LAMONGAN lintasjatimnews – Puncak kesyukuran 4 Dasawarsa Pondok Pesantren Al-Ishlah Sendangagung, Paciran, Lamongan, berlangsung meriah. Sekitar 4.000 peserta yang terdiri atas wali santri, guru, alumni, santri, dan para undangan hadir dalam momentum bersejarah tersebut, Ahad (27/9/2026).
Salah satu rangkaian penting dalam puncak kesyukuran tersebut adalah pemberian penghargaan kepada para penulis yang berasal dari kalangan guru, dosen, mahasiswa, dan santri. Sebanyak 40 judul buku karya keluarga besar Al-Ishlah mendapat apresiasi sebagai kado literasi dalam peringatan empat dasawarsa tersebut.
Belasan penulis tampak berjejer di panggung utama dengan latar backdrop bertuliskan “Kesyukuran 4 Dasawarsa Pondok Pesantren Al-Ishlah”. Mereka menerima tas suvenir berlogo 40 tahun sebagai tanda penghargaan atas karya yang telah dihasilkan.
Ketua STIQSI Lamongan Drs. H. Agus Salim, M.Pd.I., yang sekaligus menjadi editor buku, menyampaikan bahwa momentum kesyukuran 4 Dasawarsa Pondok Al-Ishlah melahirkan dua buku penting.
Pertama, Jejak Empat Dasawarsa, yang berisi kumpulan karya guru dan santri. Kedua, Menyalakan Cahaya Peradaban, yang memuat tulisan-tulisan reflektif mengenai perjalanan 40 tahun Pondok Pesantren Al-Ishlah.
Menurutnya, kehadiran karya-karya tersebut menunjukkan bahwa perjalanan Al-Ishlah selama empat dasawarsa tidak hanya ditandai dengan perkembangan lembaga dan jumlah lulusan, tetapi juga dengan tumbuhnya tradisi keilmuan dan literasi.
“Kehadiran 40 karya buku itu menjadi salah satu penanda bahwa perjalanan Al-Ishlah selama 40 tahun tidak hanya ditandai oleh pertumbuhan lembaga dan jumlah lulusan, tetapi juga oleh tumbuhnya tradisi keilmuan dan literasi,” ujar penulis dan mubaligh produktif ini
Ia berharap karya-karya tersebut menjadi bagian dari ikhtiar untuk terus mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berkarya di lingkungan pesantren.
Para penulis yang hadir dan menerima penghargaan di panggung puncak kesyukuran tersebut berasal dari berbagai unsur.
Dari kalangan guru terdapat Arif Rahman, S.Pd., Gondo Waloyo, S.Ag., M.A., dan Sri Asian, S.Pd. Dari kalangan dosen hadir Dr. Muhammad Arwani Rofi’i, Lc., M.Ag., serta Eko Suryaddin Zain, Lc., M.Pd.I., MA. Sementara dari kalangan mahasiswa terdapat Nurin Alfiani dan M. Rafsanjani.
Adapun dari kalangan santri antara lain Muhammad Mumtaz Zakaria, Aura Dinar Az-Zahra, Gendis Eka Putriana, Fika Intan Nur Aini, Fresha Rajwa Maitsa, Silmi Jihan Mumtazah Afira, dan Jasmine Raihanatu Qolbi.
Kehadiran para penulis di panggung utama menjadi simbol bahwa pesantren tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang tumbuhnya gagasan, kreativitas, dan karya.
Empat puluh karya buku tersebut sekaligus menjadi kado istimewa bagi perjalanan Al-Ishlah. Jika empat dasawarsa adalah perjalanan panjang sebuah lembaga pendidikan, maka karya tulis merupakan jejak pemikiran yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Buku tidak hanya menyimpan kata-kata, tetapi juga merekam gagasan, pengalaman, nilai, dan refleksi. Karena itu, lahirnya puluhan karya pada momentum 40 tahun Al-Ishlah menjadi bagian penting dari perjalanan pesantren dalam membangun tradisi keilmuan.
Puncak kesyukuran tersebut akhirnya bukan sekadar perayaan untuk mengenang perjalanan masa lalu. Momentum itu menjadi peneguhan kembali cita-cita pendidikan yang telah dirintis Pondok Pesantren Al-Ishlah sejak 40 tahun lalu.
Dengan ilmu, keikhlasan, pengabdian, dan tradisi literasi, Al-Ishlah terus melangkah menyalakan cahaya pendidikan dan peradaban.
Puncak kesyukuran tersebut juga dihadiri Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., Bupati Lamongan Dr. Yuhronur Efendi, MBA., M.Ek., sejumlah pejabat tingkat provinsi dan kabupaten, serta tokoh nasional.
Reporter Fathurrahim Syuhadi









