Lokal sebagai Laboratorium Belajar

Salah satu aksi yang dapat dikembangkan adalah pembuatan kebun pangan sekolah. Dengan memanfaatkan lahan yang tersedia, pot, atau polybag, peserta didik dapat menanam sayuran yang mudah dibudidayakan, seperti kangkung, bayam, cabai, dan tomat.

Melalui kegiatan tersebut, siswa belajar mengenali kebutuhan tanaman, menjaga kesuburan tanah, mengatur penyiraman, mengamati pertumbuhan, serta mencatat perkembangan tanaman.

Proses ini mengajarkan bahwa menghasilkan pangan membutuhkan pengetahuan, ketekunan, dan kepedulian terhadap lingkungan. Jika dilaksanakan secara berkelanjutan, kebun sekolah dapat menjadi media pembelajaran sekaligus sarana membangun budaya produktif.

Selain budidaya tanaman, pengenalan pangan lokal juga perlu mendapat perhatian. Indonesia memiliki kekayaan sumber pangan, seperti jagung, singkong, ubi, pisang, beras, serta berbagai sayuran dan buah-buahan.

Peserta didik dapat mengenali potensi pangan lokal di Babat dan sekitarnya melalui pengamatan, wawancara dengan orang tua atau pelaku usaha pangan, serta penyusunan poster dan katalog pangan lokal.

Kegiatan ini diharapkan menumbuhkan kebanggaan terhadap kekayaan pangan Indonesia sekaligus memperluas wawasan siswa mengenai keragaman sumber pangan.

“Mengenal dan menghargai pangan lokal merupakan salah satu bentuk cinta tanah air yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” demikian pesan yang ditekankan dalam tulisan tersebut.

Mengurangi Sampah Makanan, Membiasakan Konsumsi Bijak

Selain mendorong produksi pangan, Yuli menekankan pentingnya membangun kebiasaan mengonsumsi makanan secara bertanggung jawab.

Peserta didik dapat memulainya dengan mengambil makanan sesuai kebutuhan, menghabiskan makanan yang telah diambil, menjaga kebersihan tempat makan, serta memahami pentingnya memilih makanan yang aman dan bergizi seimbang.

Sampah organik yang sesuai juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan kompos untuk mendukung pertumbuhan tanaman.

Melalui pembiasaan tersebut, siswa belajar bahwa ketahanan pangan bukan hanya tentang menghasilkan lebih banyak makanan, melainkan juga memastikan pangan yang tersedia dimanfaatkan secara bijak dan tidak terbuang sia-sia.

Kebiasaan sederhana ini diharapkan dapat diterapkan di sekolah, rumah, dan lingkungan masyarakat.

Mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

Yuli menjelaskan bahwa kegiatan kokurikuler bertema ketahanan pangan memiliki keterkaitan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).

Kegiatan tersebut mendukung SDG 2, yaitu Tanpa Kelaparan (Zero Hunger), yang mendorong ketahanan pangan, perbaikan gizi, dan pertanian berkelanjutan. Upaya mengurangi sampah makanan dan memanfaatkan sumber daya secara bijak juga sejalan dengan SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.

Sementara itu, edukasi gizi berkaitan dengan SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera. Budidaya tanaman serta pengelolaan sampah organik juga dapat menumbuhkan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.

Dengan demikian, aksi sederhana yang dilakukan peserta didik dapat menjadi bagian dari upaya membangun pola hidup yang sehat, produktif, dan berkelanjutan.

Keberhasilan Diukur dari Perubahan Kebiasaan

Menurut Yuli, keberhasilan kegiatan kokurikuler tidak semata-mata diukur dari jumlah tanaman yang tumbuh, produk yang dihasilkan, atau kemeriahan gelar karya. Hal yang lebih penting adalah perubahan pengetahuan, sikap, dan kebiasaan peserta didik.

Evaluasi perlu melihat apakah siswa semakin memahami pentingnya ketahanan pangan, mampu bekerja sama, bertanggung jawab, mengurangi pemborosan makanan, dan menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, refleksi bersama antara guru dan peserta didik menjadi bagian penting untuk memastikan kegiatan memberikan manfaat nyata dan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial.

Ia berharap semangat Sumpah Pemuda dapat terus hidup melalui aksi generasi muda dalam menghadapi berbagai tantangan zaman. Jika dahulu para pemuda bersatu memperjuangkan kemerdekaan dan persatuan bangsa, kini generasi muda dapat meneruskan semangat tersebut melalui kepedulian terhadap ketahanan pangan.

Dari lingkungan sekolah, peserta didik SMP Negeri 3 Babat dapat memulai gerakan melalui kebun pangan, pengenalan pangan lokal, konsumsi bijak, pengurangan sampah makanan, dan berbagai karya edukatif.

“Pemuda bersatu, pangan kuat bukan sekadar slogan, melainkan ajakan untuk bertindak,” menjadi pesan utama dalam gagasan tersebut.

Melalui semangat persatuan, gotong royong, kreativitas, dan tanggung jawab, generasi muda diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang sehat, mandiri, peduli lingkungan, serta siap berkontribusi bagi masa depan Indonesia yang lebih sejahtera dan berkelanjutan.

Reporter: Fathurrahim Syuhadi