DEPOK LintasJatimNews – Suasana Masjid Al Hijri Kompleks BBPPMPV Bisnis dan Pariwisata Depok, Jawa Barat, terasa penuh kekhusyukan sekaligus semangat pada Rabu (30/9/2026) pagi. Ratusan peserta Rakornas Sekolah/Madrasah Muhammadiyah Unggul 2026 berkumpul melaksanakan shalat subuh berjamaah yang dilanjutkan dengan menyimak Kuliah Subuh dari Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed.
Di hadapan 520 peserta yang terdiri dari kepala sekolah/madrasah Muhammadiyah unggul, pimpinan Majelis Dikdasmen & PNF PP Muhammadiyah, serta jajaran Dikdasmen PWM dan PDM se-Indonesia, Kyai Menteri menyampaikan ceramah berdurasi sekitar 70 menit. Dengan gaya penyampaiannya yang lugas dan penuh kehangatan, para peserta tampak sangat antusias menyimak setiap pesan pencerahan yang disampaikan.
Dalam tausiyahnya, Abdul Mu’ti mengajak para pemimpin lembaga pendidikan Muhammadiyah untuk menjadi pribadi yang luas wawasannya, luwes dalam bersikap, serta fleksibel dalam merespons dinamika perubahan zaman.
”Pemimpin yang fleksibel adalah pemimpin yang sukses. Pemimpin tidak boleh lemas, tetapi harus adaptif,” tegas Sekum PP Muhammadiyah tersebut di hadapan para peserta.
Ia mengingatkan bahwa seorang kepala sekolah tidak boleh hanya berdiam di ruang kerja atau sekadar berkutat dengan rutinitas administratif semata. Pemimpin pendidikan modern dituntut memperluas jaringan, membangun relasi antarlembaga, serta terus membuka diri untuk belajar dari berbagai pengalaman.
Abdul Mu’ti mengutip pesan inspiratif dari almarhum Prof. Dr. Malik Fadjar bahwa syarat utama seorang pemimpin adalah “luas dan luwes”. Luas berarti memiliki wawasan yang terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, sedangkan luwes berarti tidak kaku dan mampu menyesuaikan diri dalam menyelesaikan berbagai tantangan.
”Luas wawasan, luwes dalam tindakan. Jangan kaku. Karena itu pemimpin harus fleksibel,” tuturnya.
Lebih lanjut, Abdul Mu’ti menekankan pentingnya membangun budaya belajar di lingkungan sekolah/madrasah. Menurutnya, proses belajar tidak hanya bersumber dari buku teks, melainkan dari amatan praktik baik (best practices) sekolah lain yang kemudian dimodifikasi dan diinovasikan.
Ia juga berpesan agar para kepala sekolah tidak berkecil hati saat menemui kegagalan. Kegagalan hendaknya dijadikan bahan evaluasi dan refleksi untuk melangkah lebih kuat.
”Belajar tidak hanya dari orang yang sukses. Kita juga bisa belajar dari kegagalan,” lanjutnya.
Dalam perspektif Muhammadiyah, semangat pembaruan (tajdid) harus melandasi setiap arah kebijakan sekolah. Abdul Mu’ti menegaskan bahwa sekolah/madrasah Muhammadiyah yang unggul tidak sekadar diukur dari kemegahan sarana fisik, melainkan dari kualitas kepemimpinan, karakter, serta inovasi pembelajaran. Visi sekolah harus diterjemahkan menjadi aksi dan target yang terukur.
Menutup Kuliah Subuh, Abdul Mu’ti mengingatkan pentingnya merawat tradisi kedermawanan sebagai identitas utama warga Muhammadiyah. Kepedulian sosial melalui budaya berinfak dan penguatan filantropi bersama Lazismu harus tetap ditanamkan di lingkungan sekolah.
Momentum Kuliah Subuh ini menjadi salah satu penutup inspiratif dalam rangkaian Rakornas Sekolah/Madrasah Muhammadiyah Unggul 2026. Para peserta diharapkan membawa pulang pesan kunci dari Depok: menjadi pemimpin yang luas wawasannya, luwes sikapnya, berani belajar dari kegagalan, dan konsisten mewujudkan pendidikan Muhammadiyah yang unggul dan berkemajuan.
Usai sesi kuliah subuh, peserta rakornas langsung menuju lapangan tepat di sebelah masjid untuk melaksanakan senam bersama Pak Menteri.
Kontributor; M. Said









