LAMONGAN lintasjatimnews — Ada satu malam dalam sejarah umat manusia ketika langit seakan membuka pintunya dan menyapa bumi dengan cahaya petunjuk. Malam itu adalah malam ketika Al-Qur’an mulai diturunkan—sebuah peristiwa agung yang oleh umat Islam dikenal sebagai Nuzulul Qur’an. Setiap kali tanggal 17 Ramadhan tiba, umat Islam mengenangnya sebagai momentum turunnya kitab suci yang menjadi pedoman hidup sepanjang zaman. Peringatan Nuzulul Quran tahun ini bertepatan dengan tanggal 6 atau 7 Maret 2026.
Nuzulul Qur’an bukan sekadar catatan sejarah. Ia adalah kisah tentang bagaimana Allah menurunkan cahaya untuk menuntun manusia keluar dari gelapnya kebingungan menuju terang kebenaran.
Al-Qur’an sendiri menegaskan bahwa kitab suci ini diturunkan pada malam yang penuh kemuliaan. Allah berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam kemuliaan.” (QS. Al-Qadr: 1)
Dalam ayat lain disebutkan:
“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi.” (QS. Ad-Dukhan: 3)
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa turunnya Al-Qur’an terjadi melalui dua tahap besar. Pertama, Al-Qur’an diturunkan secara keseluruhan dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah di langit dunia pada malam Lailatul Qadar. Penjelasan ini diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Abbas dan disebutkan dalam berbagai kitab tafsir, di antaranya karya Imam Ibnu Katsir.
Setelah itu, Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad ﷺ melalui Malaikat Jibril selama kurang lebih dua puluh tiga tahun. Proses bertahap ini berlangsung mengikuti peristiwa dan kebutuhan umat, sehingga setiap ayat hadir sebagai jawaban, petunjuk, dan bimbingan dalam kehidupan.
Wahyu pertama turun ketika Nabi Muhammad ﷺ sedang berkhalwat di Gua Hira. Saat itu Malaikat Jibril datang membawa pesan langit yang sederhana tetapi sangat mendasar:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1)
Ayat pertama ini seakan menjadi deklarasi bahwa peradaban Islam dibangun di atas fondasi ilmu pengetahuan. Islam lahir dengan kata Iqra’—bacalah. Sebuah perintah yang menegaskan bahwa kemuliaan manusia dimulai dari pengetahuan dan kesadaran.
Lalu mengapa masyarakat Muslim di Indonesia memperingati Nuzulul Qur’an pada tanggal 17 Ramadhan?
Dalam tradisi keilmuan Islam, tanggal ini sering dihubungkan dengan peristiwa Perang Badar, yang terjadi pada 17 Ramadhan tahun kedua Hijriyah. Dalam Al-Qur’an, peristiwa tersebut disebut sebagai Yaumul Furqan—hari pembeda antara yang benar dan yang batil. Banyak ulama melihat bahwa momentum tersebut sangat berkaitan dengan kehadiran Al-Qur’an sebagai petunjuk yang membedakan antara kebenaran dan kesesatan.
Namun sesungguhnya, makna Nuzulul Qur’an tidak terletak pada tanggalnya semata. Yang jauh lebih penting adalah kesadaran bahwa Al-Qur’an hadir sebagai cahaya bagi kehidupan manusia.
Sejak diturunkan lebih dari empat belas abad yang lalu, Al-Qur’an telah mengubah wajah peradaban. Ia mengangkat masyarakat Arab yang sebelumnya terjebak dalam budaya jahiliyah menuju masyarakat yang menjunjung tinggi ilmu, keadilan, dan akhlak mulia. Dari gurun pasir yang sunyi, lahirlah peradaban yang menerangi dunia.
Inilah bukti bahwa Al-Qur’an bukan sekadar kitab untuk dibaca, tetapi pedoman untuk membangun kehidupan.
Karena itu, memperingati Nuzulul Qur’an semestinya tidak berhenti pada seremoni tahunan atau pengajian sesaat. Peringatan ini seharusnya menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri: sejauh mana Al-Qur’an benar-benar hadir dalam kehidupan kita?
Apakah ia hanya kita baca saat Ramadhan tiba?
Ataukah ia benar-benar menjadi kompas yang menuntun langkah kita setiap hari?
Al-Qur’an bukan hanya kitab tilawah, tetapi juga kitab kehidupan. Ia berbicara tentang keadilan, kejujuran, tanggung jawab, dan kasih sayang. Nilai-nilai inilah yang jika dihidupkan kembali akan membangun masyarakat yang beradab dan bermartabat.
Di tengah dunia yang sering dipenuhi kebisingan informasi dan kekeringan makna, Al-Qur’an tetap menjadi sumber ketenangan. Ia menuntun manusia untuk kembali mengenal dirinya, mengenal Tuhannya, dan memahami tujuan hidupnya.
Karena itu, setiap Ramadhan datang membawa pesan yang sama: mendekatlah kepada Al-Qur’an.
Membaca Al-Quran dengan hati yang terbuka.
Merenungkan ayat-ayat Al-Quran dengan pikiran yang jernih.
Dan menghidupkan tuntuannya dalam tindakan nyata.
Sesungguhnya, ketika Al-Qur’an benar-benar hidup di dalam hati manusia, saat itulah cahaya langit kembali menerangi bumi.
Dan Nuzulul Qur’an tidak lagi hanya menjadi peristiwa sejarah, tetapi menjadi peristiwa yang terus hidup dalam kehidupan umat manusia.
Kontributor : M. Said









