LAMONGAN lintasjatimnews – Ramadhan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga. Lebih dari itu, ia adalah momentum pendidikan jiwa, ruang latihan spiritual untuk memenangkan perjuangan terbesar dalam hidup manusia: melawan diri sendiri. Dalam khazanah Islam, perjuangan ini dikenal sebagai jihadul akbar atau jihadun nafsi, yakni pergolakan batin melawan hawa nafsu, ego, amarah, dan kecenderungan buruk dalam diri.
Menurut Dr. Hj. Nurorun Mumtahanah, M.Pd.I., akademisi sekaligus pendakwah dan anggota Dewan Pendidikan Lamongan bahwa jihad melawan diri tidak terlihat oleh mata, tetapi dampaknya sangat nyata dalam kualitas akhlak seseorang.
“Musuh terbesar manusia bukanlah orang lain, melainkan hawa nafsunya sendiri. Ketika kita mampu mengendalikannya, saat itulah kita sedang memenangkan jihad yang sesungguhnya,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa dalam kehidupan ini tidak ada manusia yang layak dijadikan idola secara mutlak selain Nabi Muhammad adalah teladan utama dalam kesabaran, keteguhan iman, dan pengendalian diri. Adapun rasa kagum, lanjutnya, hendaknya diberikan kepada kedua orang tua serta para guru—mulai dari SD, SMP, SMA hingga guru ngaji—yang telah membimbing perkembangan ruh, hati, dan jiwa kita.
“Jangan terjebak mengagumi diri sendiri. Kekaguman yang berlebihan pada diri adalah kekaguman yang salah alamat. Yang perlu kita lakukan adalah bertanya: sudahkah saya berjuang melawan diri saya hari ini?” tutur Ketua Yayasan Yamuna Lamongan ini
Dalam kesempatan tersebut, ia memaparkan beberapa langkah konkret dalam melakukan jihadun nafsi.
Pertama, ta’awudz billah, yakni senantiasa memohon perlindungan kepada Allah dari godaan syaitan dan hawa nafsu. Kesadaran akan kelemahan diri akan menumbuhkan ketergantungan penuh kepada Allah.
Kedua, muroqobah, yakni meyakini bahwa Allah selalu mengawasi gerak-gerik manusia, baik lahir maupun batin. Kesadaran ini akan menjadi benteng moral yang menjaga perilaku.
Ketiga, mengendalikan amarah dan menghindari sikap reaktif. Amarah yang tidak terkendali sering kali menjadi sumber konflik dan penyesalan.
Keempat, mengelola konflik secara konstruktif, menjadikannya sebagai sarana pembelajaran dan pendewasaan diri, bukan ajang mempertajam perpecahan.
Kelima, istiqomah dalam tazkiyatun nafsi atau penyucian jiwa.
Proses ini dilakukan melalui refleksi diri, membaca dan mendengar nasihat, merenung, mengungkapkan perasaan dengan bijak, melakukan muhasabah (introspeksi), mujahadah (bersungguh-sungguh), serta kembali kepada Allah dengan taubat.
Ia juga mengingatkan pentingnya meninggalkan berbagai hijab atau penghalang hati, seperti rasa cemas berlebihan, labil, malas, menunda kebaikan, hingga terjebak dalam beban dunia tanpa sandaran spiritual.
“Setiap manusia pasti memiliki kekurangan. Namun di balik setiap ujian selalu ada potensi kebaikan yang bisa dioptimalkan. Jangan menghitung susahnya saja, ingat juga nikmat yang telah Allah berikan,” pesannya.
Dr. Nurorun menambahkan bahwa sikap mental lapang dada, yakin pada takdir Allah, tidak mudah mengeluh, serta memiliki daya tahan yang kuat adalah modal penting dalam menghadapi kehidupan.
Ramadhan, menurutnya, adalah waktu terbaik untuk melakukan reset jiwa.
“Kemenangan sejati bukanlah ketika kita mampu menundukkan orang lain, tetapi ketika kita mampu menundukkan hawa nafsu dalam diri,” tegasnya.
Ia berharap pesan ini menjadi pengingat bagi umat Islam untuk menjadikan Ramadhan sebagai sarana pembinaan karakter dan pemurnian hati.
Romadhon Kareem.
Reporter Fathurrahim Syuhadi








