MALANG lintasjatimnews – Ramadhan bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan madrasah kaderisasi yang menentukan kualitas masa depan gerakan. Demikian penegasan Ramanda Indra Santoso, Ketua Kwartir Daerah Hizbul Wathan Kota Malang, Sabtu (21/2/2026)
Ia mengingatkan bahwa Allah Swt telah menegaskan dalam QS. Al-Baqarah ayat 183 tentang kewajiban puasa agar manusia mencapai derajat takwa. “Tujuan puasa itu jelas: takwa. Dan takwa adalah fondasi utama pembentukan kader Hizbul Wathan,” ujarnya.
Jelas Ramanda Indra Hizbul Wathan sebagai bagian dari keluarga besar Muhammadiyah tidak boleh melahirkan kader yang biasa-biasa saja. Menurut Ramanda Indra, setiap Ramadhan harus menjadi momentum kenaikan kelas spiritual, moral, dan kepemimpinan. Kader tidak cukup aktif dalam kegiatan seremonial, tetapi harus mengalami pertumbuhan karakter.
Pertama, Ramanda Indra Santoso menegaskan bahwa puasa adalah latihan integritas. Ia mengutip sabda Rasulullah Saw yang diriwayatkan Bukhari tentang pentingnya meninggalkan dusta dan perbuatan tercela.
Puasa bukan sekadar menahan lapar, melainkan ujian kejujuran.
“Kader HW tidak boleh hanya kuat baris-berbaris tetapi lemah dalam amanah. Tidak boleh gagah di lapangan namun rapuh dalam komitmen,” tegasnya.
Ramadhan menguji karakter justru saat tidak ada yang melihat. Di situlah kualitas sejati seorang pandu terbentuk.
Kedua, perlu ditekankan bahwa puasa adalah sekolah kepemimpinan diri.
Mengutip hadis riwayat Bukhari dan Muslim tentang kuatnya orang yang mampu menahan amarah, Ramanda Indra menilai pengendalian diri adalah syarat utama pemimpin.
“Seorang kader harus mampu memimpin dirinya sebelum memimpin regunya,” katanya.
Jika emosi masih meledak-ledak, disiplin longgar, dan amanah disepelekan, maka nilai Ramadhan belum benar-benar dihayati.
Ketiga, harus dipahami bahwa Ramadhan adalah momentum militansi amal. Dalam QS. Al-Baqarah ayat 148, Allah memerintahkan umat Islam berlomba dalam kebaikan. Ramanda Indra menegaskan bahwa kader Hizbul Wathan harus menjadi pelopor amal sosial : menggerakkan bakti sosial, menghidupkan masjid, menjaga ketertiban kegiatan keagamaan, serta menjadi teladan akhlak di sekolah dan masyarakat.
“Kepanduan Islam bukan simbol, ia aksi nyata,” tandasnya.
Keempat, Ramanda Indra mengingatkan bahwa Ramadhan adalah bulan evaluasi diri. QS. Al-Hasyr ayat 18 memerintahkan setiap mukmin untuk bermuhasabah. Ramanda Indra mengajak kader bertanya : sudahkah janji pandu diwujudkan?
Sudahkah siap menjadi pemimpin, atau masih nyaman menjadi peserta ? Ramadhan adalah cermin kejujuran spiritual.
Akhirnya, Ramanda Indra menyerukan bahwa Ramadhan ini harus melahirkan kader yang lebih kokoh aqidahnya, lebih kuat karakternya, lebih disiplin gerakannya, dan lebih militan dalam kebaikan.
Mengutip QS. Ash-Shaff ayat 4 tentang barisan yang kokoh, ia menegaskan bahwa inilah spirit kepanduan Islam: barisan rapi, gerakan terarah, dan komitmen kuat.
“Ramadhan bukan akhir perjuangan, melainkan titik tolak kebangkitan kader,” pungkas Ramanda Indra Santoso.
Reporter Fathurrahim Syuhadi








