LAMONGAN lintasjatimnews — Peringatan empat dasawarsa Pondok Pesantren Al-Ishlah Sendangagung, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, berlangsung meriah dengan dihadiri ribuan undangan dan santri setempat, Ahad (27/9/2026)
Kegiatan yang menandai perjalanan 40 tahun Pondok Pesantren Al-Ishlah tersebut menghadirkan sejumlah tokoh, di antaranya Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Prof. Abdul Mu’ti, Bupati Lamongan Yuhronur Efendi, guru besar dari berbagai perguruan tinggi, pimpinan pondok pesantren, wali santri, serta para alumni.
Hadir pula jajaran Muspika Kecamatan Paciran, anggota DPRD Jawa Timur, anggota DPR RI, tokoh masyarakat, dan sejumlah tamu undangan lainnya.
Dalam kesempatan tersebut, KH Dawam Shaleh, pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Al-Ishlah, menyampaikan perjalanan panjang pesantren yang didirikannya sejak 13 September 1986.
KH Dawam Shaleh mengungkapkan, ketika pertama kali didirikan, Pondok Pesantren Al-Ishlah hanya memiliki 10 orang santri. Namun, setelah melewati perjalanan selama empat dasawarsa, jumlah santri kini telah berkembang hingga mencapai sekitar 2.000 orang.
“Pendirian Pondok Pesantren Al-Ishlah pada tanggal 13 September 1986 dengan santri awal 10 orang. Saat ini mencapai 2 ribu santri,” ujar KH Dawam Shaleh di hadapanribuan para undangan dan santri.
Ia juga menceritakan bagaimana dirinya menjalani proses pengasuhan santri selama puluhan tahun. Menurutnya, mengasuh santri merupakan amanah yang dilakukan hampir sepanjang waktu, siang dan malam.
Salah satu kebiasaan yang terus dijaganya adalah melaksanakan salat Subuh berjamaah bersama para santri. KH Dawam Shaleh menyampaikan bahwa selama 40 tahun hampir tidak pernah meninggalkan salat Subuh berjamaah bersama santri, kecuali ketika sedang bepergian.
Selain salat berjamaah, kegiatan pengajian Subuh juga menjadi bagian penting dalam kehidupan pesantren. Secara rutin, KH Dawam Shaleh memberikan pengajian dan pembinaan kepada para santri secara langsung
Dalam membesarkan Pondok Pesantren Al-Ishlah, KH Dawam Shaleh selalu menanamkan tiga nilai utama kepada para santrinya, yaitu cinta ilmu, cinta kerja, dan cinta ibadah.
Menurutnya, ketiga hal tersebut harus dijalankan secara sungguh-sungguh dan seimbang. Ilmu menjadi bekal untuk memahami kehidupan, kerja menjadi sarana untuk berusaha dan mandiri, sedangkan ibadah menjadi landasan hubungan manusia dengan Allah Swt.
“Cinta ilmu, cinta kerja, dan cinta ibadah. Bila ketiganya dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, maka dunia akan datang dengan sendirinya,” pesan KH Dawam Shaleh.
Pesan tersebut menjadi salah satu prinsip yang terus ditanamkan kepada para santri Al-Ishlah agar tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mempunyai etos kerja dan keteguhan dalam beribadah.
Di hadapan para tamu undangan, KH Dawam Shaleh juga menyampaikan pesan moral kepada para pejabat negara yang hadir.
Ia secara khusus berpesan kepada Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah serta Bupati Lamongan agar senantiasa menjaga amanah dan tidak melakukan korupsi.
“Pak Menteri dan Pak Bupati jangan sampai korupsi,” tegas KH Dawam Shaleh.
Pesan tersebut disampaikan sebagai pengingat bahwa jabatan merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan, baik kepada masyarakat maupun kepada Allah Swt.
KH Dawam Shaleh juga mengungkapkan bahwa pada awal mendirikan Pondok Pesantren Al-Ishlah, dirinya memiliki keinginan untuk meniru sistem pendidikan Pondok Modern Darussalam Gontor.
Ia sempat merencanakan pendidikan dengan mendirikan Kulliyatul Mu’allimin al-Islamiyah (KMI) sebagaimana yang dikembangkan di Gontor. Namun, rencana tersebut belum sempat berhasil diwujudkan secara penuh.
Meski demikian, perjalanan Pondok Pesantren Al-Ishlah terus berkembang dan mengalami berbagai kemajuan. Dari hanya 10 santri pada awal berdiri, kini Al-Ishlah telah menjadi salah satu lembaga pendidikan pesantren yang memiliki ribuan santri.
Peringatan empat dasawarsa ini menjadi momentum untuk mengenang perjalanan panjang perjuangan pendiri, pengasuh, guru, santri, alumni, wali santri, serta seluruh pihak yang turut membesarkan Pondok Pesantren Al-Ishlah.
Empat puluh tahun perjalanan Al-Ishlah sekaligus menjadi refleksi bahwa pesantren tidak hanya membangun lembaga pendidikan, tetapi juga menanamkan nilai ilmu, kerja, dan ibadah sebagai bekal generasi dalam menghadapi kehidupan.
Reporter : Fathurrahim Syuhadi









