SURABAYA lintasjatimnews – Banyak orang salah paham terhadap makna “menerima.” Dianggap sebagai bentuk kepasrahan, menyerah pada keadaan, atau bahkan putus asa. Padahal, menerima bukan berarti berhenti berusaha.
Justru, menerima adalah wujud keberanian dan kedewasaan. Ia adalah kemampuan untuk berdamai dengan kenyataan yang tak bisa diubah, sambil tetap berjuang dengan sebaik-baiknya pada hal-hal yang masih bisa diperbaiki.
Hidup ini penuh ketidakpastian. Kita bisa menyusun rencana, berusaha keras, berdoa tanpa henti namun tetap saja, tidak semua terjadi sesuai keinginan.
Dalam momen-momen itulah, kita diuji : Apakah kita akan mengutuk keadaan, atau menerima dengan hati lapang dan iman yang teguh ?
Allah Swt. Berfirman “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (QS. Al-Baqarah: 216)
Ayat ini menegaskan bahwa ada hikmah di balik setiap takdir, walau sering kali tak kasat mata. Menerima bukan bentuk kelemahan, melainkan bentuk kepercayaan penuh kepada kebijaksanaan Allah.
Kita mengakui keterbatasan diri dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Yang Maha Tahu.
Rasulullah Saw. juga bersabda “Ketahuilah, apa yang menimpamu tidak akan pernah meleset darimu, dan apa yang meleset darimu tidak akan pernah menimpamu. (HR. Tirmidzi)
Hadis ini mengajarkan kita bahwa semua yang terjadi dalam hidup sudah dalam genggaman takdir. Maka menerima adalah bagian dari iman, bukan alasan untuk menyerah.
Bayangkan seorang petani. Ia mencangkul tanah dengan penuh harap, menabur benih, menyiram setiap hari, menjaganya dari hama. Namun, ia tak bisa memastikan hasil panennya. Apakah musim akan bersahabat ?
Apakah hujan turun tepat waktu? Apakah hama akan menyerang? Ia tak tahu. Tapi ia tetap menanam.
Menerima adalah saat sang petani tetap bersyukur meski panennya kurang. Ia tidak menyerah, ia hanya percaya bahwa ada hikmah di balik setiap musim.
Begitu pula dalam hidup kita. Teruslah melangkah. Lakukan bagianmu sebaik-baiknya. Tapi jangan siksa dirimu karena hasil yang tak sesuai harapan. Tidak semua bisa kamu kontrol, dan itu bukan kesalahanmu.
Dengan menerima, kita membebaskan diri dari beban kekecewaan. Kita memilih untuk bersyukur daripada mengeluh. Kita percaya bahwa Tuhan tak akan menyiakan usaha, walau hasilnya tak selalu sesuai bayangan.
Maka, menerimalah, tanpa menyerah. Bersyukurlah, tanpa berhenti berjuang. Karena sejatinya, jiwa yang tenang adalah milik mereka yang percaya bahwa hidup adalah gabungan antara ikhtiar dan ridha.
Berjuanglah sepenuh jiwa, lalu serahkan hasilnya kepada Allah. Itulah kekuatan sejati. Menerima bukan kalah, tapi berserah. Bukan berhenti berusaha, tapi memahami bahwa hasil bukan urusan kita sepenuhnya.”
Penulis Fathurrahim Syuhadi









