LAMONGAN lintasjatimnews – Peringatan Hari Kartini setiap bulan April kerap diwarnai dengan berbagai kegiatan seremonial, mulai dari lomba fashion show hingga ajang kecantikan. Namun, bagi Vivid Rohmaniyah, M.Pd, momentum ini seharusnya menjadi ruang refleksi yang lebih mendalam tentang makna perjuangan Raden Ajeng Kartini, khususnya dalam bidang pendidikan perempuan.
Ia menegaskan bahwa esensi perjuangan Kartini bukanlah pada simbol kebaya atau kecantikan fisik, melainkan pada kecerdasan dan pendidikan.
“Kartini tidak berjuang untuk dikenang melalui seremoni, tetapi agar perempuan bisa berpikir tajam, berdiri tegak, dan bermimpi setinggi mungkin,” ujar perempuan kelahiran Lamongan, 19 Oktober 1991 ini.
Menurutnya, paradigma yang masih mengukur perempuan dari aspek fisik harus segera diubah. Pendidikan menjadi kunci utama agar perempuan mampu menjadi manusia yang utuh—yang dapat mengambil keputusan, menyuarakan pendapat, bahkan memimpin.
“Perempuan bukan hanya soal kasur, sumur, dan dapur. Perempuan harus punya ruang untuk berkembang dan berdaya,” tegasnya.
Ia juga mengutip data dari UNESCO yang menunjukkan bahwa masih terdapat sekitar 133 juta anak perempuan di dunia yang tidak bersekolah. Selain itu, meskipun mayoritas tenaga pendidik di tingkat PAUD adalah perempuan, jumlah perempuan yang menduduki posisi kepemimpinan di pendidikan tinggi masih sangat terbatas.
“Fenomena ini menunjukkan bahwa perempuan masih menghadapi batasan tidak terlihat atau glass ceiling dalam dunia kepemimpinan,” jelas mahasiswa S3 di Universitas Muhammadiyah Malang ini
Sebagai guru PAUD, Vivid mengaku sering menjumpai realitas yang menarik sekaligus memprihatinkan. Ia mengamati banyak ibu yang tampil menarik secara fisik ketika mengantar anak ke sekolah, namun masih memiliki keterbatasan dalam kemampuan literasi, termasuk dalam berkomunikasi secara efektif.
“Ini menjadi refleksi bahwa kecantikan saja tidak cukup. Pendidikan tetap menjadi kebutuhan utama bagi perempuan,” kata anggota Departemen Organisasi PW NA Jawa Timur,
Ia menekankan bahwa peran ibu sangat krusial dalam masa awal pertumbuhan anak. Sebelum usia lima tahun, anak lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, sehingga kualitas pendidikan ibu sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak.
Menurutnya, ibu yang berpendidikan cenderung mampu memberikan stimulasi yang lebih baik, memperkaya kosa kata anak, menciptakan kebiasaan literasi, serta mengelola emosi anak dengan lebih bijak.
“Ibu yang berpendidikan akan menjadi fasilitator belajar yang efektif bagi anak-anaknya,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Vivid menegaskan bahwa investasi terbaik dalam kehidupan adalah pendidikan. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga oleh generasi berikutnya dan masyarakat secara luas.
“Setiap rupiah yang kita investasikan untuk pendidikan akan kembali berlipat ganda dalam bentuk generasi yang lebih cerdas dan produktif,” ujar guru PAUD di TK ABA Karangwungulor Laren.ini.
Ia mengajak seluruh perempuan Indonesia, khususnya para ibu dan pendidik, untuk menjadikan Hari Kartini sebagai titik balik dalam membangun kesadaran akan pentingnya pendidikan.
“Mari kita berhenti mengukur perempuan dari kecantikannya saja, dan mulai menghargai kecerdasannya,” ajaknya.
Alumni Ponpes Al Ishlah Sendang agung Paciran menegaskan bahwa perempuan cerdas adalah kunci lahirnya generasi emas Indonesia.
“Perempuan yang cerdas dan berpendidikan akan melahirkan generasi yang cerdas. Itulah makna Kartini yang sesungguhnya,” pungkas penyandang Magister Pendidikan dari UMM ini
Reporter Fathurrahim Syuhadi









