Manfaatkan Lahan Tidur untuk Mendukung Program Ketahanan Pangan

Listen to this article

LAMONGAN lintasjatimnews – Paguyuban Petani Rawa Dusun Ngareng, Desa Kudikan, Kecamatan Sekaran, Kabupaten Lamongan, mengoptimalkan pemanfaatan lahan rawa untuk budidaya padi dan bawang merah. Langkah ini menjadi upaya masyarakat dalam meningkatkan produktivitas lahan, memperkuat ketahanan pangan, dan meningkatkan kesejahteraan petani dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan.

Melalui pembinaan dan pendampingan Fakultas Ketahanan Pangan (FKP) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), lahan rawa yang sebelumnya belum dimanfaatkan, kini ditanami untuk kegiatan pertanian. Pengembangan tersebut menjadi contoh pemanfaatan potensi lokal untuk mendukung program pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional menuju swasembada pangan.

Dekan FKP Unesa, Prof. Dr. Nining Widyah Kusnanik, menyampaikan bahwa optimalisasi lahan sesuai dengan karakteristik wilayah merupakan salah satu langkah strategis untuk meningkatkan produksi pangan. Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mendampingi masyarakat agar pengelolaan sumber daya lokal dapat memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan.

“Lahan rawa memiliki potensi untuk mendukung produksi pangan apabila dikelola dengan tepat. Melalui pendampingan perguruan tinggi dan kolaborasi bersama petani, potensi tersebut dapat dikembangkan menjadi sumber pendapatan masyarakat dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan,” ujarnya.

Menurutnya, pengelolaan lahan rawa harus mempertimbangkan karakteristik lingkungan dan pola musim. Ketika musim hujan, lahan rawa di Dusun Ngareng berfungsi sebagai tempat penampungan air yang mendukung irigasi persawahan. Sementara itu, ketika musim kemarau dan lahan mengering, sebagian area dapat dimanfaatkan untuk budidaya komoditas pertanian yang sesuai.

Pendekatan ini memungkinkan lahan memberikan manfaat ekonomi tanpa menghilangkan fungsi ekologisnya. Dengan demikian, peningkatan produksi pangan dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga keseimbangan lingkungan.

Wakil Dekan Bidang II FKP Unesa, Prof. Dr. Ahmad Ajib Ridlwan, yang merupakan putra asli Lamongan, juga menekankan pentingnya mengembangkan potensi pertanian daerah melalui kolaborasi perguruan tinggi dan masyarakat.

“Sebagai putra asli Lamongan, saya melihat potensi pertanian di daerah ini sangat besar untuk dikembangkan. Kita perlu mendorong agar lahan yang selama ini belum produktif dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, tentu dengan tetap menjaga fungsi ekologis dan kelestarian lingkungan,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan program ketahanan pangan tidak cukup hanya diukur dari peningkatan produksi, tetapi juga dari kemampuan kegiatan pertanian dalam meningkatkan kesejahteraan petani. Karena itu, pengembangan lahan perlu disertai upaya meningkatkan efisiensi biaya produksi, memperbaiki kualitas hasil panen, dan memperluas akses pasar.

“Jangan sampai kita hanya berorientasi pada berapa banyak hasil panen yang diperoleh. Kita juga harus memastikan bahwa petani mendapatkan pendapatan yang baik, biaya produksi dapat dikendalikan, dan hasil panen memiliki akses pasar yang jelas. Dengan begitu, ketahanan pangan berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan petani,” tambahnya.

Ahmad berharap program pendampingan FKP Unesa di Lamongan dapat terus dikembangkan sebagai model pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal. Dukungan pemerintah, khususnya dalam penyediaan alat dan mesin pertanian (alsintan), akses permodalan, penerapan teknologi budidaya, dan pemasaran hasil panen, diperlukan agar pemanfaatan lahan rawa dapat berlangsung secara produktif dan berkelanjutan.

Mengubah Lahan Tidur Menjadi Sumber Penghidupan

Paguyuban Petani Rawa Dusun Ngareng, Zainul Imron, menjelaskan bahwa selama ini lahan rawa di wilayahnya belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, ketika musim kemarau tiba, lahan yang mengering memiliki potensi untuk digunakan sebagai area budidaya pertanian.

“Kami mengajak masyarakat untuk bersama-sama memanfaatkan lahan rawa ini dengan pendampingan Fakultas Ketahanan Pangan Unesa. Alhamdulillah, melalui program ini, kami mulai mengembangkan budidaya padi dan bawang merah yang diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani,” ungkap Imron.

Menurutnya, pemanfaatan lahan rawa tidak hanya bertujuan menghasilkan komoditas pangan, tetapi juga mendorong masyarakat agar lebih produktif dalam mengelola potensi yang tersedia di lingkungan mereka. Dengan pendampingan yang tepat, lahan yang sebelumnya kurang memberikan nilai ekonomi dapat menjadi sumber penghidupan bagi petani.

Imron menegaskan bahwa pengembangan pertanian tetap memperhatikan fungsi rawa sebagai tempat penampungan air ketika musim hujan. Karena itu, pemanfaatan lahan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi musim dan tidak dimaksudkan untuk menghilangkan fungsi ekologis rawa secara permanen.

Dari total lahan rawa seluas 85 hektare, sebanyak 50 hektare ditanami padi oleh 45 petani, dengan hasil rata-rata 7 ton per hektare dan nilai penjualan mencapai Rp 2,8 M.

Sementara itu, Bawang merah ditanam di lahan seluas 1 hektare, melibatkan 4 petani, dengan hasil panen mencapai 10 ton dan nilai penjualan sebesar Rp 200 juta.

Data tersebut menjadi indikator penting untuk melihat dampak pemanfaatan lahan rawa terhadap produksi pangan dan perekonomian masyarakat. Diversifikasi komoditas melalui budidaya padi dan bawang merah juga membuka peluang bagi petani untuk mengoptimalkan penggunaan lahan sesuai kondisi musim.

Imron berharap kegiatan ini dapat terus berlanjut dan mendapat dukungan dari berbagai pihak, terutama pemerintah daerah. Salah satu kebutuhan utama petani adalah bantuan alsintan untuk mempermudah pengolahan lahan, meningkatkan efisiensi usaha tani, dan mengurangi beban kerja.

“Kami berharap ada dukungan bantuan alsintan agar pengelolaan lahan semakin mudah dan efisien, hasil panen meningkat, serta kesejahteraan petani semakin baik,” harapnya.

Kolaborasi untuk Ketahanan Pangan Berkelanjutan

Pemanfaatan lahan rawa di Dusun Ngareng menunjukkan bahwa upaya memperkuat ketahanan pangan dapat dimulai dari tingkat desa melalui pengelolaan sumber daya lokal. Kolaborasi antara petani dan perguruan tinggi menjadi salah satu pendekatan untuk menghubungkan pengetahuan, pendampingan teknis, dan praktik pertanian di lapangan.

Bagi masyarakat, optimalisasi lahan rawa diharapkan memberikan manfaat ganda, yakni meningkatkan produksi pangan dan memperkuat pendapatan rumah tangga petani. Bagi lingkungan, pengelolaan yang mempertahankan fungsi penampungan air menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan sistem pertanian setempat.

Melalui pembinaan FKP Unesa, Paguyuban Petani Rawa Dusun Ngareng diharapkan semakin mandiri dalam mengembangkan usaha pertanian yang produktif, berdaya saing, dan ramah lingkungan.

Inisiatif ini sekaligus menegaskan bahwa mendukung ketahanan pangan tidak selalu harus dimulai dengan membuka lahan baru secara permanen. Mengoptimalkan lahan yang tersedia sesuai karakteristik alam, memperkuat kapasitas petani, dan membangun kolaborasi lintas sektor dapat menjadi langkah nyata untuk meningkatkan produksi pangan sekaligus menjaga kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

Reporter: ahmadh