AYAPURA lintasjatimnews.com – Menjadi guru adalah amanah yang tidak ringan. Di hadapan kita berdiri murid-murid dengan usia yang beragam—ada yang masih anak-anak, remaja, bahkan sudah beranjak dewasa. Namun satu hal yang harus selalu kita jaga bersama adalah adab dan batasan dalam mendidik, khususnya dalam interaksi fisik dengan murid lawan jenis yang bukan mahram.
“Niat baik tidak boleh menghalalkan cara yang melanggar adab dan batas syariat.” Kalimat ini perlu kita tanamkan dalam-dalam, agar dunia pendidikan tetap menjadi ruang yang aman, bersih, dan bermartabat. Demikian disampaikan Ratih Amalia Lestari, S.Pd., M.Pd. seorang ustadzah dan pendidik yang tinggal di Jayapura
Lanjutnya, kita tidak dibenarkan menyentuh atau mencium murid lawan jenis, dalam kondisi apa pun, meskipun dengan alasan kasih sayang atau kedekatan emosional. Bukan karena guru kehilangan rasa cinta, tetapi karena cinta dalam pendidikan harus disalurkan melalui cara yang tepat dan bertanggung jawab. Pendidikan yang sehat adalah pendidikan yang menjaga kehormatan semua pihak.
“Keberkahan guru tidak terletak pada sentuhan fisik, melainkan pada ketulusan hati. Doa guru adalah sentuhan paling kuat yang tidak terlihat, tetapi dampaknya nyata. Ketika guru mendoakan murid-muridnya dengan ikhlas, keberkahan itu akan mengalir jauh melampaui ruang kelas,” ujar alumni Magister dari Unussula ini
Memberikan makanan kepada murid di kelas dengan niat berbagi, mengajak mereka mengaji
bersama, membaca doa sebelum belajar, membimbing hafalan doa atau ayat-ayat pendek—semua itu adalah bentuk kasih sayang yang bersih dan penuh nilai. Bahkan kebersamaan sederhana seperti mengaji ramai-ramai di kelas sudah cukup menjadi wasilah turunnya keberkahan.
“Pendidikan tidak selalu tentang metode yang rumit, tetapi tentang niat yang lurus dan hati yang bersih,” tegas Ratih Amalia Lestari
Guru yang menghadirkan ketenangan, rasa aman, dan keteladanan akan lebih dikenang daripada guru yang hanya dekat secara fisik.
Sudah saatnya kita menormalisasikan pendidikan bersih. Pendidikan yang tidak memberi ruang bagi pikiran-pikiran yang menyimpang, pendidikan yang menjunjung tinggi etika, dan pendidikan yang menumbuhkan rasa saling menghormati. Guru bukan hanya pengajar, tetapi penjaga nilai dan moral generasi.
“Mari kita mulai pagi ini dengan meluruskan niat. Menjadi guru dengan hati yang suci, pikiran yang jernih, dan tindakan yang terjaga. “Dari guru yang bersih hatinya, lahirlah murid yang kuat akhlaknya,” pungkasnya
Reporter : Fathurrahim Syuhadi








