Srikandi Modern : Merajut Karakter Kartini Melalui Jembatan Pendidikan dan Keteladanan

Listen to this article

LAMONGAN lintasjatimnews – Peringatan Hari Kartini setiap 21 April kembali menjadi momentum refleksi tentang pentingnya pendidikan dan keteladanan dalam membentuk karakter generasi bangsa. Hal tersebut disampaikan oleh Dra. Nur Inayati, guru di MIM 08 Pelangwot Laren ini menegaskan bahwa sosok Raden Ajeng Kartini tidak sekadar simbol sejarah, melainkan pelopor perubahan yang meletakkan dasar pembangunan karakter bangsa melalui pendidikan.

“Kartini tidak hanya memperjuangkan hak belajar, tetapi juga membangun kesadaran bahwa pendidikan adalah jalan memuliakan manusia,” ujar Sekretaris PC Aisyiyah Laren ini

Menurutnya, di era disrupsi digital saat ini, makna Kartini tidak boleh berhenti pada seremoni kebaya dan peringatan simbolik. Justru, nilai-nilai Kartini harus dihidupkan melalui dua pilar utama, yakni pendidikan yang membebaskan dan keteladanan yang nyata.

Dalam pandangannya, pendidikan memiliki peran fundamental sebagai “rahim” pembentuk karakter bangsa. Ia menilai bahwa visi pendidikan Kartini jauh melampaui sekadar ruang kelas, karena bertujuan membentuk manusia yang sadar akan hak dan kewajibannya sebagai makhluk sosial.

Salah satu aspek penting yang harus dikembangkan melalui pendidikan, lanjutnya, adalah kemampuan berpikir mandiri atau critical thinking. Karakter Kartini yang berani mempertanyakan ketidakadilan harus ditanamkan sejak dini kepada peserta didik.

“Anak-anak harus dibiasakan berpikir kritis, berani bertanya, dan tidak sekadar menjadi pengikut zaman,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya pendidikan moral dan adab dalam proses pembelajaran. Menurutnya, kecerdasan intelektual tanpa diimbangi akhlak hanya akan melahirkan generasi yang kehilangan arah.

“Pendidikan tanpa karakter bisa melahirkan orang pintar, tetapi tidak bermoral. Sebaliknya, pendidikan berbasis nilai akan melahirkan generasi yang cerdas sekaligus berempati,” jelas perempuan kelahiran Lamongan, 18 Oktober 1970 ini

Selain pendidikan, Nur Inayati menilai bahwa keteladanan memiliki peran yang tidak kalah penting dalam membentuk karakter. Ia menyebut keteladanan sebagai “bahasa tanpa suara” yang mampu menanamkan nilai secara lebih efektif dibandingkan teori.

“Karakter tidak cukup diajarkan, tetapi harus dicontohkan,” ujarnya.

Menurutnya, lingkungan keluarga dan sekolah menjadi ruang utama dalam menanamkan keteladanan. Seorang guru yang disiplin dan penuh kasih, serta ibu yang tangguh dan literat, merupakan representasi nyata dari nilai-nilai Kartini dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks modern, ia menggarisbawahi tiga nilai utama dalam keteladanan, yakni integritas, ketangguhan, dan kepedulian. Integritas tercermin dari kejujuran dalam setiap tindakan, ketangguhan dari kemampuan menghadapi keterbatasan, dan kepedulian dari kesediaan membantu sesama.

“Keteladanan adalah fondasi yang menguatkan karakter, karena anak-anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar,” ungkap ibu empat putra putri ini

Lebih jauh, ia menekankan bahwa karakter Kartini bersifat dinamis, mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai luhur. Oleh karena itu, pendidikan saat ini harus mampu menjembatani kemajuan teknologi dengan kearifan lokal.

“Generasi masa kini harus modern secara pemikiran, tetapi tetap berakar pada nilai-nilai budaya dan akhlak,” kata penulis produktif ini

Nur Inayati juga mengingatkan bahwa membentuk karakter bukanlah proses instan, melainkan perjalanan panjang yang membutuhkan konsistensi. Pendidikan menyediakan alat, sementara keteladanan memberikan arah.
Ia mencontohkan, ketika seorang anak memilih jujur saat ujian, membela teman yang dirundung, atau tetap semangat belajar di tengah keterbatasan, di situlah semangat Kartini hidup kembali.

“Yang kita butuhkan bukan hanya orang yang mengenal Kartini, tetapi mereka yang menghidupi semangatnya,” tegas Sarjana Tarbiyah ini

Aktifis di pinggiran Bengawan Solo ini mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan pendidikan dan keteladanan sebagai investasi jangka panjang dalam membangun peradaban bangsa.

“Mari kita jadikan setiap ruang kelas sebagai laboratorium karakter, dan setiap tindakan kita sebagai cermin bagi generasi mendatang,” pungkasnya

Reporter Fathurrahim Syuhadi