LAMONGAN lintasjatimnews – Menjadi pendidik bukan sekadar berdiri di depan kelas, memegang kapur, atau menyampaikan materi pelajaran sesuai kurikulum. Lebih dari itu, pendidik adalah penjaga harapan, perawat mimpi-mimpi kecil, dan penyalur cahaya bagi generasi yang kelak menentukan arah masa depan bangsa. Di balik rutinitas yang tampak biasa, tersimpan perjuangan batin yang panjang—tentang doa, kesabaran, dan optimisme yang terus dirawat.
“Di ruang kelas, kita tidak hanya bertemu murid, tetapi juga masa depan,” tutur Maftuhah, M.Pd., pendidik dan pemerhati pendidikan.
Menurutnya, setiap anak datang membawa latar belakang, cerita, dan tantangan yang berbeda. Ada yang tumbuh dalam dukungan penuh, ada pula yang datang dengan luka dan keterbatasan. Di sinilah kesabaran pendidik diuji sekaligus dimaknai.
Kesabaran seorang pendidik bukanlah sikap pasif atau menyerah pada keadaan. Ia justru aktif, penuh ikhtiar, dan dilandasi keyakinan. Seorang pendidik tetap mengajar meski perubahan belum terlihat, tetap membimbing meski hasil belum terukur.
“Kesabaran pendidik adalah kesabaran yang bekerja. Ia terus mencari cara, bukan alasan,” tegas dosen STIT Muhammadiyah Paciran ini
Dalam praktiknya, pendidik kerap dihadapkan pada berbagai tantangan: keterbatasan fasilitas, tuntutan administrasi yang menumpuk, hingga perubahan karakter peserta didik di tengah arus digital. Namun, di tengah kompleksitas itu, optimisme menjadi kekuatan utama. Optimisme pendidik bukan sekadar harapan kosong, melainkan doa yang terus hidup dalam tindakan nyata.
“Optimisme itu seperti doa yang tidak pernah putus. Kita percaya bahwa setiap usaha mendidik, sekecil apa pun, akan menemukan waktunya untuk tumbuh,” ujar ibu satu putra ini
Pendidikan, lanjut Maftuhah tidak bisa disamakan dengan proses instan. Ia seperti menanam pohon. Ditanam hari ini, dirawat dengan sabar, dan kelak memberi buah serta keteduhan bagi banyak orang.
Pendidik juga berperan penting dalam menanamkan nilai-nilai kehidupan. Di ruang kelas, anak-anak tidak hanya belajar membaca dan berhitung, tetapi juga belajar tentang kejujuran, empati, disiplin, dan keberanian bermimpi.
Nilai-nilai inilah yang menjadi fondasi karakter bangsa. “Apa yang kita ajarkan dengan sikap, sering kali lebih kuat daripada apa yang kita sampaikan dengan kata-kata,” tambahnya.
Dalam menghadapi kesalahan dan kegagalan peserta didik, pendidik dituntut untuk tidak mudah menghakimi. Kesalahan dipahami sebagai bagian dari proses belajar. Pendidik memilih mendekat ketika anak menjauh dan memilih mendengar ketika anak sulit mengungkapkan isi hatinya. Dari keteladanan inilah, nilai kemanusiaan ditanamkan secara perlahan namun mendalam.
Sebagai penegasan, Maftuhah menekankan bahwa mencerdaskan kehidupan bangsa tidak hanya menyangkut kecerdasan intelektual, tetapi juga kecerdasan hati dan karakter.
“Dengan kesabaran, pendidik membentuk akhlak. Dengan optimisme, pendidik menumbuhkan keberanian. Dan dengan cinta, pendidik membangun masa depan,” pungkasnya.
Dari ruang-ruang kelas yang sederhana, para pendidik sesungguhnya sedang menulis sejarah bangsa—satu anak, satu harapan, dan satu cahaya masa depan yang terus dinyalakan.
Reporter Fathurrahim Syuhadi









