SURABAYA lintasjatimnews – Dalam perjalanan dakwah dan kehidupan sehari-hari, kelembutan akhlak sering kali menjadi kunci yang membuka hati manusia. Berlemah lembutlah pada sesama, terlebih ketika mengajak kepada kebaikan.
Sebab kebenaran yang disampaikan dengan hati kasar kerap tertolak, sementara kebaikan yang dibungkus dengan akhlak mulia justru mudah diterima. Tidaklah seorang mukmin disebut baik hanya karena keluasan ilmunya semata, tetapi ia disebut baik ketika ilmunya menjelma menjadi akhlak yang menenangkan, meneduhkan, dan menghidupkan.
Al-Qur’an menegaskan pentingnya kelembutan dalam dakwah. Allah Swt. berfirman “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.” (QS. Ali ‘Imran: 159)
Ayat ini menjadi cermin bahwa keberhasilan dakwah Rasulullah Saw bukan semata karena kebenaran risalahnya, tetapi karena akhlak beliau yang lembut dan penuh kasih. Bahkan kepada orang yang menentangnya sekalipun, Rasulullah tetap menunjukkan adab yang tinggi dan kesabaran yang luar biasa.
Rasulullah Saw sendiri menegaskan misi diutusnya beliau melalui sabda “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (HR. Ahmad)
Hadis ini menempatkan akhlak sebagai inti dari keberagamaan. Ibadah, muamalah, dan seluruh syariat Islam sejatinya bermuara pada pembentukan pribadi yang berakhlak mulia. Tanpa akhlak, ilmu bisa menjadi alat kesombongan, dan ibadah bisa kehilangan ruhnya.
Sejarah umat terdahulu telah mengajarkan kepada kita bahwa akhlak yang luhur mampu mengantarkan seorang hamba ke surga Allah.
Betapa banyak kisah orang-orang sederhana yang tidak terkenal karena ilmunya, namun dimuliakan Allah karena kejujuran, kesabaran, dan kelembutan hatinya. Sebaliknya, tidak sedikit pula kaum yang dibinasakan karena kesombongan dan kekerasan hati, meski mereka memiliki pengetahuan.
Buya Hamka, ulama dan cendekiawan besar bangsa ini, pernah berkata dengan sangat mendalam: “Budi pekerti adalah pakaian jiwa. Ilmu tanpa budi pekerti ibarat api tanpa cahaya, panas namun membakar.”
Ungkapan ini menegaskan bahwa ilmu harus berjalan seiring dengan akhlak. Tanpa akhlak, ilmu justru dapat melukai dan menyesatkan.
Dalam kehidupan sosial, seorang mukmin diibaratkan Rasulullah Saw seperti pohon kurma. Seluruh bagiannya bermanfaat; buahnya manis, batangnya berguna, dan bahkan durinya pun memberi pelajaran. Mukmin yang baik akan selalu menghadirkan kebaikan di mana pun ia berada.
Rasulullah Saw bersabda “Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Ar-Rahman. Sayangilah yang ada di bumi, niscaya kalian akan disayangi oleh yang di langit.” (HR. Tirmidzi)
Maka, di mana pun dan dalam kondisi apa pun, kita akan senantiasa berada dalam kebaikan jika hati kita baik. Hati yang lembut, penuh kasih, dan bersih dari dengki akan memancar dalam sikap, tutur kata, dan perbuatan.
Dari sanalah dakwah menjadi hidup, muamalah menjadi indah, dan syariat terasa menenteramkan. Akhlak mulia bukan hanya jalan menuju kebaikan di dunia, tetapi juga jembatan menuju surga-Nya.
Penulis Fathurrahim Syuhadi








