SURABAYA lintasjatimnews – Hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ada saat-saat penuh ketidaknyamanan, ujian, dan rasa sakit.
Namun, orang yang hidupnya terkendali bukanlah mereka yang bebas dari masalah. Melainkan yang mampu menghadapi kenyataan tanpa banyak mengeluh.
Mereka tidak melarikan diri dari kesulitan. Tidak marah ketika realitas tak sejalan dengan keinginan. Mereka tidak mencari pelarian instan dari rasa perih.
Justru mereka memilih untuk berdamai dengan keadaan, menghadapinya dengan hati yang lapang. Memaknai setiap tantangan sebagai bagian dari proses kehidupan.
Mereka memahami bahwa tidak semua hal yang terasa tidak nyaman berarti buruk. Justru, dalam ketidaknyamanan itu, ada pelajaran, penguatan, dan pendewasaan.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman dalam Al-Qur’an “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar (QS. Al-Baqarah: 155)
Rasa sakit, ketidaksesuaian, dan ujian hidup adalah keniscayaan. Tapi Allah Subhanahu wata’ala menjanjikan kabar gembira bagi mereka yang bersabar.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam juga bersabda “Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Dan itu tidak dimiliki kecuali oleh orang mukmin. Jika mendapat kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ditimpa kesusahan, ia bersabar, dan itu baik baginya. (HR. Muslim)
Orang-orang yang mampu mengelola ketidaknyamanan tanpa mengeluh berlebihan. Sejatinya sedang membentuk diri menjadi pribadi yang kuat. Mereka sadar bahwa kenyamanan bukanlah standar kebaikan.
Jalan menuju kebaikan seringkali penuh terjal dan tanjakan. Tapi seperti pendaki gunung, mereka paham bahwa puncak hanya bisa diraih oleh mereka yang berani melewati jalur terberat.
Hidup bukan tentang mencari yang mudah, tetapi menumbuhkan jiwa yang kuat. Berani tidak nyaman adalah tanda kedewasaan.
Menghadapi hidup apa adanya adalah bentuk keberanian. Maka, hadapilah hidup dengan sabar, syukur, dan ikhtiar tanpa henti.
“Jangan pernah menyerah hanya karena terasa berat. Ingat, beban yang berat hanya dipikul oleh mereka yang kuat. Firman Allah Subhanahu wata’ala tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (Q.S. Al-Baqarah: 286)
Ayat ini menegaskan bahwa setiap beban atau ujian yang diberikan Allah Subhanahu wata’ala sudah sesuai dengan kemampuan hamba-Nya. Maka, saat terasa berat, itu bukan untuk menghancurkan, tapi untuk menguatkan.
Dengan demikian, pernyataan tersebut sejatinya bersumber dari nilai keimanan bahwa kesulitan adalah tanda kepercayaan Allah Subhanahu wata’ala kepada hamba-Nya.
Penulis Fathurrahim Syuhadi









