LAMONGAN lintasjatimnews – Fenomena mahasiswa yang bekerja mungkin sudah menjadi hal yang biasa terjadi di hampir seluruh kampus di Indonesia, tak terkecuali di kampus-kampus di Lamongan.
Namun, sering terjadi dilema di antaranya para mahasiswa di mana pekerjaan tersebut malah sering kali mengganggu jadwal perkuliahan dan organisasi. Hal ini membuat mereka harus memilih antara mendapatkan cuan, menjadi aktivis diorganisasi dan nilai dari dosen.
Seperti yang dilakukan Ariq Fakhruddin, mahasiswa semester 5 Jurusan teknik komputer Universitas Muhammadiyah Lamongan (UMLA). Dia mengatakan, kuliah sambil bekerja karena adanya gengsi di lingkungan pertemanannya.
“Latar belakang bekerja sambil kuliah karena saya anak dari keluarga sederhana, kesadaran untuk bekerja ini sangat penting meski bukan penghasilan utama buat hidup. Kemudian rata-rata teman-teman sudah bekerja. Jadi, lebih banyak lingkungan saya sendiri yang membentuk,” tuturnya saat dikonfirmasi lintasjatimnews (8/2/2022).
Ariq panggilan akrabnya yang juga alumni Darul Arqam Dasar (DAD) 01 PK IMM Al Iskandariyah UMLA bahkan menceritakan kalau dulu sebelum kuliah saat kelas 3 SMK sebenarnya dia sudah bekerja freelance di bidang internet. Lalu kesadaran buat kuliah sebenarnya gak ada, tapi kemudian orang tua Ariq ingin agar anaknya lulus S-1.
“Kemudian memilih kuliah dan bekerja karena kan sudah dewasa, jadi gak enak kalau harus minta uang jajan ke orang tua. Sejak semester satu itu juga saya sudah gak pernah minta uang jajan,” bebernya.
“Saya sendiri pada dasarnya suka jalan-jalan, tapi masalahnya gak punya uang. Jadi, gimana caranya saya bisa jalan-jalan dengan uang sendiri,” sambungnya.
Tapi, pria asli Desa Sungegeneng, Kecamatan Sekaran ini mengatakan, sebenarnya kuliah sambil bekerja bukanlah hal yang buruk kalau bisa mengatur waktu.
“Soalnya saat saya kulia mulai pagi jam delapan sampai sore jam tiga, kemudian setelah pulang lanjut bekerja. Dan nilainya mulai A sampai B aja. Jadi, mulai semester satu itu saya sudah bekerja sebagai freelance internet,” ceritanya.
“Walaupun di samping itu saya juga ikut organisasi HIMA dan IMM dengan jadwal kuliah yang lumayan padat. Karena kalau pekerjaan itu kita hanya dituntut disiplin dan memiliki gairah untuk produktif. Sementara di organisasi terlalu random, dan saya ikut organisasi tapi di situ saya belajar akan hal yang berpikir kritis,” tandasnya.
Ariq sendiri bisa sibuk dengan 3 aktivitas tersebut karena merasa di pekerjaannya waktu itu jarang bisa bertemu teman-temannya.
“Saya takut gak berkembang, soalnya punya prinsip kuliah itu tidak hanya cari ilmu, tapi juga ikut organisasi. Akhirnya bagaimana caranya agar organisasi harus bisa dijalani, tapi memang ada keuntungan dari hal yang saya korbankan seperti jaringan yang luas,” ungkapnya.
Tapi bukan sulit yang susah, cuma kalau lulus nantinya kita memiliki pengalaman dan punya kepercayaan diri melalui organisasi ini.
Dia juga menerapkan skala prioritas untuk memilih apakah akan mendahulukan pekerjaan, tugas kuliah dan berorganisasi.
“Pernah kejadian deadline bertabrakan dengan tugas, tapi saya sendiri selalu menerapkan prioritas yang utama. Misalnya saat ini yang prioritas kerjaan, maka saya tinggalin kuliah. Cuma kalau kuliah ini penting, maka saya utamakan kuliah, jadi fleksibel,” bebernya.
“Alhamdulillah, selama ini dapat pekerjaan yang nggak kaku, nggak harus selalu ontime, dapat yang fleksibel untuk waktu saya sendiri,” sambungnya.
“Tapi, kalau memang kebutuhannya banyak, ya harus siap yang mengikat. Kemudian harus aktif komunikasi dengan bos, kalau ada masalah diobrolkan, saya yakin keluangan waktu akan didapatkan,” ujarnya.
“Karena sebelumnya di rumah juga bekerja, tapi karena permintaan orang tua disuruh lanjut kuliah makanya saya kuliah. Tapi, karena dari keluarga juga minim biaya buat kuliahin, jadi pilihannya ya kuliah sambil bekerja,” bebernya.
Terakhir, “Dengan segala pengalamannya selama ini, suatu hari bisa terus produktif dalam kulia, organisasi dan bekerja,” pungkasnya. (Fathan Faris Saputro)








