LAMONGAN lintasjatimnews – Di tengah arus zaman yang bergerak begitu cepat, manusia kerap terjebak dalam ritme kehidupan yang serba instan. Segala sesuatu seakan harus diraih dalam waktu singkat, tanpa jeda, tanpa proses panjang yang mengakar. Namun di balik kegesaan itu, ada satu hal yang tetap menuntut kesabaran, ketekunan, dan kesungguhan hati: menuntut ilmu.
Dr. Maftuhah, M.Pd. Wakil Ketua STIT Muhammadiyah Paciran menegaskan bahwa belajar bukan sekadar aktivitas akademik yang berorientasi pada nilai atau gelar, melainkan sebuah perjalanan batin yang mengasah akal sekaligus mematangkan jiwa.
“Ilmu itu bukan hasil dari kecepatan, tetapi dari kedalaman. Ia tidak bisa dipetik secara instan, melainkan harus dirawat melalui proses panjang yang penuh kesungguhan,” ujar DR Maftuhah MPd
Menurutnya, semangat menuntut ilmu sejatinya adalah nyala api yang harus terus dijaga. Ia bukan percikan sesaat yang mudah padam oleh rasa malas atau kelelahan. Api itu hidup dalam diri mereka yang percaya bahwa setiap pengetahuan adalah cahaya, dan setiap proses belajar adalah langkah menuju pemahaman yang lebih luas tentang kehidupan.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa ilmu tidak datang dengan sendirinya. Ia harus dijemput dengan kerja keras, diperjuangkan dengan waktu, dan dipelihara dengan konsistensi. Dalam perjalanan itu, seseorang tidak akan lepas dari berbagai tantangan, mulai dari kebingungan hingga kegagalan. Namun justru di situlah makna sejati dari belajar.
“Setiap kesulitan adalah ruang pembelajaran, dan setiap kegagalan adalah guru yang menguatkan,” tambahnya.
Di era digital saat ini, akses terhadap ilmu memang semakin terbuka lebar. Informasi tersedia dalam genggaman, tersebar luas di berbagai platform. Namun DR Maftuhah melihat adanya ironi di balik kemudahan tersebut. Banyaknya informasi tidak selalu berbanding lurus dengan kedalaman pemahaman. Tanpa kemampuan berpikir kritis, seseorang justru bisa tenggelam dalam arus data yang tidak bermakna.
“Belajar hari ini bukan hanya soal membaca dan mendengar, tetapi juga tentang menyaring, memahami, dan mengolah informasi menjadi pengetahuan yang bernilai,” jelas Dosen STIT Muhammadiyah Paciran ini
Ia menekankan pentingnya kemampuan refleksi agar ilmu yang diperoleh tidak berhenti sebagai informasi, tetapi berkembang menjadi kebijaksanaan.
Lebih dari itu, menuntut ilmu juga memiliki dimensi spiritual. Dalam pandangannya, belajar adalah bagian dari ibadah dalam arti luas. Melalui ilmu, manusia dapat mengenal dirinya, lingkungannya, dan Tuhannya. Nilai-nilai seperti keikhlasan, kesabaran, dan kerendahan hati tumbuh seiring dengan proses belajar yang dijalani.
Namun, menjaga semangat belajar bukanlah hal yang mudah.
Lingkungan, kata DR Maftuhah, memiliki peran besar dalam menumbuhkan dan memelihara semangat tersebut. Dukungan keluarga, inspirasi dari guru, serta suasana belajar yang positif menjadi faktor penting agar api semangat tidak padam.
Di sisi lain, tantangan terbesar justru sering datang dari dalam diri sendiri.
Rasa malas, kurang percaya diri, dan ketidakdisiplinan menjadi penghambat utama. Oleh karena itu, kemampuan mengelola diri menjadi kunci dalam perjalanan menuntut ilmu.
“Ketika seseorang mampu mengalahkan dirinya sendiri, maka pintu-pintu ilmu akan terbuka lebih luas,” tegas Doktor lulusan UMM ini
Ia juga menyoroti pentingnya visi hidup dalam menjaga konsistensi belajar. Seseorang yang memiliki tujuan yang jelas akan lebih mudah bertahan dalam proses yang panjang. Tanpa visi, belajar akan terasa hampa dan kehilangan arah.
Pada akhirnya, DR Maftuhah menegaskan bahwa menuntut ilmu adalah perjalanan seumur hidup. Ia tidak berhenti di ruang kelas, tetapi terus berlanjut sepanjang manusia masih memiliki rasa ingin tahu. Dalam dunia yang terus berubah, ilmu menjadi bekal utama untuk beradaptasi dan bertahan.
“Menjaga semangat menuntut ilmu adalah investasi terbesar dalam kehidupan. Ia bukan hanya tentang masa depan, tetapi juga tentang kualitas diri,” pungkasnya.
Melalui refleksi ini, ia mengajak semua pihak untuk terus menyalakan api ilmu dalam diri masing-masing. Sebab, ilmu yang sejati bukan hanya yang mampu mengisi, tetapi yang mampu menerangi—baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain.
Reporter Fathurrahim Syuhadi









