LAMONGAN lintasjatimnews – Bulan suci Ramadhan bukan sekadar rutinitas tahunan yang datang dan pergi. Ia adalah madrasah ruhaniyah, ruang pembinaan karakter, sekaligus momentum strategis untuk meneguhkan sikap dan perilaku keagamaan secara lebih mendalam. Bagi dunia pendidikan, Ramadhan menghadirkan peluang emas untuk memperkuat pembentukan generasi beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.
Sebagaimana ditegaskan oleh Muhammadiyah, pendidikan bukan hanya proses transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga transformasi nilai. Ramadhan menjadi wahana aktualisasi nilai-nilai keislaman dalam kehidupan nyata—mulai dari kejujuran, kedisiplinan, kesabaran, kepedulian sosial, hingga pengendalian diri. Puasa mengajarkan integritas; ketika tidak ada yang melihat, seorang muslim tetap menjaga amanah ibadahnya. Inilah fondasi karakter sejati.
Menyambut Ramadhan hendaknya dengan sikap gembira dan penuh suka cita. Kegembiraan ini bukan sekadar ekspresi emosional, tetapi wujud kesadaran bahwa kita dipertemukan kembali dengan bulan penuh ampunan dan keberkahan. Rasulullah SAW memberi teladan bagaimana menyambut Ramadhan dengan optimisme dan harapan besar akan rahmat Allah SWT.
Di lingkungan pendidikan Muhammadiyah, Ramadhan perlu dimaknai sebagai momentum penguatan pembinaan keagamaan yang sistematis dan terarah. Kegiatan seperti pesantren Ramadhan, tadarus Al-Qur’an, kajian keislaman, bakti sosial, hingga gerakan infaq dan sedekah bukan sekadar program seremonial, tetapi harus dirancang sebagai proses internalisasi nilai. Peserta didik tidak hanya mengetahui ajaran agama, melainkan mengalami dan membiasakan diri dalam praktik nyata.
Ramadhan juga mengajarkan empati sosial. Ketika menahan lapar dan dahaga, kita merasakan apa yang dialami saudara-saudara yang kekurangan. Dari sinilah tumbuh kepedulian, solidaritas, dan semangat berbagi. Pendidikan sejatinya tidak hanya mencetak generasi cerdas secara intelektual, tetapi juga peka terhadap persoalan sosial.
Lebih jauh, Ramadhan adalah momentum muhasabah—evaluasi diri. Dunia pendidikan pun perlu melakukan refleksi: sejauh mana proses pembelajaran telah membentuk karakter mulia? Sudahkah nilai-nilai keislaman terintegrasi dalam budaya sekolah? Apakah keteladanan guru dan pimpinan benar-benar menjadi inspirasi bagi peserta didik?
Sebagai Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PD Muhammadiyah Lamongan – saya, Muhammad Said – mengajak seluruh satuan pendidikan Muhammadiyah untuk menjadikan Ramadhan sebagai titik tolak penguatan budaya religius di sekolah. Mari kita sambut bulan suci ini dengan hati yang bersih, niat yang tulus, dan program pembinaan yang terencana. Jangan biarkan Ramadhan berlalu tanpa meninggalkan jejak perubahan dalam diri dan lembaga kita.
Ramadhan adalah kesempatan.
Ramadhan adalah pendidikan. Ramadhan adalah pembentuk karakter.
Semoga kita mampu memanfaatkan bulan mulia ini sebagai momentum memperdalam iman, memperindah akhlak, dan memperkuat komitmen dalam mencerdaskan kehidupan umat.
Marhaban ya Ramadhan. Sambutlah ia dengan gembira, jalani dengan penuh kesungguhan, dan akhiri dengan kemenangan yang hakiki.
Kontributor: M. Said








