SURABAYA lintasjatimnew – Setelah Al-Qur’an diturunkan, tidak ada lagi kabut yang menyelimuti tujuan hidup manusia. Kitab suci ini datang menjelaskan apa yang Allah kehendaki dari hamba-Nya, jalan yang mendatangkan ridha-Nya, serta jalan yang mengundang murka-Nya.
Allah berfirman “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.”(QS. Al-Baqarah: 2)
Petunjuk itu begitu terang. Namun manusia, dalam merespons cahaya Al-Qur’an, terbagi ke dalam beberapa kelompok. Al-Qur’an sendiri mengisyaratkan pembagian ini dalam firman-Nya
“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami; lalu di antara mereka ada yang menzalimi dirinya sendiri, ada yang pertengahan, dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah.”
(QS. Fathir: 32)
Kelompok pertama adalah mereka yang menzalimi diri sendiri. Mereka tahu mana yang wajib, tetapi sering disia-siakan. Mereka paham mana yang dosa, namun tetap dilakukan dengan ringan. Bukan karena tidak tahu, melainkan karena kalah oleh hawa nafsu.
Inilah kerugian yang paling nyata, sebagaimana peringatan Nabi Saw “Setiap umatku akan diampuni kecuali orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Kelompok kedua adalah golongan pertengahan. Mereka melaksanakan kewajiban dengan baik, namun amalan sunnah belum menjadi kebiasaan. Dosa besar dijauhi, tetapi dosa kecil masih sering terjadi karena kelalaian. Mereka selamat, namun belum berlari kencang.
Imam Al-Ghazali mengingatkan, “Orang yang merasa cukup dengan amal wajib, sesungguhnya ia aman dari siksa, tetapi belum tentu layak untuk kemuliaan.”
Kelompok ketiga adalah golongan yang berlomba dalam kebaikan. Inilah para juara kehidupan. Mereka menunaikan kewajiban dengan sempurna, lalu memperkaya diri dengan amalan sunnah.
Dosa besar jauh dari mereka, dan dosa kecil pun dijaga dengan kehati-hatian. Kesibukan mereka dalam kebaikan membuat keburukan kehilangan daya tarik. Hasan Al-Bashri berkata, “Jika nafsu disibukkan dengan ketaatan, ia tak sempat mengajak pada maksiat.”
Kehidupan dunia sejatinya adalah arena perlombaan. Allah menegaskan “Berlomba-lombalah dalam kebaikan. (QS. Al-Baqarah: 148)
Ada yang sadar sedang berlomba, lalu berlari sekuat tenaga hingga garis finis kematian, dan ia berbahagia sebagai pemenang. Ada yang terlambat menyadari, lalu menangis kecewa karena kalah. Bahkan ada pula yang tidak tahu bahwa hidup ini perlombaan, sehingga saat mencapai finis kematian, ia histeris dalam penyesalan.
Ibarat makanan, ada orang yang makan sekadar agar tubuhnya bertahan. Namun ada pula yang memilih nutrisi terbaik demi kekuatan dan prestasi. Begitulah amal. Ada yang sekadar “cukup”, ada yang ingin menjadi juara.
Maka bersiaplah selalu untuk menjadi juara. Sadarilah bahwa kita sedang berlomba. Agar di akhir perjalanan, penyesalan tidak lagi membungkus duka dan kecewa. Karena semua pasti akan mencapai garis finis.
Dan hanya mereka yang berlomba dalam kebaikan yang akan menyambutnya dengan senyum kemenangan. Fastabiqul khoirot
Penulis Fathurrahim Syuhadi








