LAMONGAN lintasjatimnews – Kartini masa kini tidak lagi sekadar simbol emansipasi, tetapi telah menjelma menjadi representasi nyata perempuan yang mampu memimpin, mengambil keputusan strategis, serta memberikan dampak luas bagi masyarakat. Semangat R.A. Kartini yang dahulu diperjuangkan melalui gagasan dan tulisan, kini hidup dalam bentuk aksi nyata perempuan di berbagai sektor kehidupan.
Perempuan hari ini hadir dalam ruang-ruang penting : politik, kesehatan, pendidikan, bisnis, hingga komunitas sosial. Mereka tidak hanya menjadi pelengkap, tetapi menjadi penggerak utama perubahan sosial. Namun demikian, perjalanan perempuan menuju ruang kepemimpinan masih dihadapkan pada berbagai tantangan yang tidak sederhana.
Dalam pandangan Kepala Dinas P3AKB Kabupaten Lamongan, Dr dr Aini Mas Idha, MMRS, perempuan masa kini berada dalam fase penting sejarah perubahan sosial. Ia menegaskan bahwa perjuangan Kartini tidak berhenti pada kesetaraan akses pendidikan, tetapi berkembang menjadi perjuangan kapasitas dan kepemimpinan.
“Kartini masa kini adalah perempuan yang berani mengambil ruang, namun tetap membawa nilai. Ia mampu menyeimbangkan antara ketegasan dan kepedulian, antara rasionalitas dan intuisi,” ujar Doktor lulusan Universitas Brawijaya Malang ini
Ia menambahkan bahwa tantangan perempuan modern tidak lagi hanya soal kesempatan, tetapi juga soal pembuktian kapasitas di tengah stereotip yang masih melekat di masyarakat. Kepemimpinan perempuan sering kali dipandang dengan bias, dianggap terlalu emosional atau kurang tegas, padahal justru kekuatan perempuan terletak pada empati, komunikasi, dan kolaborasi.
“Justru keunggulan perempuan ada pada kemampuan empati, komunikasi, dan kolaborasi. Tiga hal ini sangat dibutuhkan dalam model kepemimpinan modern,” tegas dokter lulusan Universitas Airlangga Surabaya ini
Lebih lanjut, Dr Aini Mas Idha menekankan bahwa perempuan tidak perlu meniru gaya kepemimpinan laki-laki untuk dianggap kuat. Sebaliknya, perempuan perlu mengoptimalkan pendekatan khas yang dimilikinya, yaitu kepemimpinan yang inklusif, partisipatif, dan berbasis nilai kemanusiaan.
Dalam konteks Kabupaten Lamongan, Dinas P3AKB terus mendorong penguatan peran perempuan melalui berbagai program pemberdayaan, perlindungan, serta peningkatan kapasitas. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa perempuan tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi juga subjek yang aktif dalam proses pengambilan keputusan.
Namun, ia juga tidak menutup mata terhadap realitas yang ada. Masih terdapat hambatan berupa bias gender, beban ganda peran domestik, hingga keterbatasan dukungan sistem yang sering kali menghambat langkah perempuan untuk berkembang.
“Oleh karena itu penting membangun ekosistem yang mendukung perempuan: kebijakan yang adil, kesempatan yang setara, serta budaya organisasi yang menghargai keberagaman,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa Kartini masa kini bukan hanya tentang perempuan yang berhasil mencapai posisi tinggi, tetapi juga tentang mereka yang membuka jalan bagi perempuan lain untuk ikut tumbuh dan maju.
Menurutnya, kepemimpinan perempuan bukan semata soal kekuasaan, melainkan tentang keberanian untuk membawa perubahan, memperjuangkan keadilan, dan menginspirasi generasi berikutnya.
“Semangat Kartini tidak pernah usang, ia hanya berubah bentuk. Dan hari ini, ia hidup dalam setiap perempuan yang berani bermimpi, bertindak, dan memimpin,” pungkasnya
Reporter Fathurrahim Syuhadi









