PMB sebagai Ajang Menjalin Silaturrahim : Menjemput Mahasiswa Baru dengan Hati dan Harapan

Listen to this article

LAMONGAN lintasjatimnews – Setiap awal tahun akademik selalu menghadirkan suasana yang berbeda di lingkungan STIT Muhammadiyah Paciran. Langkah-langkah penuh semangat para calon mahasiswa mulai memenuhi halaman kampus, wajah-wajah muda memancarkan harapan, dan doa-doa terbaik dipanjatkan oleh orang tua yang mengantar putra-putrinya menapaki jenjang pendidikan tinggi. Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) pun tidak sekadar menjadi proses administratif, melainkan momentum silaturrahim yang sarat makna.

Mengusung semangat “PMB sebagai Ajang Menjalin Silaturrahim: Menjemput Mahasiswa Baru dengan Hati dan Harapan,” kampus menegaskan bahwa penerimaan mahasiswa bukan sekadar proses seleksi dan registrasi. Ia adalah jembatan hati yang menghubungkan cita-cita generasi muda dengan visi besar institusi pendidikan.
Ketua STIT Muhammadiyah Paciran, Layyinnati, menegaskan bahwa PMB harus dimaknai sebagai gerakan menyambut, bukan sekadar menerima.

“Kami tidak ingin PMB hanya berhenti pada angka dan data administrasi. Kami ingin menyambut mereka dengan senyum tulus dan tangan terbuka. Setiap mahasiswa baru adalah amanah. Di pundak merekalah masa depan umat dan bangsa dititipkan,” ujarnya

Menurutnya, kampus harus menjadi rumah bertumbuh, bukan hanya tempat menuntut ilmu. “Mahasiswa yang datang ke sini bukan sekadar mencari gelar, tetapi juga membangun karakter dan jati diri,” tambahnya.

Wakil Ketua I, Maftuhah, M.Pd., melihat PMB sebagai proses awal pembinaan karakter. Ia menekankan pentingnya membangun kedekatan emosional sejak hari pertama.

“Mahasiswa datang membawa potensi. Tugas kitalah membantu mereka menemukan cahaya terbaik dalam dirinya. Jika sejak awal terbangun silaturrahim yang kuat, perjalanan akademik mereka akan lebih bermakna,” ungkapnya.

Sementara itu, Wakil Ketua II, Himmatul Husniyah, M.Pd., mengingatkan bahwa pelayanan adalah wajah pertama kampus. Menurutnya, sistem yang tertata rapi, informasi yang transparan, serta sikap ramah seluruh panitia menjadi kunci tumbuhnya kepercayaan calon mahasiswa dan keluarga.

“Kesan pertama sangat menentukan. Dari pelayanan yang baik, lahirlah keyakinan bahwa kampus ini layak menjadi tempat belajar dan bertumbuh,” jelasnya.

Di bidang kemahasiswaan, Wakil Ketua III, Suntari, M.Pd., menekankan pentingnya menghadirkan atmosfer kekeluargaan dalam seluruh rangkaian PMB.

“Mahasiswa baru harus merasa diterima sebagai bagian dari keluarga besar STIT Muhammadiyah Paciran. Mereka bukan tamu, tetapi saudara yang pulang ke rumahnya sendiri,” tuturnya.

Perspektif mutu dan pengabdian turut disampaikan Ketua LPM & LP2M, Suharsono, M.Pd. Ia memandang bahwa silaturrahim yang dibangun sejak awal akan berdampak pada kualitas proses pendidikan.

“Ketika mahasiswa merasa dihargai dan diperhatikan, mereka akan tumbuh menjadi insan akademik yang bukan hanya cerdas, tetapi juga berintegritas dan peduli terhadap masyarakat,” tegasnya.

PMB di STIT Muhammadiyah Paciran menjadi peristiwa spiritual sekaligus sosial. Nilai-nilai Islam dan budaya akademik berpadu dalam harmoni, menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna. Tidak hanya menyambut mahasiswa dengan prosedur resmi, tetapi juga dengan doa, komitmen, dan visi besar mencetak generasi berilmu serta berakhlak mulia.

Dengan semangat kebersamaan tersebut, PMB diharapkan menjadi gerakan hati—gerakan untuk merangkul, membimbing, dan membersamai setiap mahasiswa baru. Karena sejatinya, setiap langkah awal adalah benih masa depan.
Dan di STIT Muhammadiyah Paciran, setiap benih itu dirawat dengan silaturrahim, disinari dengan ilmu, serta diarahkan menuju masa depan yang penuh keberkahan.

Reporter Fathurrahim Syuhadi