SURABAYA lintasjatimnews – Ada perasaan manusiawi yang tak bisa kita sangkal: ingin mendekap erat orang-orang yang kita sayang, ingin memiliki sesuatu dengan utuh dan selamanya. Namun hidup selalu mengajarkan satu pelajaran yang sama—tak ada yang benar-benar abadi di dunia ini.
Semua yang bertemu, pada waktunya akan berpisah. Semua yang dimiliki, suatu hari akan terlepas. Yang tersisa hanyalah kenangan, jejak rasa, dan pelajaran yang diam-diam membentuk kedewasaan jiwa.
Al-Qur’an dengan jujur menuntun manusia untuk menyadari hakikat perubahan itu. Allah SWT berfirman, “Kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu suatu hal (ketentuan) yang baru.” (QS. Ath-Thalaq: 1).
Ayat ini menegaskan bahwa hidup bukan garis lurus yang dapat kita kendalikan sepenuhnya. Ada bab-bab yang ditutup, ada halaman yang dibuka, sering kali tanpa kita minta. Namun di balik setiap perubahan, selalu ada hikmah yang sedang disiapkan Allah.
Perpisahan sering melukai hati, sementara pertemuan kerap membuat kita lupa diri. Padahal Rasulullah Saw telah mengingatkan tentang pentingnya menjaga keseimbangan perasaan.
Dalam sebuah hadis disebutkan, “Cintailah orang yang kamu cintai sewajarnya saja, boleh jadi suatu hari ia akan menjadi orang yang kamu benci. Dan bencilah orang yang kamu benci sewajarnya saja, boleh jadi suatu hari ia akan menjadi orang yang kamu cintai.” (HR. Tirmidzi).
Hadis ini bukan mengajarkan dingin dalam mencinta, tetapi mengajak kita untuk tidak menggantungkan hati secara berlebihan pada makhluk.
Para ulama pun banyak menasihatkan hal serupa. Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa sumber kegelisahan manusia adalah keterikatan berlebih pada dunia yang sifatnya fana.
Ketika hati terlalu melekat pada sesuatu selain Allah, maka kehilangan akan terasa sebagai kehancuran. Padahal dunia, menurut beliau, hanyalah jembatan, bukan tempat tinggal. Kita melintas, bukan menetap.
Kehidupan berjalan seperti musim: ada saatnya tumbuh dan berbunga, ada masa gugur dan layu. Ada pertemuan yang menghangatkan, ada perpisahan yang menguatkan. Semua terjadi atas kehendak-Nya.
Allah Swt berfirman, “Tiada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya.” (QS. Al-Hadid: 22).
Ayat ini mengajarkan ketenangan: apa pun yang datang dan pergi bukan kebetulan, melainkan bagian dari rencana Ilahi.
Karena itu, jangan terlalu larut dalam kesedihan ketika berpisah, dan jangan pula terlampau mabuk saat bertemu kembali. Jagalah hati agar tetap tertambat pada Allah. Dialah satu-satunya Yang Maha Kekal, ketika semua yang lain berubah dan berlalu.
Ibn Atha’illah As-Sakandari dalam Al-Hikam menasihatkan, “Jangan heran bila keadaan dunia tidak sesuai dengan harapanmu, karena ia memang diciptakan untuk berubah.”
Maka, nikmatilah setiap pertemuan dengan syukur, dan hadapilah setiap perpisahan dengan sabar. Maksimalkan setiap inci kehidupan dengan kebaikan, cinta yang sehat, dan amal yang ikhlas.
Sebab pada akhirnya, yang benar-benar tinggal bukan siapa yang kita genggam, melainkan apa yang kita tanam untuk Allah.
Penulis: Fathurrahim Syuhadi








