TOF Tunas Athfal Jadi Titik Awal, Peserta Pemula Minta Praktik Lapangan Diperbanyak

Listen to this article

PASURUAN lintasjatimnews – Dua hari mengikuti Training of Facilitator (TOF) Tunas Athfal tidak hanya menjadi kesempatan menambah pengetahuan bagi Al Fatimatus Sholichah, utusan Ikatan Guru Aisyiyah Bustanul Athfal (IGABA) Kota Pasuruan. Bagi peserta pemula tersebut, pelatihan ini menjadi titik awal untuk membangun keberanian dan kepercayaan diri dalam mengimplementasikan kepanduan bagi anak usia dini.

TOF Tunas Athfal yang digelar Pimpinan Wilayah IGABA Jawa Timur berlangsung di Aisyiyah Training Center (ATC) Purwosari, Pasuruan, 1–2 Oktober 2026. Peserta berasal dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur dengan latar belakang pengalaman yang beragam.

“Alhamdulillah, dengan adanya kegiatan TOF kami datang untuk mencari wawasan baru, khususnya bagi kami yang masih pemula,” kata Al Fatimatus.

Menurutnya, materi yang diberikan selama TOF membuka perspektif baru tentang bagaimana Tunas Athfal dapat dikembangkan secara lebih terarah. Namun, bagi peserta yang baru memulai, pengetahuan saja belum cukup.

Ia menilai pengalaman praktik secara langsung perlu mendapatkan porsi lebih besar dalam pelaksanaan TOF berikutnya. Praktik lapangan dinilai dapat membantu peserta menerjemahkan materi yang diterima menjadi kegiatan nyata bersama anak.

“Semoga kegiatan luar biasa seperti ini dapat terus diselenggarakan secara berkelanjutan. Mungkin dengan porsi praktik lapangan yang lebih banyak lagi agar peserta pemula bisa semakin percaya diri,” ujarnya.

Bagi Al Fatimatus, kepercayaan diri fasilitator menjadi salah satu kunci ketika kegiatan Tunas Athfal diterapkan di lapangan. Guru bukan hanya dituntut memahami konsep, tetapi juga harus mampu mengemas kegiatan kepanduan menjadi pengalaman yang menyenangkan dan sesuai dengan dunia anak.

Karena itu, ia berharap TOF ke depan tidak hanya memperkuat aspek pengetahuan, tetapi juga memberikan ruang lebih luas kepada peserta untuk mencoba langsung berbagai metode permainan, aktivitas kelompok, pembiasaan, serta bentuk kegiatan kepanduan yang dapat diterapkan di PAUD.

“Langkah kecil yang kita mulai hari ini menjadi keberkahan dan memberikan dampak positif bagi tumbuh kembang generasi Tunas Athfal di masa depan,” tuturnya.

Pengalaman mengikuti TOF juga semakin bermakna karena peserta tidak belajar sendirian. Al Fatimatus tergabung dalam satu kelompok bersama peserta IGABA dari Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Banyuwangi.

Kerja kelompok lintas daerah tersebut menjadi ruang untuk saling mengenal, bertukar pengalaman, dan mendiskusikan kemungkinan pengembangan Tunas Athfal di daerah masing-masing.

Menurutnya, keberagaman pengalaman peserta justru menjadi kekuatan dalam pelatihan. Peserta yang sudah memiliki pengalaman dapat berbagi praktik, sedangkan peserta pemula memperoleh gambaran lebih konkret mengenai pelaksanaan kegiatan di lapangan.

Dari pengalaman dua hari tersebut, Al Fatimatus membawa satu harapan: pelatihan Tunas Athfal harus terus bergerak dari ruang kelas menuju praktik nyata.

Pengetahuan yang diperoleh selama TOF diharapkan tidak berhenti sebagai materi pelatihan, tetapi menjadi bekal bagi guru untuk menciptakan kegiatan kepanduan yang aktif, menyenangkan, terarah, dan memberikan pengalaman bermakna bagi anak.

Dengan demikian, langkah kecil para guru hari ini diharapkan menjadi bagian dari proses panjang membentuk generasi Tunas Athfal yang mandiri, percaya diri, bertanggung jawab, dan memiliki karakter positif sejak usia dini.

Reporter: Fathurrahim Syuhadi