DEPOK LintasJatimNews – Pendidikan Muhammadiyah bukan sekadar mengisi ruang kelas atau mengejar jumlah peserta didik. Lebih dari itu, lembaga pendidikan Muhammadiyah memikul misi besar: menyelamatkan masa depan bangsa sekaligus membentuk manusia unggul, berkarakter, dan bertauhid teguh.
Pesan mendalam itu disampaikan Wakil Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah, Dr. K.H. M. Sholihin Fanani, M.PSDM., dalam sesi Kuliah Subuh pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Sekolah/Madrasah Muhammadiyah Unggul, Selasa (29/9/2026).
Bertema “Bersama Mewujudkan Sekolah Unggul, Berakhlak Mulia, Berdampak Nyata”, kegiatan ini berlangsung di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Bisnis dan Pariwisata (BBPPMPV BisPar), Parung, Bogor.
Dua Tanggung Jawab Utama Pendidikan Muhammadiyah
Dalam pencerahannya, pria yang akrab disapa Abah Sholihin itu menegaskan adanya dua tanggung jawab utama pendidikan Muhammadiyah:
Pertama, mengentaskan kebodohan. Pendidikan harus mencegah generasi terbelenggu kebodohan yang menyeret pada tahayul, bid’ah, dan khurafat. Melalui ilmu dan kemandirian, lahirlah manusia unggul yang sehat jasmani-rohani, menolak pengaruh buruk, dan aktif mengemban amar ma’ruf nahi munkar.
Kedua, mengentaskan kemiskinan. Sebab, kemiskinan yang mendesak seseorang dapat mendekatkan pada kekufuran — dan kekufuran dapat menjauhkan manusia dari jalan yang lurus.
Muara Pendidikan: Integrasi 4T
Untuk mewujudkan misi tersebut, Abah Sholihin menekankan pentingnya mengintegrasikan empat pilar — yang disingkat 4T — ke dalam setiap proses pembelajaran:
1. Tilawah — membaca dan berliterasi, melahirkan pribadi cerdas dan berwawasan luas.
2. Takziyah — kesucian diri, membentuk pikiran, ucapan, dan tindakan yang bersih. “Pikiran menjadi ucapan, ucapan menjadi tindakan, tindakan menjadi karakter, dan karakter menjadi arah kehidupan,” ujarnya.
3. Ta’lim — pembelajaran yang membentuk kebijaksanaan, agar peserta didik paham apa yang dikerjakan dan peka terhadap apa yang tidak boleh dilakukan.
4. Tauhid — menjadikan Allah SWT satu-satunya tempat bergantung, sebagaimana ditegaskan dalam kalimat Laa Haula wa laa Quwwata illaa Billaah.
“Semangat inilah yang harus terus disiram dan dihidupkan di seluruh sekolah serta madrasah Muhammadiyah. Kami ingin melahirkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan sosial,” tegas Abah Sholihin.
Melalui Rakornas ini, diharapkan seluruh jajaran pendidikan Muhammadiyah semakin mantap memperkuat komitmen pembinaan moral sekaligus peningkatan mutu, demi menyongsong masa depan Indonesia yang lebih berkemajuan.
Semangat “Anak Indonesia Hebat” Warnai Suasana Rakornas
Tak hanya sarat materi, Rakornas ini juga menghidupkan kebiasaan Anak Indonesia Hebat secara disiplin oleh seluruh peserta. Rangkaian dimulai sejak dini hari: bangun pagi, shalat lail, hingga shalat subuh berjamaah.
Usai Kuliah Subuh, para peserta berkumpul di lapangan untuk berolahraga bersama. Suasana makin meriah saat senam SAIH, Poco-poco, hingga aerobik mengisi pagi. Setelah tubuh segar, sarapan bergizi disantap bersama sebelum kembali mengikuti sesi materi.
Kehangatan interaksi pun terjalin erat antarpeserta yang hadir dari berbagai daerah di Indonesia. Kegiatan ditutup dengan istirahat tertib agar esok hari tetap prima melanjutkan agenda.
Kontributor: M. Said









