LAMONGAN LintasJatimNews – Dalam rangka menyemarakkan peringatan Hari Sumpah Pemuda Ke-89, SMP Negeri 2 Pucuk, Kabupaten Lamongan, menghadirkan sebuah terobosan edukatif yang inspiratif, Kamis (29/10/2026). Sekolah ini menyelenggarakan kegiatan hypnotherapy massal bagi para siswanya dengan menggandeng Trainer sekaligus Motivator Nasional, Afif Hidayatullah, S.E., S.Pd., M.Ak., C. Langkah strategis ini menjadi wujud nyata komitmen sekolah dalam membangun generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepercayaan diri, berani bermimpi besar, dan memiliki motivasi belajar yang tak tergoyahkan.
Melalui pendekatan psikologis yang mendalam dan inspiratif, ratusan siswa diajak menyelami dan mengenali potensi tersembunyi yang mereka miliki. Mereka dibimbing untuk membangun keyakinan positif terhadap kemampuan diri sendiri, serta menumbuhkan keberanian mental untuk menghadapi berbagai tantangan, baik di ruang kelas maupun dalam realitas kehidupan sehari-hari.
Momentum Hari Sumpah Pemuda dinilai sebagai waktu yang paling tepat dan bermakna untuk agenda ini. Semangat persatuan, pantang menyerah, dan perjuangan heroik generasi muda pada 28 Oktober 1928 diharapkan mampu meresap ke dalam sanubari siswa masa kini, menginspirasi mereka untuk terus bertumbuh, mengasah kompetensi, dan pada akhirnya memberikan kontribusi positif bagi agama, bangsa, dan negara.
Holistik dalam Mendidik: Harapan Kepala Sekolah
Kepala SMP Negeri 2 Pucuk, Endri Ulfa Kusmawati, IS., S.Pd., M.Pd., menyampaikan pandangannya bahwa kegiatan hypnotherapy ini merupakan manifestasi dari kepedulian sekolah terhadap perkembangan siswa secara komprehensif. Pendidikan, menurutnya, tidak boleh hanya berfokus pada capaian angka di atas kertas, tetapi juga wajib menyentuh ranah motivasi, kepercayaan diri, dan pembentukan karakter yang tangguh.
“Anak-anak kita sejatinya memiliki potensi yang luar biasa, namun acapkali mereka belum sepenuhnya menyadari kemampuan emas yang terpendam di dalam diri mereka. Melalui kegiatan ini, kami ingin memfasilitasi ruang bagi mereka untuk lebih mengenali diri sendiri, merajut rasa percaya diri, dan memompa semangat untuk terus belajar. Kami menaruh harapan besar agar anak-anak berani mencoba, tidak alergi terhadap kesalahan dalam proses belajar, serta memiliki daya lenting untuk bangkit dan mengevaluasi diri,” ungkap Endri dengan penuh optimisme.
Lebih lanjut, Endri menyadari bahwa setiap siswa hadir dengan keunikan karakter, kapasitas, rekam jejak pengalaman, dan tantangannya masing-masing. Oleh karena itu, institusi pendidikan dituntut untuk terus berinovasi menghadirkan pendekatan pembelajaran yang tidak sekadar mentransfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge), tetapi juga mengawal tumbuh kembang kejiwaan siswa secara utuh.
Hypnotherapy sebagai Kunci Pembuka Ruang Motivasi
Pemilihan hypnotherapy sebagai metode utama dalam kegiatan ini bukan tanpa alasan. Metode ini terbukti efektif dalam menyentuh alam bawah sadar, membantu individu mengenali pergolakan pikiran dan perasaannya, serta memetakan potensi diri. Bagi siswa, pendekatan ini menjadi sarana refleksi untuk membongkar kebiasaan buruk (mental block), merangkai ulang motivasi, dan memahami seni menyikapi tekanan dengan kacamata yang lebih positif.
Khusus bagi pelajar di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP), fase remaja adalah periode krusial dalam pencarian jati diri. Ini adalah masa di mana mereka dihadapkan pada tumpukan pengalaman baru—mulai dari adaptasi dengan beban akademik yang lebih berat, dinamika pergaulan, tuntutan keberanian tampil di ruang publik, hingga proses pencarian minat dan bakat.
Tidak dapat dimungkiri, banyak siswa yang masih membutuhkan suntikan dorongan moral untuk sekadar berani mengacungkan tangan menyampaikan pendapat, menghadapi ujian dengan tenang, atau mencoba ekstrakurikuler baru. Melalui panduan narasumber profesional, ketakutan, kegugupan, dan bayang-bayang kegagalan diputarbalikkan menjadi sebuah kesadaran bahwa hal-hal tersebut adalah lumrah dalam proses bertumbuh, asalkan dihadapi dengan strategi dan dukungan yang tepat.
Tentu saja, proses transformasi ini membutuhkan sinergi. Dukungan moril dari kepala sekolah, jajaran wali kelas, dan seluruh dewan guru memegang peranan vital. Kehadiran sosok pendidik yang memposisikan diri sebagai pendengar yang baik, pembimbing yang sabar, dan pemberi kepercayaan penuh, terbukti mampu menjadi katalisator bagi siswa untuk melakukan lompatan perubahan positif.
Endri Ulfa Kusmawati menegaskan kembali bahwa pembinaan siswa mutlak dilakukan dengan pendekatan yang memanusiakan manusia. Setiap anak berangkat dari latar belakang dan kondisi keluarga yang heterogen, membawa beban tak kasat mata yang sering kali luput dari pandangan di sekolah. Oleh karena itu, menumbuhkan kepercayaan diri di sini tidak dimaknai sebagai ilusi bahwa segalanya akan mudah, melainkan penanaman keberanian untuk terus berproses dan mengevaluasi diri tanpa harus membandingkan pencapaian pribadi dengan orang lain.
Sebagai tindak lanjut yang nyata, para siswa diajak untuk menyusun “Proposal Perubahan” bagi diri mereka masing-masing. Sebuah komitmen tertulis dan batiniah untuk menjadi pribadi yang lebih disiplin, menjunjung tinggi kejujuran, bertanggung jawab, memuliakan orang tua dan guru, menjaga keharmonisan pertemanan, serta berani meminta maaf dan memperbaiki kesalahan.
Membangun Pola Pikir Positif: Jauh dari Sekadar Kata-Kata
Penguatan growth mindset (pola pikir bertumbuh) menjadi benang merah dari seluruh rangkaian kegiatan. Siswa diajarkan seni mengubah sudut pandang. Ketika berhadapan dengan rumus yang rumit, mereka dilatih untuk tidak berkata “Saya tidak bisa”, melainkan “Saya belum memahaminya saat ini, tapi saya bisa mencobanya lagi.”
Motivasi yang ditanamkan bukanlah semata euforia sesaat yang menguap ketika acara usai, melainkan pembentukan kebiasaan (habit) dan keterampilan hidup (life skills). Keluarga, sekolah, dan lingkungan dituntut menjadi ekosistem yang menghargai proses berdarah-darah seorang anak dalam belajar, bukan sekadar menuntut hasil akhir yang sempurna.
Suara Perubahan dari Para Siswa
Dampak positif dari kegiatan ini langsung dirasakan oleh para peserta. Dwi Indah Arianti, siswi kelas IX, menuturkan refleksinya dengan penuh antusias.
“Menurut saya, kegiatan hypnotherapy ini benar-benar memberikan motivasi baru. Saya jadi lebih mengenali diri sendiri dan berani mengakui kekurangan untuk diperbaiki. Saya sadar, perubahan itu harus dimulai dari diri sendiri, tidak bisa hanya menunggu orang lain. Ke depannya, saya ingin lebih disiplin, semangat belajar, dan berusaha keras membanggakan orang tua dan guru. Kesalahan adalah guru terbaik untuk menjadi lebih baik,” tuturnya lugas.
Senada dengan Dwi, Moh. Zidan Wahyu Pratama dari kelas VIII juga merasakan suntikan semangat yang luar biasa.
“Acara ini semacam pengingat keras bagi saya tentang pentingnya punya tujuan hidup. Saya belajar bahwa sukses itu tidak cukup hanya diangankan. Harus ada aksi nyata lewat usaha, doa, kedisiplinan, dan tanggung jawab. Saya bertekad menjadi siswa yang lebih baik, menghargai semua guru dan teman, dan tidak lagi takut gagal saat mencoba hal-hal positif,” ungkap Zidan mantap.
Pada akhirnya, bagi keluarga besar SMP Negeri 2 Pucuk, peringatan Sumpah Pemuda bukan sekadar seremonial membaca teks sejarah, melainkan tentang bagaimana menyiapkan masa depan. Dari sekolah ini, obor semangat itu terus dinyalakan—menguatkan keyakinan diri, dan mencetak generasi muda yang siap belajar, berprestasi, dan kelak berkarya nyata untuk kebangkitan Indonesia.
Kontributor: M. Said









