PROBOLINGGO lintasjatimnews – Momentum peringatan Hari Kartini kembali menjadi ruang refleksi bagi generasi muda, khususnya perempuan, untuk meneguhkan peran strategisnya dalam perubahan zaman. Hal ini disampaikan oleh Aprilia Kholifatul Nisya, aktivis pelajar sekaligus Ketua Umum PD IPM Kabupaten Probolinggo periode 2023–2025.
Perempuan kelahiran Surabaya, 12 April 2003 ini menegaskan bahwa di tengah arus perubahan yang begitu cepat, perempuan tidak cukup hanya menjadi pelengkap dalam sistem sosial. Lebih dari itu, perempuan harus mampu menjadi penggerak perubahan yang nyata.
“Perempuan tangguh adalah mereka yang mampu bertahan di tengah badai tanpa kehilangan arah, serta terus berproses menjadi versi terbaik dari dirinya,” ujar penulis produktif ini
Lulusan Program Studi Ilmu Sejarah Universitas Airlangga ini menjelaskan bahwa ketangguhan perempuan tidak hanya diukur dari kekuatan fisik, tetapi juga dari kekuatan mental, keberanian dalam mengambil keputusan, serta konsistensi dalam menempuh pendidikan.
Menurutnya, dari perempuan yang tangguh akan lahir pelajar berkemajuan, yakni generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki daya saing dan kesadaran sosial yang tinggi.
“Pelajar berkemajuan lahir dari perempuan yang berani melawan batasan dan stigma, serta terus belajar tanpa henti,” tegas penulis sejarah ini
Aprilia yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang Advokasi PD Nasyiatul Aisyiyah Kabupaten Probolinggo ini menilai bahwa pelajar berkemajuan tidak tumbuh secara instan. Ia merupakan hasil dari proses panjang yang melibatkan ketekunan, keberanian, dan lingkungan yang mendukung.
Dalam pandangannya, terbentuknya pelajar berkemajuan akan melahirkan pionir-pionir perempuan yang mampu membawa perubahan nyata di tengah masyarakat. Mereka tidak sekadar mengikuti arus, tetapi justru menciptakan arus perubahan dengan gagasan dan inovasi.
“Inilah siklus kemajuan yang harus dijaga: dari perempuan tangguh lahir pelajar berkemajuan, dan dari pelajar berkemajuan tumbuh pemimpin serta pionir perempuan,” jelasnya.
Namun demikian, Aprilia mengakui bahwa perjalanan menuju kesetaraan dan kemajuan perempuan tidaklah mudah. Berbagai tantangan masih dihadapi, mulai dari stereotip gender, keterbatasan ruang berekspresi, hingga tekanan sosial yang kerap membatasi langkah perempuan.
“Perempuan masih sering dihadapkan pada stigma yang menghambat potensinya. Ini menjadi tantangan bersama yang harus kita hadapi,” ungkapnya.
Oleh karena itu, ia menekankan bahwa peringatan Hari Kartini tidak boleh berhenti pada simbol atau seremoni tahunan. Momentum ini harus dimaknai sebagai upaya kolektif untuk memperkuat komitmen dalam menciptakan ruang yang adil dan setara bagi perempuan untuk berkembang.
Selain aktif di dunia organisasi, Aprilia juga dikenal memiliki minat besar dalam bidang seni, khususnya tari. Ia pernah meraih juara 3 dalam ajang FIB Got Talent yang diselenggarakan oleh Festival Budaya FIB UNAIR tahun 2022. Ketertarikannya pada sejarah perempuan juga tercermin dalam karya tugas akhirnya berupa video dokumenter tentang peran Majalah Suara Aisyiyah sebagai media pemberdayaan perempuan pada periode 1926–1942.
Menurutnya, memahami sejarah perempuan menjadi penting untuk memperkuat identitas dan kesadaran akan peran perempuan dalam membangun peradaban.
“Sejarah menunjukkan bahwa perempuan selalu memiliki peran penting dalam perubahan. Tugas kita adalah melanjutkan perjuangan itu dengan cara yang relevan di zaman sekarang,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa perempuan merupakan fondasi utama dalam perubahan sosial. Ketika perempuan menjadi tangguh, maka akan lahir generasi pelajar yang berkemajuan, dan dari sanalah akan muncul pemimpin masa depan yang siap menghadapi tantangan global.
Selanjutnya Aprilia mengajak seluruh perempuan, khususnya generasi muda, untuk terus mengembangkan diri dan berani mengambil peran dalam berbagai bidang.
“Perempuan harus berani menjadi pionir, bukan sekadar penonton. Karena dari perempuan tangguh, lahir masa depan yang lebih kuat,” pungkasnya.
Reporter Fathurrahim Syuhadi









