MAKASAR lintasjatimnews – Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lamongan mengutus dua delegasi dalam Rakornas Majelis Pendidikan Dasar Menengah, dan Pendidikan Nonformal (PNF) Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang digelar pada 13–15 Februari 2026 di Hotel Four Points by Sheraton, Makasar.
Dua utusan tersebut yakni Wakil Ketua PDM Lamongan yang membidangi Majelis Dikdasmen dan PNF, Drs. Muhammad Anwar, M.Ag, serta Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Lamongan, Muhammad Said, S.Pd., M.Pd. Keduanya mengikuti rangkaian sidang komisi dan pleno bersama perwakilan Muhammadiyah dari seluruh Indonesia.
Rakornas yang diselenggarakan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini menjadi forum strategis dalam merumuskan arah kebijakan pendidikan Muhammadiyah ke depan, baik di tingkat dasar, menengah, maupun pendidikan nonformal.
Bahas Strategi SPMB hingga Pengembangan Talenta Unggul
Dalam sidang komisi, sejumlah isu strategis menjadi perhatian utama, antara lain:
• Komisi I: Strategi Peningkatan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB).
• Komisi II: Perlindungan dan Kesejahteraan Pendidik (Guru) dan Tenaga Kependidikan Sekolah/Madrasah Muhammadiyah.
• Komisi III: Rencana Strategis dan Pengembangan Program Pendidikan Nonformal 2026.
• Komisi IV: Monitoring, Evaluasi dan Rencana Tindak Lanjut.
• Komisi V: Penjaminan Mutu dan Strategi Pencapaian Sekolah/Madrasah Unggul.
• Komisi VI: Harmonisasi, Tata Kelola dan Regulasi Amal Usaha.
• Komisi VII: Strategi Pengembangan Talenta Unggul dan Peningkatan Daya Saing Lulusan Sekolah Muhammadiyah.
Seluruh komisi menekankan pentingnya tata kelola profesional, penguatan mutu, serta keberlanjutan program untuk menjawab tantangan global dan kompetisi pendidikan yang semakin ketat.
Pembukaan Rakornas dihadiri Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, beserta para Direktur Jenderal, staf ahli, dan staf khusus kementerian. Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama turut menjadi narasumber kegiatan melalui sambungan Zoom.

Dalam sambutannya, Prof. Abdul Mu’ti menyampaikan gagasan strategis mengenai masa depan sekolah Muhammadiyah melalui konsep Segmentasi “Quraisy.”
Menurut Prof. Mu’ti, Muhammadiyah tidak hanya perlu melayani segmen masyarakat akar rumput, tetapi juga mulai menyasar kelompok menengah ke atas yang memiliki pengaruh besar dalam struktur sosial.
Istilah “Quraisy” digunakan sebagai analogi kaum terpandang pada masa Nabi yang memiliki kekuatan finansial, jaringan luas, dan kapasitas intelektual tinggi.
“Kita harus punya sekolah yang fasilitas dan kurikulumnya membuat orang-orang hebat ingin menyekolahkan anaknya di Muhammadiyah,” tegasnya.
Strategi ini, lanjutnya, bukan untuk menjadikan sekolah Muhammadiyah eksklusif, melainkan untuk memperkuat kemandirian ekonomi persyarikatan serta memperluas jangkauan dakwah di level strategis.
Salah satu target utama segmentasi tersebut adalah kelompok wali murid yang disebut dengan istilah MUKIDI, yakni:
• Muda: Energik dan adaptif terhadap perubahan zaman.
• Kaya: Memiliki kemandirian finansial dan mampu mendukung ekosistem pendidikan.
• Intelektual: Menjunjung rasionalitas, sains, dan literasi tinggi.
• Dinamis/Ideal: Berorientasi pada perubahan sosial yang progresif.
• Integritas: Menjaga nilai moral dan kejujuran sebagai prinsip utama.
Melalui perpaduan Segmentasi Quraisy dan penguatan fasilitas pendidikan yang unggul, Muhammadiyah diharapkan mampu melahirkan generasi pemimpin masa depan yang kompeten secara profesional sekaligus kokoh secara ideologis.
Bagi PDM Lamongan, keikutsertaan dalam Rakornas ini menjadi momentum penting untuk menyelaraskan kebijakan daerah dengan arah strategis nasional, sekaligus memperkuat komitmen menghadirkan sekolah/madrasah Muhammadiyah yang unggul, berdaya saing, dan berkemajuan.
Kontributor: M. Said








