TUBAN lintasjatimnews – Batik merupakan identitas negara warisan budaya yang harus dilestarikan, peran pemerintah daerah dan pemerintah desa sangat diperlukan apalagi pemerintah Republik Indonesia sudah bertekad serta komitmen dalam mempertahankan dan mengembangkan batik sebagai jati diri bangsa.
Bahkan kini, dunia pun sudah mulai memberikan apresiasi lebih pada produk-produk warisan leluhur kita ini, Agus Muhariyoto seorang pengrajin batik asal Dusun Morosemo Desa Sumberagung Kecamatan Plumpang, mengatakan bahwa usaha batik bisa dikatakan sebagi peluang bisnis yang menjanjikan bagi masyarakat di lingkungan kita.
Disamping batik tradisional yang diproduksi dengan teknik tulisan tangan menggunakan canting dan malam yang disebut batik tulis, dia juga memproduksi batik jenis baru seperti batik cap dan batik cetak, tergantung permintaan konsumen.
“Kini model batik semakin beragam. tidak hanya yang itu-itu saja. ada batik yang kita padukan dengan bahan yang lain sepeti kulit, daun dan bahan lainnya, ungkap pria yang juga menjadi guru SDN Ngrayung ini.
Dia juga berharap, bahwa batik tak dipandang sebagai pakaian yang hanya cocok dikenakan oleh orang tua atau pegawai kantoran saja, menurutnya batik kini telah merakyat dan banyak dipakai oleh segala usia, serta harusnya bisa menjadi tren di kalangan anak muda sekarang.
Suami dari ibu Hery Nurul Amaliyatun pemilik usaha Zyba Batik ini juga menceritakan awal mulanya menekuni usaha batik, saat itu ia diminta menjadi pemateri pada kajian majelis taklim di Pondok Pesantren Manbaul Ulum Dusun Morosemo Desa Sumberagung.
Ustadz yang dulunya penyuluh agama Islam KUA Plumpang ini menambahkan, tujuan materi penyuluhan yang saat itu ia berikan bisa memotivasi ibu-ibu jamaah dalam menambah nilai finansial keluarga.
“Atas arahan Ketua yayasan Manba’ul Ulum, kami membentuk Kelompok Usaha Bersama mengajukan permohonan pelatihan membatik ke Diskoperindag Kabupaten Tuban pada pertengahan tahun 2017 yang kemudian kegiatan pelatihan tersebut terealisasi pada bulan September di tahun yg sama”, tambahnya
Setelah mengikuti beberapa kali pelatihan membatik yang difasilitasi oleh Diskoperindag Kabupaten Tuban, dianjurkan setiap anggota hendaknya melanjutkan kreasi secara mandiri dan terus berkarya. Namun dari 20 peserta belum ada yg berani berkarya mandiri, tinggal saya dibantu 4 anggota apabila ada waktu senggang,” ungkapnya
Lanjut ustadz Agus, pada awal tahun 2019 kami mengikuti lomba IKM pemula dan atas saran pembimbing Diskoperindag, agar menyematkan nama yang mudah diingat dan dikenal masyarakat. Maka munculah nama ZYBA (Ziyadatul Barokah) yang artinya bertambahnya keberkahan.
Saat diwawancarai oleh lintasjatimnew.com, apakah ada kedala terkait usaha batik yang ia tekuni, “Bahan baku menjadi kendala jawabnya, disamping itu harganya yg selalu melonjak, apalagi ditambah minimnya minat belajar membatik pekerja ditempatnya serta hambatan dari segi pemasaran. (06/06/2022)
Masyarakat cenderung memilih kain batik printing yaitu motif gambar tanpa ada sentuhan malem (lilin yang dicanting) hal itu disebabkan kurangnya pemahaman mereka tentang nilai artistik batik.
Harapan kami, pertama perlu diadakan pelatihan batik berkelanjutan untuk meningkatkan kompetensi dari Diskoperindag, kedua Pemerintah daerah hendaknya tetap melestarikan budaya batik Tuban dengan kebijakan-kebijakan agar instansi pemerintah, OPD dan peserta didik di lembaga pendidikan serta masyarakat bangga memakai batik asli Tuban, bukan malah memilih batik printing atau batik motif kabupaten lain.
“Doakan saja semoga usaha kami terus berkembang, cita-cita memiliki toko dan karyawan yang ulet dapat secepatnya kami wujudkan serta tumbuhnya minat generasi muda untuk mau belajar dan melestarikan budaya batik Tuban yang kita cintai ini,” harapnya kedepan.
Reporter : Slamet Efendi








