Ketenangan Itu Bisa Ditemukan, Jika Kita Mau Mencarinya

Listen to this article

LAMONGAN lintasjatimnews.com – Berserah diri kepada Allah bukan tanda menyerah, tapi tanda bahwa kita yakin pada rencana-Nya yang lebih baik. Ketenangan bukan berarti hidup tanpa badai, tetapi hati yang damai meski badai itu masih berhembus.

Hidup ini tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginan kita. Ada harapan yang tidak terwujud, ada kehilangan yang menyakitkan, ada kegagalan yang menghancurkan semangat.

Namun, bukan berarti kita harus terus-menerus menderita atau terperangkap dalam kesedihan. Ketenangan itu bukan sesuatu yang mustahil. Ia bukan milik orang tertentu, tapi bisa ditemukan oleh siapa saja—asal mau mencarinya.

Ketenangan bukan berada di luar sana, dalam harta yang berlimpah atau status yang tinggi. Ia tidak berada dalam pujian orang lain atau pencapaian duniawi. Ketenangan lahir dari dalam diri, dari hati yang bersih, lapang, dan ikhlas menerima ketentuan-Nya.

Allah Swt. Berfirman “Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang (QS. Ar-Ra’d: 28)

Ayat ini menjadi kunci utama: ketenangan bukan hasil dari menghindari masalah, tetapi dari menghadirkan Allah dalam hati. Saat kita yakin bahwa segala takdir-Nya adalah yang terbaik, maka hati pun luluh dalam kepasrahan yang menenteramkan.

Berdamai dengan kenyataan hidup bukanlah bentuk kelemahan, tapi tanda kebijaksanaan. Bukan berarti berhenti berharap, tapi tahu dengan pasti kepada siapa kita harus menggantungkan harap.

Rasulullah Saw. Bersabda Sungguh mengagumkan perkara seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, dan itu pun baik baginya (HR. Muslim)

Inilah kekuatan sejati: saat hati mampu bersyukur dalam kelapangan dan bersabar dalam kesempitan. Ketika kita menjadikan ujian hidup sebagai sarana untuk lebih dekat dengan Allah, maka ketenangan itu akan perlahan hadir.

Kadang kita butuh berhenti sejenak. Menarik napas panjang, mengambil jeda, dan berkata pada diri sendiri: “Aku sedang belajar berdamai. Aku sedang tumbuh. Aku sedang dikuatkan.”

Dalam kehidupan yang penuh ketidakpastian, iman adalah jangkar ketenangan. Ia menjaga hati tetap kokoh meski dihantam gelombang ujian. Semoga tulisan ini menjadi pengingat lembut di tengah guncangan hidup.

Menemanimu dalam perjalanan menemukan ketenangan hakiki. Menuntunmu pulang, kepada jati dirimu—yang sabar, bersyukur, dan pasrah pada kehendak Allah.

“Dan siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka (QS. At-Talaq: 2–3)

Tenanglah, ketenangan itu ada. Ia tinggal kita temui dengan hati yang bersih dan jiwa yang kembali kepada-Nya.

Reporter Fathurrahim Syuhadi