Kartini, Gen Z, dan Krisis Nalar di Era Digital

Listen to this article

SURABAYA lintasjatimnews – Sosok Raden Ajeng Kartini kembali menjadi refleksi penting dalam peringatan Hari Kartini. Tidak hanya sebagai simbol emansipasi perempuan, pemikiran Kartini kini menemukan relevansi baru di tengah dinamika kehidupan Generasi Z yang hidup dalam derasnya arus digitalisasi.

Dr. Suning, SE, MT dosen Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Adi Buana Surabaya mengungkapkan Kartini digambarkan sebagai pelopor peradaban yang menempatkan pendidikan sebagai fondasi utama kemajuan.
Ia menegaskan.

“Kartini mengajarkan kita bahwa perempuan bukan sekadar pelengkap bagi kaum laki-laki, tetapi sebagai penggerak peradaban.” ujar Pengurus LPCR PM PWM Jatim ini

Pernyataan ini memperlihatkan bagaimana Kartini tidak hanya berbicara tentang kesetaraan, tetapi juga tentang kualitas berpikir dan keberanian melawan batasan sosial.
Lebih jauh Suning mengaitkan gagasan Kartini dengan kondisi generasi masa kini.
Berdasarkan laporan UNESCO tahun 2021, transformasi digital telah membuka akses pendidikan secara luas, cepat, dan masif. Namun, kemudahan tersebut tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas nalar generasi muda.

“Pesatnya transformasi digital justru kerap melahirkan pola pikir yang instan dan dangkal,” ujar Dekan Fakultas Tehnik dan Sains ini

Ia melihat adanya paradoks di mana akses terhadap pengetahuan semakin terbuka, tetapi kedalaman pemahaman justru mengalami tantangan serius.
Fenomena ini juga sejalan dengan temuan OECD yang menekankan bahwa literasi digital tidak cukup hanya kemampuan membaca, melainkan juga memahami, mengevaluasi, dan menyaring informasi secara kritis. Tanpa kemampuan tersebut, Generasi Z rentan terhadap hoaks dan misinformasi yang semakin marak di ruang digital.

Suning menambahkan, “Keberlimpahan informasi tidak selalu diiringi kemampuan nalar untuk memverifikasi dan merefleksikan.”

Kondisi ini diperparah oleh karakter media sosial yang lebih mengedepankan kecepatan dan popularitas dibandingkan kedalaman isi.
Akibatnya, tekanan sosial di dunia digital turut memengaruhi cara berpikir generasi muda, mulai dari meningkatnya kecemasan, menurunnya konsentrasi, hingga kecenderungan membandingkan diri secara berlebihan dengan standar semu di media sosial.

Dalam perspektif lebih luas, kondisi ini disebut sebagai krisis nalar. Bahkan World Economic Forum pada 2023 menempatkan kemampuan berpikir kritis sebagai salah satu keterampilan utama abad ke-21.

“Tanpa nalar yang kuat, kemajuan teknologi justru berisiko mempercepat disinformasi dan degradasi kualitas diskursus publik,” tegas perempuan yang tinggal di Sidoarjo ini

Meski demikian, Generasi Z tetap memiliki potensi besar sebagai agen perubahan. Mereka adaptif terhadap teknologi, terbuka terhadap keberagaman, dan memiliki ruang luas untuk menyuarakan gagasan. Di sinilah nilai-nilai Kartini menjadi penting untuk dihidupkan kembali.

Kartini, menurut Dosen ahli tata kota dan pengembangan kawasan pesisir ini, tidak hanya belajar, tetapi juga merefleksikan dan menggugat realitas. Praktik inilah yang menjadi kebutuhan mendesak di era digital saat ini.

Sebagai penutup, ia menegaskan, “Peradaban sejati tidak diukur dari kecanggihan teknologi, melainkan dari kejernihan berpikir, keadilan sikap, dan tanggung jawab manusia. Tanpa itu, kemajuan tak lebih dari sekadar ilusi.”

Reporter Fathurrahim Syuhadi