Menjahit Cahaya di Ambang Fajar : Refleksi Maftuhah, M.Pd. tentang Persiapan Diri Menyambut Ramadhan

Listen to this article

LAMONGAN lintasjatimnews – Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, refleksi tentang kesiapan diri kembali mengemuka. Ramadhan tidak sekadar dipahami sebagai pergantian bulan dalam kalender hijriah, tetapi sebagai momentum spiritual untuk menata ulang orientasi hidup.

Hal ini disampaikan oleh Maftuhah, M.Pd dosen STIT Muhammadiyah Paciran, dalam refleksi bertajuk “Menjahit Cahaya di Ambang Fajar: Menyambut Ramadhan dengan Diri yang Dipersiapkan.”

Menurut Maftuhah, Ramadhan selalu hadir dengan cara yang lembut, namun memiliki daya getar yang kuat bagi batin manusia. “Ramadhan itu seperti angin yang pelan, nyaris tak terdengar, tetapi mampu mengguncang ruang terdalam jiwa. Ia datang bukan hanya membawa kewajiban ibadah, melainkan undangan untuk pulang kepada diri, makna, dan Tuhan,” ungkapnya

Ia menilai, selama ini persiapan Ramadhan sering kali lebih menonjol pada aspek lahiriah. Membersihkan rumah, menyiapkan jadwal sahur dan berbuka, hingga menyusun menu makanan menjadi rutinitas yang berulang setiap tahun. Namun, menurutnya, semua itu belum cukup jika tidak diiringi kesiapan batin.

“Tanpa kesiapan hati, Ramadhan bisa berlalu hanya sebagai rutinitas tahunan. Puasa dijalankan, tarawih ditunaikan, tetapi jiwa tetap kering dan lelah,” jelas Maftuhah.

Lebih jauh, dosen yang aktif dalam kajian pendidikan Islam ini menegaskan bahwa puasa sejatinya adalah latihan kejujuran dan pengendalian diri.

“Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah cermin kejujuran. Saat tidak ada yang melihat kecuali Allah, di situlah kita belajar mengendalikan hasrat paling dasar dan mengenali diri kita yang sesungguhnya,” ujar kandidat Doktor dari UMM ini

Maftuhah juga menekankan pentingnya Ramadhan sebagai bulan rekonsiliasi. Ia menyebut bahwa banyak manusia menjalani hidup dengan memikul beban luka, dendam, dan kekecewaan yang tak pernah diselesaikan.

“Ramadhan mengajarkan kita untuk berdamai dengan masa lalu, dengan orang lain, dan dengan diri sendiri. Memaafkan bukan tanda kalah, tetapi cara membebaskan jiwa,” tegas dosen yang humble ini.

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan bising, Ramadhan, menurut Maftuhah, justru menawarkan ruang keheningan yang menyembuhkan. Ia mengajak umat Islam untuk kembali membangun kedekatan dengan Al-Qur’an.

“Membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan bukan soal mengejar khatam, tetapi memberi kesempatan pada ayat-ayat Allah untuk menyentuh, menegur, dan menuntun jiwa dengan cahaya,” ujar ibu satu putra ini

Selain dimensi spiritual personal, Ramadhan juga memiliki dimensi sosial yang kuat. Rasa lapar yang dialami saat berpuasa, lanjut Maftuhah, seharusnya menumbuhkan empati dan kepedulian terhadap sesama.

“Zakat, infak, dan sedekah bukan sekadar kewajiban, tetapi ekspresi cinta dan solidaritas. Persiapan Ramadhan juga berarti menyiapkan diri untuk berbagi, bukan hanya harta, tetapi juga perhatian dan kepedulian,” tegas Wakil Ketua STIT Muhammadiyah Paciran ini

Menutup refleksinya, Maftuhah menegaskan bahwa Ramadhan bukan tentang kesempurnaan, melainkan tentang proses menjadi lebih baik.

“Jika Ramadhan adalah cahaya, maka persiapan kitalah yang menentukan seberapa terang cahaya itu menerangi hidup. Semoga saat fajar pertama Ramadhan menyingsing, kita telah menjahit cahaya itu dalam diri berpuasa bukan hanya dengan tubuh, tetapi dengan jiwa yang terjaga,” pungkasnya.

Reporter Fathurrahim Syuhadi