LAMONGAN lintasjatimnews.com – Dalam setiap peringatan Hari Kartini, kita kerap diingatkan pada sosok Raden Ajeng Kartini yang memperjuangkan hak perempuan untuk memperoleh pendidikan dan kesempatan yang setara. Namun, pertanyaannya: apakah menjadi Kartini hari ini harus selalu sama seperti Kartini di masa lalu?
Jawabannya tidak. Menjadi Kartini masa kini adalah tentang menemukan dan menapaki jalan kita sendiri—dengan peran, tantangan, dan kontribusi yang relevan dengan zaman.
“Kartini hari ini bukan hanya mereka yang berdiri di podium atau dikenal luas, tetapi juga perempuan-perempuan yang diam-diam berjuang dalam perannya masing-masing,” demikian disampaikan Dr. Hj Nurotun Mumtahanah, M.Pd.I Ketua Yayasan, Pengasuh Yatim dan Du’afa Al-Mu’awanah (YAMUNA) Lamongan
Lanjutnya, seorang ibu yang mendidik anak dengan penuh nilai, seorang guru yang membimbing dengan ketulusan, seorang dai’yah yang menyebarkan ilmu dan akhlak, hingga pengasuh lembaga sosial yang merawat generasi masa depan—semuanya adalah Kartini di jalannya sendiri.
Sebagai seorang akademisi, dai’yah, dan pengasuh di LKSA Al Muawanah Lamongan, Nyai Hj Nurotun Mumtahanah menyaksikan secara langsung bagaimana perempuan memiliki peran strategis dalam membentuk peradaban. Pendidikan bukan hanya soal transfer ilmu, tetapi juga penanaman nilai. Di sinilah perempuan memiliki kekuatan besar: membentuk karakter, menanamkan akhlak, dan menyalakan harapan.
Menjadi Kartini tidak harus menunggu sempurna. Justru, ia dimulai dari kesadaran sederhana: bahwa setiap perempuan memiliki potensi untuk berdaya dan memberi makna.
“Jalan itu bisa berbeda-beda—di dunia pendidikan, dakwah, keluarga, sosial, bahkan ekonomi—namun tujuannya sama, yaitu menghadirkan kebaikan,” ujar Rektor IAI Al Hikmah Tuban (2015–2022).
Kartini masa kini juga dituntut untuk adaptif. Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang begitu cepat, perempuan harus terus belajar, memperluas wawasan, dan menguatkan integritas. Ilmu tanpa akhlak akan kehilangan arah, sementara semangat tanpa ilmu akan kehilangan kekuatan. Keduanya harus berjalan beriringan.
Ditambahkan Wakil Ketua Senat Universitas Al Hikmah Indonesia, Tuban, lebih dari itu menjadi Kartini di jalan sendiri berarti berani mengambil peran tanpa harus membandingkan diri dengan orang lain. Setiap perempuan memiliki cerita, perjuangan, dan panggilan hidup yang unik. Tidak perlu menjadi orang lain untuk menjadi berarti.
Semangat Kartini adalah semangat keberanian—berani berpikir, berani belajar, dan berani melangkah. Hari ini, keberanian itu bisa diwujudkan dengan terus berkarya, menginspirasi, dan memberi manfaat di mana pun kita berada.
“Menjadi Kartini bukan tentang siapa yang paling hebat, tetapi siapa yang paling konsisten menebar manfaat. Maka, mari menjadi Kartini di jalan kita sendiri—dengan ilmu, akhlak, dan ketulusan—demi masa depan yang lebih baik dan bermartabat,” pungkas Anggota Dewan Pendidikan Lamongan ini
Reporter : Fathurrahim Syuhadi









